RaebesiNews.com – Kabupaten Malaka di Nusa Tenggara Timur punya garis pantai terpanjang di Pulau Timor. Tak ada tebing curam, hanya hamparan pasir putih dan lautan biru yang terbentang sejauh mata memandang.
Deretan pantai seperti Motadikin, Raihenek, Taberek, hingga Abudenok menyimpan pesona yang memikat. Tapi Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS), tak mau terjebak dalam euforia keindahan semata.
Baca Juga: Jelang Peluncuran MBG di Malaka HMS Tinjau Dapur Sehat di Belu
Baginya, membangun pariwisata bukan soal memamerkan pemandangan, melainkan menyiapkan seluruh sistem pendukung secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.
“Kita punya banyak pantai dengan keindahan alam yang menakjubkan. Tapi orang mau datang berwisata itu harus nyaman,” tegas SBS di hadapan para pejabat dan masyarakat.
Baca Juga: SBS Wajibkan Transaksi Non Tunai Lewat Bank NTT: Akhiri Era Kuitansi Palsu
Keindahan Alam Saja Tidak Cukup
Menurut SBS, pariwisata tidak akan berjalan tanpa infrastruktur yang layak. Ia mencontohkan kondisi jalan dari Kupang ke Malaka yang memakan waktu hingga 6 jam melalui jalur selatan karena rusak parah.
“Siapa yang mau datang kalau jalan saja rusak parah? Mereka pasti malas,” ujar SBS.
Selain akses jalan, Bupati Malaka juga menekankan pentingnya fasilitas pendukung lainnya seperti penginapan dan restoran.
“Harus ada penginapan yang bagus, restoran yang layak. Jangan sampai orang datang lalu bingung mau tidur di mana dan makan apa,” tambahnya.
Keamanan adalah Syarat Mutlak
Tak hanya soal fasilitas, SBS menyoroti soal keamanan. Ia mengingatkan bahwa kenyamanan wisatawan harus dijamin, termasuk dari tindakan-tindakan brutal yang bisa mencoreng wajah daerah.
“Orang mau datang ke kita tidak aman karena kalian lempar mobil orang,” ungkap SBS dengan nada kecewa.
Baginya, citra daerah adalah segalanya. Jika Malaka ingin menjadi tujuan wisata, maka semua elemen masyarakat harus ikut menjaga nama baik dan keamanan daerah.
Strategi Hulu ke Hilir
Dalam visinya, pembangunan pariwisata harus dilakukan secara sistematis. SBS menyebutnya sebagai pendekatan dari “hulu ke hilir.” Hulu berarti infrastruktur dasar, jalan, penginapan, restoran, hingga keamanan. Hilir adalah promosi dan penyambutan wisatawan.
“Benahi dulu hulunya, baru ke hilir,” tegasnya.
Dengan sistem ini, SBS ingin membangun fondasi yang kuat agar pariwisata Malaka tidak hanya jadi proyek jangka pendek, tapi pilar ekonomi jangka panjang.
Malaka Siap Jadi Destinasi Baru
Kabupaten Malaka menyimpan potensi besar yang belum banyak diketahui. Dengan kekayaan pantai, budaya, dan keramahan masyarakat, Malaka bisa menjadi primadona baru di NTT, asal semua elemen bersinergi.
Baca Juga: SBS Tegaskan Tiga Pilar Utama Birokrasi kepada CPNS Malaka
“Malaka ini indah. Tapi kalau kita tidak siapkan sistemnya dengan benar, keindahan itu hanya jadi cerita dalam foto,” pungkas SBS.
Pariwisata bukan sekadar destinasi, tapi pengalaman. Dan Malaka, di bawah kepemimpinan SBS, sedang merancang pengalaman itu, dari akar hingga pucuk, dari hulu hingga hilir.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
