Opini  

Aktivis Musiman Tumbuh di Era SBS–HMS, Aktivisme atau Frustrasi Politik?

Screenshot 2025 09 06 08 37 06 39 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 2249934473

RaebesiNews.com – Sejak 20 Februari 2025, ketika Stefanus Bria Seran (SBS) dan Henri Melki Simu (HMS) dilantik memimpin Kabupaten Malaka, sebuah fenomena baru bermunculan: demonstrasi hampir tiap bulan. Kelompok-kelompok yang menyebut diri “aktivis” tiba-tiba ramai menggelar aksi, seolah Malaka sedang berada dalam situasi darurat.

Namun publik justru heran. Mereka ini seperti jamur di musim hujan, tumbuh mendadak, subur sesaat, lalu layu tak berbekas. Setelah satu-dua hari berteriak di jalan, spanduk dilipat, toa disimpan, dan isu pun hilang dari peredaran. Tidak ada follow-up, tidak ada konsistensi, apalagi visi jelas.

Diam di Era Sebelumnya, Ramai di Era SBS–HMS

Yang membuat publik makin heran: di era pemerintahan sebelumnya, suara-suara ini tak pernah terdengar. Proyek mangkrak? Diam. Rumah sakit terbengkalai? Sunyi. Jalan hancur dan jembatan rusak? Mereka memilih bungkam. Bahkan sebagian dari mereka justru nyaman berada di lingkaran kuasa kala itu, menikmati manisnya relasi, menutup mata atas penderitaan rakyat.

Kini, saat SBS–HMS baru bekerja beberapa bulan, mereka tiba-tiba jadi “pembela rakyat”. Ironi ini terlalu telanjang untuk ditutupi. Lantas, apakah yang mereka perjuangkan murni aspirasi rakyat, atau sekadar luapan frustrasi politik karena kehilangan panggung?

Aktivis Kalah Politik

Mari kita bicara jujur. Banyak wajah yang kini lantang di jalan adalah mereka yang dulunya berada di bawah ketiak kekuasaan lama. Kini, setelah kursi berpindah, mereka gelisah. Kekuasaan yang dulu mereka nikmati hilang, akses terhadap proyek dan privilese terputus. Maka lahirlah “aktivisme musiman”: gerakan yang lebih mirip pelarian ketimbang perjuangan.

Aktivisme model ini rapuh sejak lahir. Ia tidak berakar pada realitas rakyat, melainkan pada dendam politik. Ia tidak digerakkan oleh nurani, melainkan oleh frustrasi. Dan aktivisme macam ini hanya akan melahirkan kegaduhan, bukan perubahan.

Rakyat Bukan Penonton Bisu

Kesalahan terbesar para “aktivis musiman” ini adalah menganggap rakyat Malaka sebagai penonton yang mudah digiring. Padahal, rakyat menyimpan memori yang panjang. Mereka tahu siapa yang dulu diam seribu bahasa ketika Malaka terpuruk, dan siapa yang benar-benar konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat di setiap rezim.

Rakyat juga tahu, siapa yang berteriak demi rakyat, dan siapa yang berteriak demi jatah proyek. Siapa yang murni mengkritik, dan siapa yang menjadikan kritik sebagai alat tawar-menawar politik.

Aktivisme Sejati Itu Berakar

Malaka butuh aktivis sejati. Mereka yang berakar pada penderitaan rakyat, bukan pada kepentingan elit. Aktivis sejati hadir bukan hanya di jalan, tetapi juga di sawah ketika petani butuh suara, di sekolah ketika anak-anak kekurangan fasilitas, di rumah sakit ketika pelayanan kesehatan tersendat. Mereka konsisten, tidak tergantung siapa yang berkuasa.

Aktivis sejati akan mengkritik bahkan ketika pemerintah yang berkuasa adalah sahabatnya sendiri, jika memang kebijakan itu menyimpang. Sebaliknya, mereka akan memberi dukungan jika kebijakan yang lahir berpihak pada rakyat.

Aktivisme atau Frustrasi Politik?

Fenomena maraknya demo di era SBS–HMS ini harus dibaca dengan jernih. Kritik itu perlu, bahkan vital. Tetapi kritik yang lahir dari dendam politik sama saja dengan racun yang merusak demokrasi. Aktivisme yang dijalankan tanpa kejujuran adalah penghianatan terhadap rakyat yang mereka klaim bela.

Karena itu, publik Malaka pantas bertanya: ini aktivisme, atau frustrasi politik yang dibungkus spanduk?

Rakyat Tidak Bisa Ditipu Dua Kali

SBS–HMS tidak sempurna. Kritik tetap harus ada. Namun, kritik yang tulus akan memperkuat pemerintah, sementara kritik yang lahir dari sakit hati hanya akan mempermalukan si pengkritik itu sendiri.

Rakyat Malaka tidak mudah dibodohi. Mereka tahu mana aktivis sejati, dan mana aktivis musiman yang hanya mencari panggung. Dan satu hal pasti: sejarah tidak pernah memberi ruang bagi aktivisme palsu. Ia akan layu sebelum berkembang, sama seperti jamur yang tumbuh di musim hujan lalu lenyap disapu panas matahari sore.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *