RaebesiNews.com – Matahari bersinar terik siang itu di Desa Nanin, Kecamatan Rinhat. Angin semilir menyapu dedaunan lontar dan kelapa yang tumbuh lebat di sekitar rumah-rumah bulat beratap ilalang. Di tengah suasana alam yang masih asri, sebuah peristiwa penuh makna lahir tanpa diduga.
Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), berdiri berjejer bersama para tetua adat dan masyarakat Desa Nanin. Wajah-wajah penuh wibawa itu mengenakan kain tenun khas, sementara di belakang mereka berdiri rumah-rumah adat beratap alang-alang yang sederhana tapi sarat makna.
Momen ini bukan sekadar pertemuan biasa. Di Nanin, HMS menemukan sesuatu yang jauh lebih dalam, akar sejarah dan ikatan keluarga.
Rumah Adat Simu di Nanin
Saat berbincang dengan masyarakat, HMS dibuat terkejut ketika mendengar bahwa di Nanin terdapat rumah adat atau suku bernama Simu. Nama itu tentu tidak asing baginya. Ia pun langsung meminta para tetua adat menceritakan asal-usul rumah Simu.
Menurut para tetua, leluhur Simu di Nanin berasal dari Fatumea (Tiles). Dari sana mereka menempuh perjalanan panjang sebelum menetap dan berakar di Nanin. Cerita itu membuat HMS terdiam sejenak, lalu tersenyum penuh keheranan bercampur haru.
Pasalnya, ia sendiri mengetahui bahwa leluhurnya juga berasal dari Fatumea, sebelum akhirnya menetap di Weluli, Lamaknen, Kabupaten Belu. Benang merah sejarah itu tiba-tiba saja terajut di hadapannya.
“Kita ini keluarga. Saya akan datang terus di sini,” ungkap HMS dengan nada tulus, disambut senyum hangat masyarakat Nanin.
Pertemuan yang Menghangatkan
Pernyataan itu seolah menjadi jembatan baru yang menyatukan kembali dua jalur keturunan Simu yang telah lama berpisah. Para tetua adat menyambut HMS tidak hanya sebagai seorang pejabat, melainkan sebagai anak yang pulang ke rumah lamanya.
Pose bersama yang diabadikan di depan rumah adat menjadi bukti nyata, bahwa sejarah, meski kadang terserak, selalu tahu caranya mempertemukan kembali.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Bagi HMS, pertemuan ini adalah salah satu pengalaman paling berkesan sepanjang perjalanan kepemimpinannya. Ia datang ke Nanin bukan hanya untuk bersilaturahmi, tapi menemukan kembali identitas dan warisan leluhur.
“Saya merasa seperti kembali ke asal. Ini bukan sekadar kunjungan, ini pulang,” ungkapnya.
Sejak hari itu, HMS berjanji akan selalu hadir dan menjaga ikatan dengan keluarga Simu di Nanin. Karena pada akhirnya, jabatan hanyalah sementara, tapi darah dan sejarah adalah ikatan abadi.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









