HMS dan ABS Dua Tokoh Golkar yang Berpengaruh di Rai Malaka

Screenshot 2025 10 25 13 57 02 12 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 3600319921

RaebesiNews.com – Sore di Pantai Cemara Abudenok tak pernah sekadar tentang pasir dan laut. Ia selalu menyimpan cerita—tentang perjumpaan, tentang persaudaraan, dan tentang waktu yang berhenti sejenak di antara desir angin dan suara ombak.

Di bawah naungan pepohonan cemara yang seolah berbaris menyambut tamu, dua tokoh berwibawa tampak berdiri berdampingan: Adrianus Bria Seran dan Henri Melki Simu (HMS). Langit jingga menumpahkan sinarnya, seolah tahu bahwa pertemuan ini bukan sembarang pertemuan. Ada makna yang lebih dalam dari sekadar sapaan politik—ada sejarah, dedikasi, dan semangat yang menautkan keduanya dalam satu rumah besar: Partai Golkar.

Adrianus Bria Seran, Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Malaka yang kini juga menjabat sebagai Ketua DPRD Malaka, dikenal sebagai pemimpin yang tenang dan teguh. Gaya bicaranya tak meledak-ledak, tetapi setiap kata mengandung arah. Di sisi lain, Henri Melki Simu, mantan Anggota DPRD dua periode dari Golkar dan kini Wakil Bupati Malaka, tampil sebagai sosok yang hangat dan berenergi—seorang politisi yang tidak pernah kehilangan senyum bahkan di tengah gelombang.

Keduanya, dalam satu bingkai di tepi pantai, seolah menjadi simbol dua beringin besar yang tumbuh dari akar yang sama namun menjulang ke arah yang berbeda—satu meneduhkan di parlemen, satu menguatkan di pemerintahan.

Politik yang Membumi

Momen di Pantai Cemara Abudenok itu bukan agenda resmi, melainkan pertemuan sederhana yang memancarkan aura hangat dan bersahaja. Namun, di balik kesederhanaan itu, ada pesan besar yang terucap tanpa kata: bahwa Golkar di Malaka tetap kokoh dan bersatu.

Adrianus berbicara dengan nada penuh kehati-hatian, cerminan seorang pemimpin yang memikul tanggung jawab moral partai di pundaknya. HMS menimpali dengan tawa, sesekali melontarkan cerita masa lalu saat mereka berjuang di kursi DPRD, ketika bendera kuning masih dikibarkan dengan idealisme yang murni.

“Dulu, kita berjalan kaki ke kampung-kampung, bukan untuk kampanye semata, tapi untuk mendengar cerita rakyat,” kenang HMS sambil menatap garis pantai. “Itu yang membuat politik punya jiwa.”

Adrianus tersenyum. “Dan jiwa itu yang harus tetap kita rawat, agar beringin ini tidak hanya tumbuh tinggi, tapi juga berakar kuat di hati masyarakat.”

Kata-kata mereka mengalir pelan, tenggelam dalam suara ombak yang datang bergantian. Sore itu, laut Abudenok menjadi saksi percakapan dua sahabat lama yang pernah berjuang di medan politik yang sama, kini kembali berdiri di titik yang tak jauh dari masa lalu.

Beringin dan Ombak

Pantai Cemara Abudenok adalah tempat yang istimewa bagi banyak orang Malaka. Di sinilah banyak pertemuan sederhana menjadi cerita yang bertahan lama. Dan kali ini, tempat itu menjadi saksi bagi dua figur penting Partai Golkar yang sedang meneguhkan kembali makna kebersamaan di tengah perubahan zaman.

Dalam metafora alam, mereka ibarat dua beringin di tepi laut: satu menjaga arah angin, satu menjaga akar agar tidak hanyut. Beringin tidak pernah takut badai karena akarnya saling bertautan di bawah tanah, seperti halnya solidaritas kader Golkar yang terus bertaut meski politik sering kali berubah arah.

Adrianus dan HMS memahami benar filosofi itu. Politik, bagi mereka, bukan sekadar perebutan kursi, melainkan ruang pengabdian. Mereka sadar bahwa masyarakat Malaka membutuhkan pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara, tapi juga mau mendengar dan hadir di tengah rakyat.

Harapan di Ujung Senja

Ketika matahari mulai turun sepenuhnya ke ufuk barat, cahaya jingga berubah menjadi keemasan, menyentuh wajah keduanya. Kamera merekam momen itu, bukan hanya sebagai dokumentasi, tapi sebagai simbol harapan baru: bahwa Partai Golkar di Malaka sedang menapaki babak yang lebih matang, lebih bersatu, dan lebih berpihak pada rakyat.

Dalam diam, ombak terus berlari ke pantai. Di sela desirnya, seolah terdengar bisikan kecil: bahwa politik yang baik bukan tentang siapa yang menang, tetapi tentang siapa yang mampu bertahan dengan hati yang bersih dan niat yang tulus.

Adrianus Bria Seran dan Henri Melki Simu telah membuktikan bahwa persahabatan dalam politik bisa tetap hidup tanpa harus kehilangan prinsip. Mereka menunjukkan bahwa di tengah dunia yang sering memisahkan, masih ada ruang untuk politik yang manusiawi, politik yang lahir dari kesetiaan, bukan kepentingan.

Pantai Cemara Abudenok sore itu menjadi panggung yang indah. Tidak ada bendera, tidak ada panggung besar, hanya laut, angin, dan dua tokoh yang berdiri sebagai lambang kekuatan dan keteduhan.

Dan ketika senja benar-benar tenggelam, dua sosok itu berjalan perlahan menyusuri pasir. Di belakang mereka, jejak langkah terhapus oleh ombak, tetapi maknanya tertinggal dalam ingatan banyak orang:

“Golkar kuat, Malaka hebat, karena di bawah beringin yang sama, kita tumbuh bersama.”***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *