RaebesiNews.com – Kamis senja di Kota Betun turun dengan kelembutan yang sulit dijelaskan. Lampu-lampu halaman Gereja Santa Maria Fatima mulai menyala, memantulkan cahaya kuning temaram pada wajah umat yang berdiri berjejer menyambut kedatangan Uskup Keuskupan Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr.
Di antara kerumunan itu hadir Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), yang sejak lama dikenal sangat dekat dengan para pemimpin Katolik di Keuskupan Atambua.
Kedekatan itu bukan sebatas hubungan formal antara pemerintah dan gereja, tetapi hubungan personal yang dibangun bertahun-tahun melalui kerja sama, saling menghormati, dan komunikasi yang hangat.
Meski HMS adalah seorang Kristen Protestan, kehadirannya di banyak kegiatan gerejawi Katolik selalu diterima dengan penuh rasa persaudaraan.
Doa Lintas Iman yang Menyentuh
Usai penyambutan oleh umat Katolik dan para imam Dekenat Malaka, Uskup Dominikus Saku mengajak HMS ke dalam ruangan. Di sana, dalam kesunyian yang terasa lebih dalam dari biasanya, sang Uskup mengangkat tangan, melukis tanda berkat, dan mendoakan Wakil Bupati Malaka.
HMS berdiri menunduk dengan tangan terkatup. Ia menerima doa itu tidak sebagai ritual keagamaan yang berbeda dari imannya, tetapi sebagai bentuk kasih dan penghormatan seorang gembala kepada seorang pemimpin daerah. Doa lintas iman itu terasa sebagai jembatan spiritual yang menyatukan dua tradisi dalam satu tujuan: kebaikan dan kedamaian.
Momen itu berlangsung sederhana. Tak ada protokol, tak ada formalitas panjang. Hanya kehangatan yang memancar dari dua sosok yang selama ini menjalin hubungan baik demi pelayanan bagi masyarakat Malaka.
Kedatangan Uskup dan Para Diakon
Uskup Dominikus Saku tiba di Betun bersama sembilan Diakon Keuskupan Atambua yang akan ditahbiskan menjadi imam Katolik pada Jumat keesokan harinya di Paroki Santa Maria Fatima Betun. Tahbisan ini menjadi salah satu peristiwa rohani terbesar bagi umat Katolik di wilayah Malaka.
HMS ikut serta dalam penjemputan, bukan hanya karena posisinya sebagai Wakil Bupati, tetapi karena kedekatannya dengan para pemimpin gereja yang sudah terjalin sejak lama. Bagi banyak umat, kehadiran HMS selalu terasa sebagai bentuk dukungan yang tulus terhadap kehidupan beragama di Malaka.
Persaudaraan yang Mengakar dalam Budaya Malaka
Malaka adalah tanah yang dibangun oleh keberagaman yang rukun. Di sini, umat Katolik dan Protestan saling bersentuhan dalam kehidupan sehari-hari, dalam adat, dalam keluarga, dan dalam pelayanan sosial. Karena itu, doa lintas iman seperti yang terjadi pada Kamis senja bukanlah hal asing, justru menjadi bagian dari identitas lokal yang kuat.
Kedekatan HMS dengan para imam Keuskupan Atambua kerap disebut sebagai contoh nyata bagaimana pemimpin daerah merawat hubungan spiritual dengan para pemuka agama, tanpa memandang perbedaan doktrin. Bagi HMS, gereja bukan hanya tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga mitra moral dan sosial dalam pembangunan daerah.
Doa untuk Malaka
Doa Uskup untuk HMS malam itu terasa seperti doa untuk seluruh Kabupaten Malaka, untuk pemerintahan yang berjalan, untuk masyarakat yang bertumbuh, dan untuk persaudaraan yang terus dijaga. Sebuah pengingat bahwa di balik tugas-tugas duniawi, selalu ada ruang untuk merendahkan hati dan memohon penyertaan Yang Ilahi.
Kamis senja itu menjadi peristiwa kecil yang menyentuh banyak hati: tentang pemimpin yang menghargai lintas iman, tentang Uskup yang memberikan berkat tanpa batas denominasi, dan tentang Malaka yang terus memupuk harmoni dalam keberagaman.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
