Menata Lembaga Adat, Membaca Ulang Wehali: Perspektif Antropologi Timor dari Seminar Malaka 2026

1777521016355.IMG 20260429 121500 291 scaled 1 scaled
banner 468x60

Malaka, 29 April 2026 —

Pemerintah Kabupaten Malaka menggelar Seminar Penataan Lembaga Adat Tahun 2026 di Aula Kantor Bupati Malaka, Rabu (29/4/2026), sebagai upaya memperkuat kembali peran lembaga adat dalam kehidupan masyarakat.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Mau usaha anda di lihat ribuan orang?  Klik Disini!!!
banner 336x280

 

Seminar ini tidak sekadar menjadi forum diskusi kebijakan, tetapi juga ruang refleksi mendalam tentang akar identitas masyarakat Timor.

 

Salah satu pemaparan yang menyita perhatian datang dari antropolog Timor, Asc. Prof. Gregor Neonbasu, SVD, PhD, yang mengangkat tema “Perspektif Wewiku Wehali dalam Sudut Pandang Antropologi Timor.”

 

 

Wehali: Pusat Kosmos Orang Timor

 

Dalam paparannya, Neonbasu menegaskan bahwa Wewiku–Wehali bukan sekadar wilayah geografis di Malaka, melainkan pusat kosmologis masyarakat Timor sejak masa lampau.

 

Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan budaya lokal, Wehali dipahami sebagai “pusat dunia” — tempat bertemunya relasi antara manusia, alam, leluhur, dan Yang Ilahi.

 

“Wehali adalah bapak dan ibu bagi masyarakat Timor. Ini bukan soal darah, tetapi entitas spiritual yang memberi kehidupan,” ujarnya di hadapan peserta seminar.

 

Pandangan ini, menurutnya, diperkuat oleh berbagai penelitian antropologi, termasuk karya Tom Therik yang menyebut Wehali sebagai pusat kekuasaan spiritual dan politik di Pulau Timor pada masa silam.

 

Simbol-simbol seperti beringin dan air laut menjadi metafora penting dalam memahami posisi Wehali: tempat perlindungan, penerimaan, dan keseimbangan kosmos.

 

 

Maromak Oan dan Keseimbangan Alam Raya

 

Dalam struktur kosmologi Timor, figur Maromak Oan menempati posisi tertinggi sebagai pemegang otoritas spiritual.

 

Namun menariknya, Neonbasu menjelaskan bahwa kekuasaan Maromak Oan tidak bersifat aktif secara fisik, melainkan menjaga keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos.

 

Ia digambarkan sebagai sosok “pasif” dalam arti tidak terlibat dalam kerja-kerja duniawi, tetapi justru memegang peran paling penting dalam menjaga harmoni alam raya.

 

“Yang dijaga adalah keseimbangan, dan itu jauh lebih sulit daripada sekadar memerintah,” jelasnya.

 

Kritik terhadap Perspektif Sejarah Barat

Dalam forum tersebut, Neonbasu juga melontarkan kritik terhadap pendekatan sejumlah sejarawan Barat yang dinilai terlalu menekankan analisis “etik” atau sudut pandang luar.

 

Menurutnya, banyak kajian tentang Timor hanya bertumpu pada dokumen kolonial tanpa menggali kekayaan tradisi lisan masyarakat.

 

“Kalau hanya memakai pendekatan luar, kita berisiko salah membaca realitas masyarakat Timor,” tegasnya.

 

Ia mencontohkan adanya kekeliruan interpretasi dalam beberapa karya ilmiah yang tidak memadukan data sejarah dengan narasi lokal.

 

Sebaliknya, ia mengapresiasi pendekatan yang dilakukan Tom Therik yang dinilai lebih seimbang karena menggabungkan dokumen historis dengan perspektif emik atau pandangan masyarakat sendiri.

 

 

Mitologi sebagai Kunci Identitas

 

Lebih jauh, Neonbasu menguraikan bahwa pemahaman tentang Wewiku–Wehali tidak bisa dilepaskan dari narasi mitologi dan genealogi masyarakat Timor.

 

Dalam tradisi lokal, manusia pertama diyakini berasal dari Pulau Timor sendiri, dengan kisah-kisah leluhur seperti Taruik-Batak, Tae Dinik, hingga Mataus yang menjadi dasar penyebaran suku-suku.

 

“Perjalanan manusia selalu mengikuti hukum alam—dari gunung ke laut, dari timur ke barat,” ujarnya.

 

Ia juga menjelaskan makna linguistik:

Wehali: air dan beringin — simbol perlindungan

 

Wewiku: air dan bakau — simbol penerimaan dan kesuburan

 

Makna ini mencerminkan karakter masyarakat Timor yang menjunjung tinggi harmoni dan keterbukaan.

 

 

Menata Adat, Menguatkan Jati Diri

 

Seminar ini menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Malaka untuk tidak hanya menata lembaga adat secara struktural, tetapi juga memahami kembali filosofi dasar yang melandasinya.

 

Pemahaman antropologis seperti yang disampaikan Neonbasu dinilai penting agar kebijakan yang diambil tidak terlepas dari akar budaya masyarakat.

 

Dengan demikian, penataan lembaga adat di Kabupaten Malaka tidak sekadar administratif, melainkan menjadi bagian dari upaya menjaga identitas, nilai, dan keseimbangan hidup masyarakat Timor di tengah perubahan zaman.

 

 

Editor : Boni Atolan

banner 336x280

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com

+ Gabung