RAEBESIBEWS.COM – Di tanah Benenain yang subur namun rawan banjir, rakyat Malaka sudah terlalu sering menjadi korban dari hujan yang tak pernah bisa mereka kendalikan.
Namun yang lebih menyakitkan dari genangan air adalah kenyataan bahwa ada pemimpin yang memilih tampil sebagai pahlawan dalam bencana, ketimbang mencegah bencana itu terjadi sejak awal.
Baca Juga: 24 Desa di Malaka Sudah Diaudit dan Menanti LHP, Berikut Daftarnya
Itulah yang dilakukan Simon Nahak. Tiap kali air bah datang merendam rumah warga, ia sibuk tampil membagi-bagikan sembako, minyak tanah, dan air bersih. Kamera menyorot. Medsos ramai. Seolah-olah empati bisa dibungkus dalam satu kardus mie instan.
Padahal, persoalan banjir di Malaka bukan sekadar urusan dapur. Ini soal nyawa, soal masa depan petani yang sawahnya hanyut, soal anak-anak yang tidak bisa sekolah karena jembatan putus dan rumah rusak. Dan sayangnya, selama memimpin, Simon lebih memilih bermain di permukaan ketimbang menyentuh akar masalah.
Baca Juga: Dulu Simon Nahak Salahkan Warga Saat Bencana, Kini SBS-HMS Bangun Tanggul Cegah Banjir
SBS: Tidak Ramai di Kamera, Tapi Bekerja dalam Diam
Berbeda dengan Stefanus Bria Seran (SBS), yang tidak perlu tampil penuh lumpur untuk membuktikan kepeduliannya. Ia tidak datang ke lokasi banjir membawa sembako, karena ia tahu: “Bagi sembako bukan solusi.” Ia tidak tertarik membangun pencitraan murahan di tengah duka rakyat.
Sebaliknya, SBS bekerja sebelum banjir datang. Tahun ini, bersama Wakil Bupati HMS, ia membangun 4 kilometer tanggul di titik-titik kritis seperti Oanmane, Aintasi, dan Oekmurak.
Ia memilih mengalirkan dana ke infrastruktur ketimbang ke kemasan bantuan. Ia memilih pembangunan yang mencegah air naik, bukan popularitas yang naik saat air sudah setinggi dada.
“Lebih baik mencegah daripada menunggu air datang lalu sibuk bagi beras,” ujarnya suatu kali, dalam satu kunjungan teknis di lokasi pembangunan tanggul.
Baca Juga: Komitmen Tanpa Tawar: SBS-HMS dan Jalan Terang Menuju Malaka Jaya
Gimik vs Gagasan
Bagi rakyat, kini sudah mulai jelas: apa yang dilakukan Simon adalah bentuk responsif yang serba terlambat. Bukannya memperkuat sistem drainase, memperbaiki tanggul yang jebol, atau merevitalisasi sempadan sungai, ia justru merayakan bencana dengan karung sembako dan foto-foto pencitraan.
Banjir menjadi panggung, dan rakyat yang menderita menjadi latar belakang kampanye.
Sebaliknya, SBS justru membangun panggung sunyi yang tidak mengundang kamera, tapi menghasilkan dampak yang nyata. Tanggul yang ia bangun bukan hanya struktur beton—itu adalah perisai bagi desa-desa kecil agar tidak lagi tenggelam oleh ketidakpedulian.
Baca Juga: Dana Desa Bermasalah: SBS-HMS Siap Tindak 26 Kepala Desa di Malaka, Berikut Daftarnya
Warisan Kepemimpinan
Apa yang akan dikenang rakyat lima tahun dari sekarang? Karung sembako yang habis dalam seminggu? Atau tanggul yang bertahan sepuluh tahun menahan laju air Benenain?
Simon mungkin menang di media sosial, tapi SBS menang di benak rakyat yang melihat sawahnya tidak lagi tergenang. Simon mungkin pandai memeluk warga sambil berfoto, tapi SBS memeluk masa depan Malaka dengan perencanaan jangka panjang.
Baca Juga: Dua Desa di Rinhat Selesai Diaudit, LHP Siap Diserahkan ke Bupati SBS
Rakyat Malaka sudah tahu: banjir bukan panggung politik, dan penderitaan bukan alat kampanye. Saatnya memilih pemimpin yang menyelesaikan masalah, bukan sekadar datang saat masalah sudah terjadi.
Karena Malaka butuh solusi, bukan sandiwara.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









