Daerah  

Mereka Pergi dengan Doa, Pulang dengan Luka, Catatan dari Jalur Sunyi Perdagangan Manusia NTT–Medan

Screenshot 2025 12 13 19 28 01 10 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7 4004250490

RaebesiNews.com – Pagi itu di Medan, dua anak perempuan asal Timor duduk diam di teras Pastoran Komunitas SVD Martubung. Wajah mereka tampak letih, mata menunduk, dan tubuh mereka seakan masih menyimpan ketakutan. Mereka selamat, bukan karena sistem melindungi, tetapi karena keberanian untuk melarikan diri dari rumah tempat mereka bekerja tanpa upah, tanpa identitas, dan tanpa suara.

Mereka adalah sebagian kecil dari anak-anak Nusa Tenggara Timur yang berangkat dengan doa, namun tiba di tanah perantauan dengan luka.

Di banyak kampung di daratan Timor, Malaka, TTU, TTS, kemiskinan sering kali berbicara lebih keras daripada kewaspadaan. Anak-anak putus sekolah, yatim piatu, dan ibu-ibu muda yang ditinggalkan suami menjadi kelompok paling rentan. Pada saat seperti itulah, harapan datang dalam rupa yang tampak ramah: sekelompok ibu dari Medan, berbahasa lembut, membawa janji pekerjaan yang “aman dan layak”.

“Kerja bagus di Medan. Di gereja,” begitu biasanya mereka berkata.

Namun, di balik kata-kata itu, sebuah sistem perdagangan manusia bekerja rapi.

Menurut Pater Polce, SSCC, imam asal NTT yang kini berkarya di Keuskupan Agung Medan, modus ini sudah lama berlangsung dan semakin canggih. Para perekrut menggandeng orang lokal, lalu mendirikan yayasan dengan struktur dan administrasi yang tampak sah. Di atas kertas, semuanya legal. Namun di lapangan, banyak dokumen adalah fiksi: sertifikat pelatihan tanpa pelatihan, ijazah tanpa sekolah.

“Anak-anak ini berangkat bukan sebagai tenaga kerja terlatih, tetapi sebagai komoditas,” kata Pater Polce lirih.

Sesampainya di Medan, realitas berubah drastis. Mereka tidak bekerja di gereja, melainkan di rumah-rumah pribadi. Identitas diri ditahan. Telepon genggam disita. Akses komunikasi diputus. Gaji dijanjikan setelah dua tahun bekerja penuh.

Dua tahun adalah waktu yang panjang bagi seorang anak.

Dalam dua puluh empat bulan, upah mereka dikumpulkan oleh yayasan. Jika satu anak digaji tiga juta rupiah per bulan, maka uang yang “ditabung” mencapai tujuh puluh dua juta rupiah. Jika sepuluh anak didatangkan, ratusan juta mengalir tanpa keringat sang pemilik yayasan.

Sementara itu, para pekerja hidup dalam sunyi. Ada yang disiksa. Ada yang diperlakukan seperti barang. Ada yang makan nasi busuk. Dan hampir semuanya tidak bisa mengadu kepada siapa pun.

“Mereka tidak punya suara, karena bahkan untuk menelepon pun mereka tidak diizinkan,” ujar Pater Polce.

Keselamatan sering datang secara kebetulan: saat pintu lupa dikunci, saat majikan lengah, atau saat keberanian mengalahkan rasa takut. Anak-anak yang berhasil melarikan diri biasanya tidak tahu harus ke mana. Mereka berjalan tanpa arah, tanpa identitas, tanpa uang.

Beberapa di antaranya bertemu orang baik. Beberapa bertemu Gereja.

Pater Polce mengaku sudah beberapa kali membantu anak-anak NTT yang melarikan diri dari praktik perbudakan modern ini. Kasus terbaru, dua anak asal Timor kini aman di pastoran SVD Martubung. Mereka bukan korban terakhir. Di Medan, jumlah pekerja rumah tangga asal Malaka dan wilayah Dawan sangat besar—dan sebagian besar tidak terlindungi.

Situasi ini akhirnya menggugah Keuskupan Agung Medan untuk bertindak. Sebuah Tim Migran Keuskupan dibentuk dan dipimpin oleh Pastor Fredy, SVD. Gereja mulai menyadari bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan larangan semata.

“Anak-anak kita butuh kerja. Itu realitas. Tapi mereka juga butuh perlindungan,” tegas Pater Polce.

Ia mengusulkan agar para Uskup se-Nusra mengambil langkah bersama: menugaskan kongregasi tertentu mendirikan balai latihan kerja resmi, diakui negara dan Gereja. Tempat di mana anak-anak disiapkan secara profesional, dengan keterampilan, etika kerja, dan kemampuan komunikasi yang layak.

Tanpa itu, kata Pater Polce, anak-anak NTT akan terus menjadi mangsa empuk sistem yang menjual kemiskinan sebagai peluang bisnis.

Sebagai dosen, Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Medan, dan Ketua Tarekat Hidup Bakti Kota Medan, Pater Polce membuka pintu kerja sama lintas keuskupan. Ia mengusulkan pembentukan komisi gerejani khusus untuk penyediaan dan pendampingan tenaga kerja migran.

“Gereja tidak boleh hanya memberkati kepergian mereka,” katanya pelan, “tetapi juga memastikan mereka pulang dengan martabat.”

Di teras pastoran Martubung, dua anak itu masih duduk diam. Mereka belum tahu seperti apa masa depan mereka. Namun setidaknya, hari ini, mereka aman. Mereka kembali diperlakukan sebagai manusia.

Dan dari kisah mereka, sebuah pesan mengalir jauh ke tanah Timor:
bahwa tidak semua jalan perantauan berujung harapan,
dan tidak semua janji kerja lahir dari niat baik.

Ketika anak-anak pergi membawa doa, sudah seharusnya kita memastikan
mereka tidak pulang membawa luka.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *