Oleh: Frido Umrisu Raebesi
RAEBESIBEWS.COM – Di ujung musim kemarau, debu beterbangan di ruas jalan tanah antara Bo’en dan Koloweuk. Anak-anak sekolah menyeberang sungai dengan sepatu di tangan, sementara ibu-ibu membawa hasil kebun di atas kepala, melintasi arus dangkal yang kadang menipu.
Mereka masih menanti jembatan. Menanti seperti petani menatap langit kosong berharap hujan turun, meski tahu awan tak kunjung datang.
Baca Juga: Warga Angkaes Bentuk Koperasi Mera Putih, Kristin Elisabeth Heny Nahak Terpilih Jadi Ketua
Dulu, di bawah kubah Sidang DPRD di Betun, suara seorang bupati pernah menggema, membawa kabar seolah hujan pembangunan akan turun dari pusat negeri.
Simon Nahak, dengan keyakinan yang membuncah, menjanjikan tiga jembatan: Bo’en, Koloweuk, dan Benenai II di Aintasi. Ia bicara tentang konektivitas, tentang akses rakyat, tentang keadilan untuk Dapil 3 bahkan mengaku tetap mencintai daerah itu meski kalah suara di sana.
“Saya kalah di Dapil 3, tetapi saya akan tetap bangun di sana,” ucapnya percaya diri.
Baca Juga: Halaman Rumah Warga Di Kualin, TTS Amblas
“Pekerjaan-pekerjaan itu akan dibangun dengan dana APBN.”
“Saya sangat yakin rencana-rencana di atas dapat terealisasi.”
Namun kenyataan berjalan tanpa suara fanfare. Hingga akhir masa jabatan Simon Nahak sebagai Bupati Malaka, rakyat hanya menyaksikan janji-janji yang layu sebelum tumbuh.
Tidak ada pengerjaan jembatan. Tidak ada aktivitas konstruksi. Tidak ada papan proyek. Tidak ada kantor camat baru di Malaka Tengah seperti yang pernah dijanjikan.
Baca Juga: Di Bawah Tangan Terentang: Ziarah Sunyi ke Patung Tuhan Yesus Memberkati Manado
Yang ada hanya sunyi. Dan kekecewaan.
Di Koloweuk, seorang lelaki tua memetik daun kelor di dekat bekas jembatan darurat yang ambruk dua tahun lalu. Ia tertawa kecil ketika ditanya soal janji pembangunan.
“Ah, jembatan itu? Mungkin dibangun di negeri dongeng,” katanya. Lalu diam sejenak. “Tapi kami di sini bukan tokoh cerita. Kami orang hidup. Kami butuh jembatan sungguhan.”
Janji Simon Nahak kini hanyalah cerita yang diceritakan ulang di pos ronda dan kios-kios tuak. Ia jadi semacam hikayat politik, seperti dongeng, tapi menyakitkan karena nyata. Orang mengenangnya bukan karena jembatan yang ia bangun, melainkan jembatan yang ia janjikan namun tak pernah muncul.
Baca Juga: Ketika yang Kalah Tak Tahu Diri: Memainkan Isu Hoax Tujuan Adu Domba
Simon Nahak telah meninggalkan jejak ingatan kelam bukan di jalan yang membentang lurus, tetapi di retakan janji yang tak pernah diperbaiki.
Jembatan-jembatan yang ia sebut dengan penuh keyakinan kini menjadi simbol dari apa yang gagal ditepati. Ia tidak meresmikan pembangunan, hanya melukis angan yang luntur bersama musim.
Rakyat Malaka tidak bisa berjalan di atas angin, mereka butuh tiang dan beton, bukan kata-kata.
Baca Juga: Dua Utusan PSSI Malaka Ikut Pelatihan Pengawas Pertandingan di Kupang
Dan kini, ketika kursi kekuasaan itu telah diduduki orang lain, rakyat kembali pada satu pelajaran lama: janji tanpa realisasi hanyalah lorong hampa yang menggema dengan kekecewaan.
Mereka tetap melintasi sungai. Menantang banjir. Menambal harapan dengan sabar – sabar yang tak bisa dijual di pasar, tak bisa ditukar dengan aspal, dan tak cukup untuk menggantikan jembatan yang seharusnya sudah lama mereka miliki.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









