RaebesiNews.com – Di bawah langit Ende yang cerah, sebuah langit yang dulu turut menyaksikan pergulatan batin Bung Karno selama masa pengasingannya, Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), melangkah pelan memasuki kompleks Rumah Pengasingan Bung Karno.
Tidak ada iring-iringan besar, tidak ada gemuruh seremoni. Hanya langkah-langkah tenang yang seakan membawa HMS kepada sebuah percakapan sunyi dengan sejarah.
Rumah itu berdiri sederhana: perpaduan warna kuning dan hijau yang menenangkan mata, tembok yang terawat, dan halaman kecil yang menyimpan jejak masa lalu. Namun, justru kesederhanaan itulah yang membuat tempat ini terasa sakral. Di sinilah Bung Karno, jauh dari pusat kekuasaan dan hiruk pikuk dunia, menggumulkan gagasan-gagasan besar tentang bangsa. Di sinilah sebuah visi raksasa tumbuh dari ruang yang sempit.
Tak jauh dari teras rumah, sebuah sumur tua berdiri tegak. Sumur yang airnya pernah dipakai Bung Karno untuk berwudu, membasuh wajah, dan menimba kesegaran di tengah masa yang penuh tekanan. Sumur yang kini menjadi saksi bisu dari lahirnya renungan-renungan besar, termasuk cikal bakal Pancasila.
HMS berhenti di tepi sumur itu. Timba hitam diturunkan perlahan, tali tua bergesek pelan melintasi tiang kayu. Suara “plup” lembut terdengar ketika timba menyentuh permukaan air. Beberapa detik kemudian, timba itu terangkat kembali, membawa air jernih dari kedalaman sejarah.
HMS menunduk, menciduk sedikit air, dan membasuh wajahnya. Gerakan yang sederhana, tetapi terasa sarat makna. Tidak sekadar menyentuh air, tetapi menyentuh warisan nilai. Tidak sekadar membasuh wajah, tetapi membasuh kembali komitmen sebagai pemimpin: rendah hati, bekerja dalam diam, dan selalu meletakkan kepentingan rakyat di atas segalanya.
“Air ini punya jiwa,” kata HMS pelan, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. “Dari tempat inilah Bung Karno banyak merenung untuk Indonesia. Saya membasuh wajah bukan hanya untuk segar, tetapi untuk mengingatkan diri tentang amanah yang harus dikerjakan.”
Di samping HMS, seorang pendamping dari pihak pengelola mengamati, sesekali menjelaskan sejarah sumur tersebut. Bahwa sumur ini bukan sekadar sumber air, tetapi bagian dari ritual harian Bung Karno selama empat tahun pengasingan. Dari sinilah Proklamator itu memulai hari, membersihkan diri, sebelum duduk menulis, membaca, atau bertemu masyarakat Ende.
Setelah itu, HMS melanjutkan langkahnya menyusuri seluruh bagian rumah. Ia memasuki kamar kecil yang pernah menjadi ruang tidur Bung Karno, ruang yang sunyinya justru terasa penuh gema. Di situ, HMS berdiri beberapa saat, menatap meja kecil yang seolah mengajak pengunjung membayangkan sosok Bung Karno menulis dalam cahaya lampu minyak.
Kemudian ia berpindah ke ruang tamu sederhana, tempat Bung Karno dulu berdiskusi dengan warga, berdiskusi tentang hidup, tentang perjuangan, tentang masa depan. HMS menyentuh kusen jendela yang sudah dipernis ulang, duduk sejenak di kursi kayu yang disediakan untuk pengunjung, dan seperti mencoba mendengar kembali suara-suara yang dulu pernah memenuhi ruangan itu.
Di halaman belakang, HMS berhenti sejenak. Angin Ende mengalir pelan, mengusap wajahnya yang masih terasa segar oleh basuhan sumur tadi. Di bawah angin itu, bayangan Bung Karno seakan hadir bukan sebagai sosok besar yang sering muncul di panggung-panggung sejarah, tetapi sebagai manusia biasa yang sedang bergulat dengan takdir dan keyakinannya.
Bagi HMS, kunjungan ini bukan hanya persinggahan, tetapi perjalanan batin. Seorang pemimpin daerah kecil di selatan Pulau Timor, berdiri di tempat yang pernah melahirkan pemikiran besar tentang Indonesia. Sebuah kontras yang justru menjadi pengingat: bahwa pemimpin, sekecil apa pun wilayah yang ia urus, tetap memegang peran penting dalam menjaga api cita-cita bangsa.
Sebelum meninggalkan rumah pengasingan itu, HMS kembali menengok sumur tersebut. Airnya memantulkan langit dan cahaya, seolah memberi pesan: dari kedalaman apa pun, harapan bisa tumbuh. Dari keterasingan apa pun, gagasan besar bisa lahir. Dari kesunyian paling sepi, lahir keberanian untuk memerdekakan sebuah bangsa.
HMS tersenyum kecil. Ia tahu, ia akan membawa pulang sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar dokumentasi perjalanan. Ia membawa pulang inspirasi, spirit, dan pesan diam yang disampaikan sumur tua itu: bahwa pemimpin harus selalu menimba mata air nilai, sebelum menimba kekuasaan.
Dan dari Ende, dari sebuah sumur yang tak pernah kering oleh makna Henri Melki Simu kembali ke Malaka dengan wajah yang telah dibasuh oleh sejarah, dan hati yang diperteguh oleh teladan Bung Karno.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











