Daerah  

Di Balik Dinding Bebak yang Rapuh: Ketika SBS HMS Mulai Menyentuh Luka Lama Perumahan Rakyat Malaka

Reporter : Frido Umrisu Raebesi
20260306 170632

 

RaebesiNews.com – Di banyak sudut sunyi Kabupaten Malaka, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Ia sering kali hanya berupa gubuk dari pelepah bebak, atap gewang yang lapuk, dan lantai tanah yang lembap ketika hujan turun. Di dalamnya hidup para lansia, para janda, dan anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan.

Selama bertahun-tahun, kondisi seperti ini seolah menjadi pemandangan biasa, terlihat, tetapi jarang benar-benar disentuh oleh kebijakan.

Kini, perlahan keadaan itu mulai berubah.

Di bawah kepemimpinan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran dan Wakil Bupati Henri Melki Simu, pemerintah daerah mulai menaruh perhatian serius pada rumah-rumah warga yang tidak layak huni. Program penanganan rumah rakyat miskin kini menjadi salah satu fokus utama pemerintahan yang dikenal dengan duet SBS–HMS.

Gubuk Maria Bano di Weoe

Pagi itu, Jumat (6/3/2026), rombongan pemerintah daerah tiba di Desa Weoe, Kecamatan Wewiku. Di sana tinggal Maria Bano (72), seorang janda tua yang menghabiskan hari-harinya di sebuah gubuk sederhana.

20260306 104656

Dinding rumahnya hanya dari bahan seadanya. Atapnya sudah tua dan rapuh. Bila hujan turun, air menetes di berbagai sudut rumah. Usia yang sudah renta membuat Maria Bano tidak lagi mampu memperbaiki rumahnya sendiri.

Kedatangan Wakil Bupati bersama tim dari Satpol PP, Dinas PUPR, Dinas Sosial, serta para kepala desa se-Kecamatan Wewiku bukan sekadar kunjungan seremonial. Mereka datang untuk memastikan bahwa rumah seperti milik Maria Bano tidak lagi dibiarkan berdiri dalam kondisi yang memprihatinkan.

Di hadapan warga, pemerintah daerah menyampaikan komitmen bahwa rumah tersebut akan segera diperbaiki agar layak ditempati.

Yosefina Abuk dan Perjuangan Membiayai Kuliah Anak

Kisah lain datang dari Desa Biudukfoho, Kecamatan Rinhat.

Di sana tinggal Yosefina Abuk (65). Rumahnya hampir rubuh. Banyak bagian atap bocor. Ketika hujan turun, air mengalir masuk tanpa hambatan.

Namun di tengah kondisi yang serba kekurangan itu, Yosefina memiliki tekad yang luar biasa: ia tetap berjuang membiayai kuliah anaknya.

20260303 130537
Wakil Bupati Malaka HMS bersama Yosefina Abuk, janda tua di Desa Biudukfoho yang tinggal di rumah yang tidak layak.

Selama ini, ia bertahan hidup dengan bantuan BLT dari pemerintah desa. Uang yang tidak seberapa itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu pendidikan anaknya.

Melihat kondisi tersebut, Wakil Bupati Malaka bersama tim dan para kepala desa di Kecamatan Rinhat berencana segera membangun rumah layak huni bagi Yosefina.

Bagi pemerintah daerah, kisah seperti ini bukan sekadar angka dalam data kemiskinan, tetapi wajah nyata perjuangan rakyat Malaka.

Clara Seo Cu dan Rumah Tua di Seserai

Di Desa Seserai, kisah serupa juga ditemukan.

Seorang janda lansia bernama Clara Seo Cu (80) tinggal bersama cucunya di rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Bangunan itu tampak renta dimakan usia. Kayu-kayu penyangga sudah mulai lapuk.

Rumah itu berdiri seperti menunggu waktu untuk roboh.

20260306 170632

Bagi Clara, rumah tersebut adalah satu-satunya tempat berlindung. Namun bagi pemerintah daerah, kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan.

Yasinta Tona dan Lima Anak yang Tidur di Tanah

Kisah yang paling menyentuh datang dari seorang ibu bernama Yasinta Tona.

Ia tinggal bersama lima anaknya yang masih kecil di rumah yang sangat sederhana. Tidak ada tempat tidur. Mereka tidur di lantai tanah hanya beralaskan tikar.

20260306 173724

Setiap malam, anak-anak itu merebahkan tubuh mereka di tanah yang dingin.

Kondisi seperti ini bukan hanya soal kemiskinan, tetapi juga soal martabat hidup manusia.

Luka Lama yang Lama Terabaikan

Kasus-kasus seperti Maria Bano, Yosefina Abuk, Clara Seo Cu, hingga Yasinta Tona bukanlah satu-satunya di Kabupaten Malaka. Masih banyak rumah tidak layak huni yang tersebar di berbagai desa.

Selama bertahun-tahun, kondisi tersebut luput dari perhatian serius pemerintah daerah pada periode sebelumnya di bawah kepemimpinan Simon Nahak.

Akibatnya, banyak warga miskin yang terpaksa bertahan hidup dalam rumah yang jauh dari standar kelayakan.

Rasa Malu Seorang Bupati

Bupati Stefanus Bria Seran sering menyampaikan sebuah pernyataan yang sederhana namun menyentuh.

Ia mengaku merasa malu jika masih banyak rakyat Malaka tinggal di rumah yang tidak layak, sementara dirinya menikmati fasilitas rumah jabatan dan kantor bupati yang megah.

Pernyataan itu menjadi semacam refleksi moral dalam kepemimpinan daerah.

Bagi SBS, pembangunan tidak boleh hanya terlihat di gedung-gedung pemerintahan, tetapi harus nyata dirasakan oleh rakyat paling kecil.

Terobosan Bedah Rumah

Untuk menjawab persoalan tersebut, Wakil Bupati Henri Melki Simu menggagas sebuah pendekatan baru.

Program yang dijalankan menyerupai bedah rumah bagi warga miskin ekstrem. Pemerintah daerah tidak bekerja sendiri. Para kepala desa dilibatkan secara aktif untuk mendata warga yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Screenshot 20260307 212049 Gallery

Pendekatan ini dilakukan secara gotong royong, melibatkan:

  • pemerintah daerah
  • pemerintah desa
  • aparat Satpol PP
  • dinas teknis seperti PUPR dan Dinas Sosial
  • serta masyarakat setempat

Dengan cara ini, pembangunan rumah tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga gerakan sosial bersama.

Memenuhi Kebutuhan Dasar Rakyat

Bagi pemerintahan SBS–HMS, pembangunan rumah layak huni bukan sekadar proyek fisik.

Ia menyentuh kebutuhan dasar manusia.

Rumah yang layak berarti:

  • tempat berlindung dari panas dan hujan
  • ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh
  • serta simbol martabat hidup sebuah keluarga

Karena itu, pemerintah daerah menegaskan bahwa program ini akan terus dilakukan secara bertahap di berbagai desa di Kabupaten Malaka.

Masih banyak rumah yang harus diperbaiki. Masih banyak keluarga yang menunggu perhatian.

Namun bagi Maria Bano, Yosefina Abuk, Clara Seo Cu, dan Yasinta Tona, secercah harapan kini mulai datang.

Di balik dinding bebak yang rapuh dan atap gewang yang bocor, mereka akhirnya mulai merasakan bahwa negara,melalui pemerintah daerah, perlahan hadir di depan pintu rumah mereka.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *