RAEBESINEWS.COM – Di era digital ini, dunia seolah berubah menjadi etalase raksasa. Segalanya diukur dari tampilan: seberapa menarik foto diunggah, seberapa keren pakaian dikenakan, seberapa “terlihat berhasil” seseorang di media sosial. Anak muda hidup dalam realitas di mana penampilan menjadi bahasa utama eksistensi. Di sinilah kapitalisme gaya hidup bekerja paling halus bukan lagi sekadar menjual barang, melainkan menjual identitas, makna, dan pengakuan sosial.
Ketika Konsumsi Menjadi Tolok Ukur Nilai Diri
Kapitalisme gaya hidup memutarbalikkan makna kebutuhan. Barang tak lagi sekadar benda fungsional, tetapi simbol status dan keberhasilan. Sepatu bermerek, gawai terbaru, hingga kopi dari waralaba terkenal menjadi penanda “sudah sukses”. Ide besar di baliknya sederhana namun berbahaya: bahwa kebahagiaan bisa dibeli, dan eksistensi hanya nyata bila diakui melalui konsumsi.
Baca Juga: Ketika Simon Nahak Datang Bawa Mie dan Telur, SBS–HMS Datang Bangun Tanggul untuk Rakyat
Maka tidak mengherankan bila banyak anak muda merasa tertekan untuk selalu mengikuti tren. Tidak tampil “kekinian” bisa berarti ketinggalan zaman, bahkan kehilangan tempat dalam pergaulan. Identitas diri pun bergeser: bukan lagi soal siapa kita, melainkan bagaimana kita terlihat.
Citra Digital dan Ilusi Kebebasan
Di media sosial, setiap unggahan bukan sekadar dokumentasi, tetapi pertunjukan. Setiap foto, setiap “story”, adalah bentuk kurasi diri—upaya terus-menerus untuk menampilkan versi ideal yang diterima publik. Yang mampu menampilkan gaya hidup modern dianggap berhasil; yang sederhana sering kali luput dari sorotan.
Ironinya, sistem ini menanamkan ilusi kebebasan yang justru membelenggu. Anak muda merasa punya kendali atas pilihan gaya hidupnya, padahal arah dan seleranya dibentuk oleh pasar, iklan, dan algoritma. Di balik layar ponsel, mereka sesungguhnya sedang dikendalikan oleh sistem yang tahu betul bagaimana memanfaatkan rasa takut: takut tertinggal, takut tidak diakui.
Baca Juga: Anak Kampung Ukir Sejarah Nasional, HMS Bangga PS Malaka U-15 Sabet Juara 2 Piala Presiden
Bahkan demi “terlihat cukup”, banyak yang rela berutang atau bekerja tanpa henti untuk membeli hal-hal yang sebenarnya tak mereka butuhkan. Kapitalisme gaya hidup membuat orang terus berlari tanpa tahu apa yang dikejar.
Ketimpangan Baru dan Krisis Makna
Fenomena ini menimbulkan bentuk ketimpangan baru. Mereka yang mampu membeli simbol-simbol prestise dianggap lebih berhasil, sementara yang tidak, perlahan tersingkir dari lingkaran sosial. Budaya membandingkan diri tumbuh subur—menjadi penyakit sosial yang pelan-pelan merusak rasa percaya diri generasi muda.
Lebih jauh, kapitalisme gaya hidup mengikis nilai-nilai kebersahajaan dan solidaritas. Dalam obsesi untuk terlihat “sempurna”, kepedulian sosial sering kali dikesampingkan. Semangat kolektif berubah menjadi individualisme ekstrem. Akibatnya, banyak yang tampak berhasil di mata publik, namun sesungguhnya kosong di dalam diri—sebuah keberhasilan yang rapuh dan semu.
Perlawanan Melalui Kesadaran
Namun tidak semua anak muda tunduk pada arus ini. Di tengah derasnya budaya konsumtif, tumbuh kesadaran baru tentang pentingnya hidup autentik dan berkelanjutan. Ada yang memilih membeli produk lokal, mengurangi konsumsi berlebihan, atau mendukung usaha kecil. Gerakan kecil ini menunjukkan bahwa kesadaran masih mungkin lahir dari tengah pasar yang bising.
Baca Juga: 7 Bulan Memimpin, SBS–HMS Tunjukkan Kinerja Nyata Lewat 5 Program Prioritas
Peran pendidikan menjadi sangat penting dalam memperkuat arah perubahan ini. Sekolah dan kampus perlu menanamkan literasi ekonomi dan media yang kritis. Anak muda perlu memahami bahwa iklan tidak pernah netral dan tren sering kali hanyalah alat kontrol sosial. Dengan begitu, keputusan untuk membeli menjadi tindakan sadar, bukan hasil manipulasi.
Media pun seharusnya ikut mengambil bagian. Alih-alih terus mengagungkan gaya hidup mewah, media perlu menghadirkan narasi yang lebih membangun tentang kreativitas, solidaritas, dan kerja keras. Sebab keberhasilan sejati tidak diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari apa yang diperjuangkan.
Menemukan Diri di Tengah Citra
Pada akhirnya, kapitalisme gaya hidup bukan hanya soal ekonomi, tetapi soal makna hidup. Jika yang dikejar hanya citra, maka hidup akan selalu terasa kurang. Namun jika yang dicari adalah makna, maka kesederhanaan pun bisa terasa cukup.
Baca Juga: Program MBG Dipercepat, Wabup Malaka HMS Hadiri Rapat Validasi Titik SPPG
Menjadi diri sendiri di tengah dunia yang menilai dari tampilan adalah bentuk perlawanan paling radikal hari ini. Sebab harga diri tidak ditentukan oleh merek di pakaian, melainkan oleh nilai di dalam diri.
Anak muda yang berani hidup sederhana dan berpikir kritis bukanlah yang tertinggal justru merekalah yang paling maju. Karena mereka tak lagi dikendalikan oleh hal-hal yang seharusnya mereka kendalikan.
Oleh: Laurensius Bagus
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.





