Daerah  

Saat Ini, Pengolahan Lahan Kering di Malaka Tembus 905,40 Hektare, 33 Traktor Beroperasi Nonstop

Screenshot 2025 09 30 10 01 57 71 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12 1243643352

RaebesiNews.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten Malaka dalam mendukung ketahanan pangan terus dibuktikan. Berdasarkan Laporan Harian Pengolahan Lahan Kering dengan Traktor Besar (TR4) per Kamis, 2 Oktober 2025, total lahan yang telah diolah mencapai 905,40 hektare.

Sebanyak 33 unit traktor besar dikerahkan dan bekerja setiap hari di berbagai kecamatan, dari Wewiku hingga Kobalima Timur.

Pelayanan Nyata dari Pemerintahan SBS-HMS

Capaian ini merupakan wujud nyata dari kepemimpinan Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS) yang menegaskan bahwa pemerintahan mereka ada untuk bekerja, melayani, dan memajukan kesejahteraan umum masyarakat.

Bagi SBS-HMS, pertanian bukan hanya sektor, tetapi tulang punggung kehidupan orang Malaka, karena itu harus diperlakukan secara serius dan modern.

Pernyataan Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu

Menanggapi capaian tersebut, Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu memberikan pernyataan tegas:

“Kami tidak mau rakyat bekerja sendiri. Pemerintah harus turun langsung membantu. Traktor yang kami turunkan ini bukan untuk diparkir di kantor, tapi untuk bekerja di tanah rakyat. Selama SBS-HMS memimpin, tidak boleh ada lahan tidur di Malaka.”

Ia menambahkan bahwa pemerintah memastikan seluruh pelayanan tetap gratis bagi petani, tanpa pungutan liar dan tanpa diskriminasi.

“Siapa pun yang mau olah lahan, lapor ke pemerintah. Jangan takut, jangan malu. Kita semua bekerja untuk masa depan pangan Malaka,” tegasnya.

Dampak Nyata di Lapangan

Wewiku: 129,35 Ha

Malaka Barat: 189,12 Ha

Weliman: 163,88 Ha

Malaka Tengah: 119,51 Ha

Dan kecamatan lainnya turut menyumbang hingga total 905,40 Ha lahan sudah siap tanam.

Seorang petani di Weliman berkata, “Kalau dulu kami tunggu musim hujan dan tenaga manusia, sekarang kami punya mesin yang bekerja lebih cepat dari kami. Ini baru pemerintah yang hadir.”

Dengan ritme kerja seperti ini, Malaka sedang menuju musim tanam terbaik dalam sejarahnya. Program mekanisasi pertanian ini bukan hanya data, tetapi suara mesin yang menderu di tengah kampung, tanda pemerintah benar-benar bekerja untuk rakyat.

SBS-HMS telah membuktikan: kepemimpinan bukan soal jabatan, tetapi soal pelayanan. Dan pelayanan terbaik adalah ketika petani merasa tidak berjuang sendirian.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *