RaebesiNews.com – Di bawah langit Rinhat yang kadang biru kadang kelabu, ada sebuah kampung kecil yang jarang disebut dalam percakapan pembangunan.
Namanya Kampung Arak, sebuah wilayah di ujung Desa Naet, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka. Dikelilingi hutan kecil, batu-batu keras, dan jalan terjal yang seolah menolak perubahan, kampung ini berdiri tegar di bantaran Kali Benenai.
Kampung Arak bukan sekadar tempat, ia adalah wajah dari banyak kampung lain yang tersembunyi di peta pembangunan Indonesia.
Sehari-hari, warga hidup dengan seadanya. Tidak ada jaringan air bersih, tiang listrik pun belum menancap tegak. Sawah-sawah yang bisa menghidupi tak kunjung produktif karena tak ada saluran irigasi yang layak.
Baca Juga: Filosofi ‘Omong A, Buatnya A’: Konsistensi SBS Kembali Terbukti
Namun hari Rabu, 7 Mei 2025, adalah hari yang berbeda. Untuk pertama kalinya, Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu, datang menginjakkan kaki di tanah penuh debu itu. Bersama Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) serta Kadis Pertanian, ia menjawab jeritan yang selama ini hanya sampai di telinga langit.
“Kami kesulitan air bersih, listrik, dan saluran air untuk sawah,” ujar Yeremias Tahu, warga Kampung Arak, dengan suara yang lirih tapi tegas.
Mereka yang hadir hari itu tak datang dengan janji kosong. Wakil Bupati mendengarkan, mencatat, dan memberikan solusi jangka pendek.
“Untuk air bersih, kita bantu mobil tangki dari kecamatan. Kalau bak penampungannya kotor, kita siapkan motor air. Masukkan proposal ke Dinas Pertanian,” katanya di hadapan warga.
Soal listrik, ia pun berkomitmen. Ia meminta warga dan kepala desa menyiapkan proposal bersama untuk diajukan ke PLN Betun. Tak hanya memberi arahan, ia berjanji mendampingi langsung ke PLN.
Baca Juga: Bupati SBS: Kepala Desa Tak Boleh Seenaknya Ganti Aparat, Ada Aturan Mainnya!
“Saya bantu nanti. Kita ke Betun sama-sama. Saya selalu ada waktu untuk masyarakat,” ucap Henri Melki Simu.
“Saya baru pertama kali ke Kampung Arak. Mungkin ini karena bisikan Tuhan.”
Sebuah pengakuan yang jujur. Kampung Arak memang bukan tempat yang mudah dijangkau. Jalannya rusak parah, penuh batu dan lumpur. Untuk sampai ke sana butuh lebih dari sekadar kendaraan; dibutuhkan niat dan keberanian.
Dianggap Berkembang, Tapi Terlupakan
Yang membuat situasi semakin miris, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Desa Naet sebagai desa berkembang. Tapi Kampung Arak, salah satu dusun paling ujung, nyaris tak kebagian manfaat dari status itu.
“Kami guru yang mengajar di sini tidak dapat tunjangan daerah terpencil karena datanya masuk desa berkembang. Padahal faktanya kami sangat terpencil dan penuh kesulitan,” keluh Norbertus Leu, guru yang setiap hari menempuh medan berat hanya untuk mengajar anak-anak Arak.
Data telah menyelubungi realita. Lima dusun lain di Desa Naet yang lebih dekat ke pusat Kecamatan Rinhat turut membentuk angka “desa berkembang”.
Sementara Kampung Arak, yang terpencil dan nyaris terisolasi, ikut terseret dalam statistik yang tak mencerminkan kenyataan.
Baca Juga: Pungutan Liar di Tengah Kesulitan: Kepala Desa Nanin Diduga Bebani Warga Saat Kedukaan
Harapan Baru: Pemekaran Desa
Masyarakat kemudian mengusulkan solusi: pemekaran desa. Mereka ingin Kampung Arak berdiri sebagai desa sendiri. Bukan hanya soal kebanggaan, tapi agar pembangunan bisa masuk lebih tepat sasaran.
“Kalau bisa Kampung Arak jadi desa sendiri,” ujar beberapa tokoh masyarakat yang hadir.
Menanggapi hal itu, Kadis PMD Remigius Bria Seran memberi penjelasan. Pemekaran desa memang dimungkinkan, namun ada persyaratan administratif yang harus dipenuhi sesuai Permendagri No. 1 Tahun 2017:
Jumlah penduduk: Minimal 800 jiwa atau 160 kepala keluarga.
Wilayah: Harus memiliki batas wilayah yang jelas dan disetujui desa induk.
Potensi: Harus punya potensi ekonomi, sosial budaya, dan kemampuan penyelenggaraan pemerintahan.
Sarana prasarana dasar: Harus ada fasilitas dasar pemerintahan, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
“Solusinya memang harus mekar. Kalau tidak, pembangunan tidak akan pernah tepat sasaran,” tegas Remigius Bria Seran.
Sumur Harapan dan Mimpi Panjang
Tahun ini, menurut Kepala Desa Naet, Amandus Tae, dua unit sumur akan dibangun di Kampung Arak. Tapi dua sumur tidak akan cukup menuntaskan dahaga sebuah kampung yang telah bertahun-tahun kering oleh perhatian.
“Kami bersyukur ada sumur. Tapi kami juga butuh jalan, listrik, sekolah yang layak,” kata seorang ibu sambil menggenggam tangan anaknya.
Di tengah kekurangan, ada semangat. Masyarakat Kampung Arak tidak pasrah. Mereka meminta, menyuarakan, dan kini mulai bergerak. Mereka tahu, menjadi desa berarti diakui. Bukan hanya sebagai titik di peta, tapi sebagai komunitas yang berhak hidup layak.
Baca Juga: Warga Berebut Salaman, Wapres Gibran Disambut Hangat di Kabupaten Sikka NTT
Dari Kampung Terpencil Menuju Fajar Baru
Kampung Arak mungkin hanya satu dari ribuan kampung serupa di Indonesia. Tapi dari tepian Kali Benenai, suara mereka mulai menggema. Mereka tidak meminta lebih, hanya meminta agar pembangunan datang merata.
Kampung ini telah menunggu terlalu lama. Kini mereka melangkah, pelan tapi pasti. Jika langkah itu disambut dengan kebijakan yang berpihak, mungkin suatu hari nanti, Kampung Arak tak lagi disebut sebagai ‘terpencil’. Ia akan menjadi desa mandiri, berdiri tegak dengan nama sendiri, dan kisahnya tak lagi dibisikkan, tapi diceritakan dengan bangga.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











