Betun, RaebesiNews.com – Langit di atas Kota Betun seperti menyimpan rindu yang tak terbendung. Tiga hari berturut-turut, hujan mengguyur bumi Malaka tanpa jeda. Air yang turun dari langit itu bukan hanya berkah, tapi juga ujian, terutama bagi kota kecil yang drainasenya kerap terlupakan dalam pusaran pembangunan.
Pagi itu, Jumat, 13 Juni 2025, cuaca masih mendung. Awan menggantung, seolah ingin melanjutkan cerita deras yang belum tuntas. Tapi di tengah udara lembab dan jalanan yang masih basah, ada satu pemandangan yang menyentuh: seorang kepala desa berpakaian sederhana, bertopi, dan bertelanjang kaki, berdiri di tengah lumpur dan rerumputan yang liar. Dialah Yohanes Robby Tey Seran, Kepala Desa Wehali.
Bersama warga dan aparat desanya, ia memimpin aksi bersih-bersih drainase yang tersumbat di Dusun Bakateu, jantung kota Betun.
“Kalau kita tidak turun tangan, siapa lagi?” katanya tegas, sambil menarik selembar seng karatan yang menyumbat aliran air.
Drainase yang Tersumbat, Jalan yang Terendam
Drainase yang buruk adalah luka kecil yang lama menganga. Di kota-kota besar, kita menyebutnya persoalan klasik. Tapi di kota kecil seperti Betun, itu adalah ancaman nyata: genangan air menghalangi jalan umum, memperlambat aktivitas warga, dan menjadi sarang penyakit.
Di Dusun Bakateu, air hujan tak lagi punya jalur untuk pulang ke tanah. Ia terjebak oleh sampah, seng bekas, dan tanah yang menumpuk. Di sinilah Robby dan warganya bergerak, satu per satu mengangkat penghalang, membebaskan air agar mengalir kembali.
Baca Juga: Simon Nahak dan Rumah Sakit yang Tak Pernah Lahir: Sebuah Ulang Tahun yang Pahit
“Saya bangga karena Pak Desa sendiri yang turun langsung,” ujar Mama Lusia, seorang warga yang membawa ember untuk membantu. “Biasanya kita hanya dengar pejabat duduk di kantor, tapi hari ini kami lihat pemimpin yang betul-betul memimpin.”
Bukan Sekadar Drainase
Di balik aksi bersih-bersih ini, ada pesan yang lebih dalam: tentang kepemimpinan yang merakyat. Robby Tey Seran menunjukkan bahwa jabatan bukan sekadar simbol di balik meja, tapi tanggung jawab yang harus hadir di tengah lumpur dan genangan.
Desa Wehali bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah jantung kota Betun, pusat denyut nadi pemerintahan dan ekonomi Kabupaten Malaka. Maka menjaga kebersihannya, terutama saluran airnya, adalah soal martabat.
“Kebersihan itu bagian dari kesehatan. Kalau kita biarkan air tergenang, nyamuk datang, penyakit menyusul. Ini soal tanggung jawab sosial juga,” ucap Robby kepada RAEBESINEWS, sambil menunjuk ke parit yang mulai mengalir kembali.
Baca Juga: Wabup Malaka Turun Tangan! Drainase Tersumbat di Depan SPBU Labarai Langsung Dibersihkan
Langit Tetap Kelabu, Tapi Harapan Terbit
Menjelang siang, langit masih kelabu. Tapi suasana di Dusun Bakateu terasa hangat. Warga bergotong royong dengan semangat yang jarang terlihat di hari-hari biasa. Di tengah kondisi cuaca yang tak bersahabat, mereka tidak menyerah. Ada anak muda, ada orang tua, ada perempuan membawa sapu lidi dan ember. Semuanya bergerak, dipimpin oleh seorang kepala desa yang tak takut kotor.
Robby Seran bukan hanya membersihkan drainase. Ia sedang membersihkan sekat antara pemimpin dan rakyat, antara birokrasi dan realitas. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari aksi nyata, dari telapak kaki yang basah, dari tangan yang kotor oleh tanah.
Betun boleh saja tergenang, tapi semangat di Wehali tidak pernah padam.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











