RaebesiNews.com – Kampung Numbei, sebuah kampung tua di Desa Kateri, Kecamatan Malaka Tengah, telah lama hidup dalam sunyi yang memanjang. Di tengah gegap-gempita pembangunan di berbagai wilayah, Numbei seperti titik kecil yang tertinggal di pinggang Sungai Benenain.
Puluhan kepala keluarga yang mendiami tanah leluhur itu menjalani hidup dengan cara yang sama sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya: berjalan kaki menyeberangi sungai, menunggu cuaca bersahabat, dan menerima kenyataan bahwa akses menuju Kota Betun hanya bisa ditempuh bila alam mengizinkan.
Musim hujan adalah musim yang paling menakutkan. Ketika Benenain menebalkan suaranya dan mengeruh oleh lumpur pegunungan, arusnya berubah menjadi dinding air yang tak bisa dilawan. Pada waktu-waktu genting seperti itu, Numbei kehilangan daya untuk bergerak.
Ibu hamil yang hendak dirujuk ke rumah sakit harus berdoa lebih lama, keluarga pasien menatap pasrah ke sungai yang menghalangi; dan para tetua adat hanya bisa menggeleng perlahan, karena mereka tahu, sejak dulu itulah nasib kampung itu.
Padahal Numbei bukan kampung sembarangan. Ia adalah salah satu kampung tertua di tanah Wehali, penjaga situs-situs bersejarah yang bernilai tinggi. Batu-batu tua, lorong-lorong adat, dan simbol-simbol kebesaran Liurai Wehali tersimpan di sana, seolah menunggu untuk kembali diperkenalkan kepada dunia.
Pemerintah pernah mencoba mengajak mereka ikut program transmigrasi, sebuah tawaran keluar dari kesulitan. Namun warga Numbei menolak. Mereka memilih bertahan di tanah yang diwariskan leluhur, tanah yang menyimpan roh dan ingatan ribuan cerita. Bagi mereka, meninggalkan Numbei sama saja dengan menghapus jejak sejarah sendiri.
Kerinduan akan jembatan dan akses jalan itu akhirnya menemukan cahaya di era pemerintahan SBS–HMS. Bukan melalui janji yang penuh retorika, tetapi melalui tindakan nyata yang turun ke tanah.
Pada Jumat 21, Dinas PUPR Kabupaten Malaka yang dipimpin Plt. Kadis PUPR, Lorens L. Haba, telah melakukan MC-0, tahap awal pengerjaan di lokasi yang selama ini hanya menjadi bahan diskusi, tetapi tak pernah benar-benar disentuh.
Tahun ini, jembatan gantung yang menghubungkan Kampung Numbei dengan Desa Kakaniuk mulai dikerjakan. Kata “mulai” di sini bukanlah kata sambil lalu. Ini adalah kata yang telah ditunggu puluhan tahun, kata yang membuat warga Numbei menghela napas panjang sambil menatap ke arah masa depan yang perlahan terbuka.
Nanti, saat jembatan gantung itu berdiri melintasi Benenain, banyak hal akan berubah. Anak-anak tak lagi menunda sekolah hanya karena arus sungai terlalu ganas. Para petani bisa mengangkut hasil kebunnya ke pasar tanpa harus berjudi dengan banjir. Ibu hamil tak lagi harus memilih antara berangkat malam-malam atau menunggu esok yang penuh ketidakpastian. Bahkan ritual adat pun akan lebih mudah dijalankan karena akses yang selama ini tertutup akan terbuka dengan sendirinya.
Di antara warga, ada yang meneteskan air mata, ada yang bersujud syukur. Bagi mereka, jembatan bukan sekadar bangunan yang menyambungkan dua daratan, melainkan simbol bahwa pemerintah akhirnya datang mengetuk pintu kampung tua itu. Mereka merasa dihargai. Mereka merasa diakui. Dan mereka merasa bahwa sejarah panjang keterisolasian itu akhirnya menemukan titik akhir.
Di era SBS–HMS, pembangunan bukan hanya tentang angka di atas kertas. Ini tentang mendekatkan negara kepada warganya yang paling jauh, tentang meluruskan ketidakadilan yang sudah terlalu lama dianggap biasa. Ini tentang menghadirkan kemerdekaan yang sesungguhnya, kemerdekaan bergerak, kemerdekaan mengakses layanan dasar, kemerdekaan untuk tidak lagi terjebak dalam ketakutan menyeberangi sungai yang berubah menjadi monster saat hujan turun.
Kampung Numbei sedang membuka lembaran baru. Dan jembatan yang akan dibangun itu bukan hanya menghubungkan Numbei dan Kakaniuk, melainkan mengajarkan kita bahwa pembangunan yang menyentuh yang paling pinggir adalah pembangunan yang paling manusiawi.
Sebentar lagi, saat tali-tali jembatan itu ditegangkan dan pijakan kayunya diletakkan satu per satu, Numbei akan menghirup aroma kemerdekaan yang terlambat puluhan tahun. Tetapi sekalipun terlambat, kemerdekaan itu tetap terasa manis.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











