Daerah  

Petani Hortikultura Malaka Genjot Produksi Sayuran Segar untuk Pasar Lokal

Screenshot 2025 09 01 20 33 17 69 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 3111883480

RaebesiNews.com – Produksi hortikultura di Kabupaten Malaka menunjukkan perkembangan signifikan seiring meningkatnya minat petani untuk menanam sayuran segar seperti tomat, cabai, kangkung, dan terung. Di beberapa desa seperti Haitimuk, Fahiluka, dan Weoe, petani mulai memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan kecil untuk menanam sayuran yang memiliki permintaan tinggi di pasar Betun. Kondisi tanah yang subur dan ketersediaan air irigasi yang lebih stabil membuat hortikultura semakin digemari sebagai usaha tambahan.

Penyuluh pertanian menjelaskan bahwa tanaman hortikultura memiliki nilai ekonomi yang lebih cepat terasa karena masa panennya singkat. Misalnya, kangkung dapat dipanen dalam waktu tiga minggu, sementara cabai mulai berproduksi setelah dua bulan. Hal ini membuat petani dapat memperoleh pemasukan secara berkala tanpa menunggu musim panen utama seperti jagung atau padi.

Di Desa Fahiluka, kelompok tani wanita menjadi motor penggerak hortikultura. Mereka menanam sayuran organik tanpa pupuk kimia dan memasarkannya langsung kepada warga sekitar. Model seperti ini dinilai sangat efektif karena mengurangi biaya transportasi dan menekan harga jual sehingga lebih terjangkau bagi pembeli, namun tetap menguntungkan bagi petani.

Pemerintah Kabupaten Malaka melihat potensi hortikultura sebagai salah satu sektor yang dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan sayur dari luar daerah. Selama ini, sebagian besar sayuran yang dijual di pasar Betun berasal dari Atambua dan TTU. Dengan peningkatan produksi lokal, suplai sayur diharapkan semakin stabil dan harga tetap terkendali.

Untuk mendukung pertumbuhan hortikultura, Dinas Pertanian menyiapkan pelatihan tentang penggunaan irigasi tetes, pembuatan pupuk organik cair, dan teknik pengendalian hama ramah lingkungan. Semua ini dirancang agar petani dapat memaksimalkan hasil tanpa biaya tinggi. Petani yang sudah menerapkan teknik ini mengaku hasil tanam lebih cepat dan kualitas sayuran lebih baik.

Walaupun masih dalam tahap pengembangan, produksi sayuran lokal mulai terlihat mendominasi di beberapa pasar desa. Beberapa pedagang juga mulai membeli langsung dari petani, menciptakan rantai distribusi yang lebih pendek dan efisien. Ini membuktikan bahwa usaha hortikultura telah memberikan dampak ekonomi nyata di tingkat rumah tangga.

Potensi ekspansi hortikultura ke wilayah lain di Malaka sangat besar, terutama di daerah yang memiliki akses air memadai. Jika dikembangkan secara terencana, Malaka berpeluang menjadi salah satu produsen sayur utama untuk wilayah perbatasan dan sekitarnya.

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *