Daerah  

Marius Boko: HMS Tidak Salah Baca Teks Proklamasi

Marius Boko 1779793153

RaebesiNews.com – Upacara Bendera 17 Agustus 2024 di Kabupaten Malaka dipimpin langsung oleh Bupati Malaka,  Simon Nahak.

Upacara Bendera memperingati Hari Ulang Tahun RI ke-79 di Malaka itu berlangsung lancar dan sukses.

Pada bagian pembacaan teks proklamasi, dibacakan oleh ketua Komisi III DPRD Kabupaten Malaka,  Henri Melki Simu.

Adapun teks proklamasi itu sudah disiapkan oleh bagian pemerintahan Setda Kabupaten Malaka.

Usai upacara Bendera, Henri Melki Simu dituduh salah membaca teks proklamasi, dalam pemberitaan media online.

Hal ini pun menjadi perbincangan hangat di media sosial, walaupun sudah ada klarifikasi dari Kabag Pemerintahan Setda Kabupaten Malaka.

Bagian Pemerintahan Setda Kabupaten Malaka, membenarkan apa yang dibacakan oleh HMS tersebut.

Terkait hal itu, politisi senior Belu – Malaka Marius Boko angkat bicara.

Menurut Marius Boko,  apa yang dibacakan oleh HMS itu sudah benar dan tepat.

“Terkait pembacaan teks proklamasi oleh anggota DPRD Malaka, saudara Henri Melki Simu, menurut pandangan saya adalah tidak salah dikarenakan ketika saya masih aktif menjadi anggota DPRD Kabupaten Belu saya pun membaca sesuai teks yang diberikan oleh bagian pemerintahan setda Belu,” kata Marius Boko ketika diwawancarai media RaebesiNews.com, Senin (19/08/2024).

“Jadi tergantung apakah kita mau membaca tanggal 17 bulan 8 tahun 1945 atau tanggal 17 bulan delapan tahun 05, kedua duanya tidak yang salah,” kata Marius Boko lagi.

Kisah Marius Boko, saat dirinya membaca teks proklamasi itu di upacara hari kemerdekaan yang tentunya dihadiri pejabat daerah setempat.

Lanjut Marius,  ada beberapa rekan anggota DPRD yang junior mempertanyakan hal itu kepada dirinya.

“Tergantung apakah anda menggunakan yang saat ini yakni dibacakan 17.08.1945 ataukah sesuai teks aslinya 17.08.05. Karena saya ingin tetap mengenang secara historis sejarah kemerdekaan maka saya membaca 17.08.05. Tetapi ada beberapa teman yang bertugas di kecamatan lain membaca 17.08.1945, kami semua anggota DPRD Belu tidak pernah berdebat terkait masalah penyebutan angka ini,” ujar Marius Boko.

Marius Boko juga memberi contoh, generasi yang lahir tahun 90an atau 2000an mungkin saja ada yang sudah lupa atau malah tidak tahu kalimat kompeni atau kempetai.

“Bagi yang sudah berumur diatas 50an pasti banyak yang mengingat kalau kompeni itu disamakan dengan penjajah Belanda, sedang kempetai atau nipon adalah penjajah Jepang,” kata Marius Boko memberikan pencerahan.

“Padahal jika kita melihat kata dasarnya kata Company yang artinya perusahaan dagang. Ketika ada yang berbicara jaman “kompeni” maka bagi saya langsung tertuju ke maksudnya yakni jaman penjajahan Belanda, demikian pula ketika yang dibicarakan kata “kempetai”. Jadi pada hakekatnya ketika teks proklamasi yang dibacakan itu tergantung dari setiap individu mau menggunakan teks historisnya tahun 05 atau tahun 1945, asal tidak merubah angka selain yang disebutkan diatas,” tegas Marius Boko.

Diakhir kata, Marius Boko mengajak generasi muda, agar sama-sama belajar sejarah untuk memperkaya literasi.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *