RaebesiNews.com – Senyum haru terpancar dari wajah-wajah warga Kampung Numbei, Desa Kateri, Kecamatan Malaka Tengah. Di tepi Sungai Benenain yang selama puluhan tahun menjadi penghalang sekaligus ancaman bagi kehidupan mereka, kini berdiri sebuah jembatan gantung yang hampir rampung dibangun. Bagi masyarakat, infrastruktur ini bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan jawaban atas penantian lintas generasi yang selama ini hanya hidup dalam harapan.
Di balik megahnya konstruksi baja yang membentang menghubungkan Kampung Numbei dengan Desa Kakaniuk, tersimpan kisah perjuangan masyarakat yang bertahun-tahun hidup dalam keterisolasian. Setiap musim hujan, derasnya arus Sungai Benenain memutus akses warga. Anak-anak terhambat ke sekolah, aktivitas ekonomi lumpuh, sementara warga yang sakit harus mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan pelayanan kesehatan.
Kini, keadaan itu akan segera menjadi bagian dari masa lalu.
Salah satu warga yang paling merasakan kebahagiaan itu adalah Gregorius Bria (74). Pria lanjut usia yang akrab disapa Bapak Goris itu mengaku hampir tidak percaya impian masyarakat Numbei akhirnya menjadi kenyataan pada masa kepemimpinan Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS) bersama Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS).
Selama lebih dari sebulan terakhir, hampir setiap hari Gregorius datang ke ujung tebing Sungai Benenain. Ia duduk berjam-jam memandangi para pekerja yang menyelesaikan pembangunan jembatan. Baginya, setiap baut yang dipasang dan setiap bentangan baja yang terangkai adalah simbol harapan baru bagi kampung yang telah lama menunggu perhatian pemerintah.
“Sudah puluhan tahun Indonesia merdeka, tetapi baru sekarang kami benar-benar melihat tanda-tanda kemerdekaan hadir di kampung kami,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Menurut Gregorius, kehadiran jembatan gantung akan mengakhiri penderitaan masyarakat yang selama ini harus bergantung pada kondisi sungai. Saat banjir datang, warga tidak lagi dipaksa mengambil risiko menyeberangi arus deras demi berobat, bersekolah, menjual hasil kebun, atau sekadar menuju Kota Betun.
“Ama Dokter Stef nalo diak bodik ami renu Numbei. Terima kasih Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati Malaka,” ucap Gregorius Bria penuh haru di ujung Jembatan Gantung Numbei, Senin (27/7/2026).
Gregorius juga mengenang kunjungan Bupati SBS ke lokasi sebelum pembangunan dimulai. Saat itu, Bupati hanya berdiri di sisi tebing Desa Kakaniuk karena belum ada akses untuk menyeberang.
Menurut Gregorius, Bupati berjanji baru akan menyeberang ke Kampung Numbei setelah jembatan selesai dibangun dan siap diresmikan.
“Beliau bilang nanti saat peresmian baru ke Numbei. Kami sudah siapkan ayam merah untuk menyambut beliau,” kenangnya sambil tersenyum.
Perasaan serupa juga disampaikan Helena Fore dan Fransiska Ade, dua perempuan lanjut usia yang hampir setiap hari datang menyaksikan proses pembangunan jembatan. Mereka mengaku tidak pernah bosan melihat para pekerja menyelesaikan proyek yang selama ini hanya menjadi mimpi masyarakat Numbei.
Di sela-sela aktivitas mereka, doa dan ucapan syukur terus dipanjatkan sebagai ungkapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Malaka, khususnya kepada Bupati SBS dan Wakil Bupati HMS yang dinilai telah mewujudkan kebutuhan paling mendasar masyarakat.
Bagi warga Numbei, jembatan ini bukan hanya mempersingkat jarak. Lebih dari itu, jembatan ini menghapus rasa takut yang selama bertahun-tahun menghantui setiap kali Sungai Benenain meluap.
Sementara itu, Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH, menegaskan bahwa sebelum jembatan resmi digunakan, Pemerintah Kabupaten Malaka akan menggelar prosesi pendinginan adat dan doa syukur bersama masyarakat.
Prosesi tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai adat dan budaya yang masih dijunjung tinggi masyarakat setempat, sekaligus ungkapan syukur atas selesainya pembangunan infrastruktur yang telah lama dinantikan.
Menurut Bupati SBS, pembangunan tidak hanya menghadirkan fasilitas fisik, tetapi juga harus menyatu dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual masyarakat agar manfaatnya benar-benar dirasakan secara utuh.
Ia berharap jembatan tersebut menjadi penghubung yang membawa keselamatan, memperlancar pelayanan kesehatan, membuka akses pendidikan, meningkatkan perekonomian masyarakat, serta mempererat hubungan antarwilayah di Kabupaten Malaka.
Hampir rampungnya Jembatan Gantung Numbei menjadi bukti bahwa pembangunan akan memiliki makna paling besar ketika mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Di Kampung Numbei, jembatan itu bukan sekadar bentangan baja di atas Sungai Benenain, melainkan simbol hadirnya negara di tengah warga yang selama puluhan tahun menanti akses yang aman dan layak.
Bagi Gregorius Bria dan seluruh masyarakat Numbei, jembatan tersebut akan selalu dikenang bukan hanya sebagai penghubung dua wilayah, tetapi juga sebagai jembatan harapan yang menghubungkan masa lalu penuh keterbatasan dengan masa depan yang lebih aman, lebih mudah, dan lebih bermartabat.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












