Daerah  

Janji-janji yang Tumbuh Lalu Layu: Jejak Gagal Branding Pangan Lokal Era Simon Nahak di Malaka

Screenshot 20250520 073800 Chrome 3550549654

RAEBESIBEWS.COM – Di tanah kering yang retak-retak di ujung selatan Pulau Timor, harapan pernah ditanam dalam wujud nama-nama puitis: Beras Nona Malaka, Fore Lakateu, Jagung Manek Malaka, dan Madu Nona Malaka. Namun seperti benih yang tak disiram, program-program unggulan era Bupati Simon Nahak itu kini tinggal kenangan getir.

Masyarakat bertanya: mengapa semua yang diagung-agungkan, hanya hidup dalam baliho, bukan di dapur rakyat?

Baca Juga: Bupati Malaka Terbitkan Surat Edaran Pemeriksaan Administrasi Bagi Peserta PPPK Tahap I dan II Tahun 2024

Beras Nona Malaka: Karung Kosong Berlabel Citra

Di gudang produksi Beras NonaMalaka, Desa Wehali, berjejer karung-karung berdesain mewah bertuliskan “Beras Nona Malaka.” Tak satupun berisi beras.

“Ini hanya bungkus pencitraan,” ujar Markus Berek, tokoh tani setempat.

Program yang dimaksudkan sebagai lompatan menuju kedaulatan pangan itu tak pernah menyentuh akar rumput. Petani mengaku tak pernah dilibatkan. Tak ada skema pembelian gabah. Tak ada distribusi beras. Yang ada hanyalah pengadaan karung dalam jumlah besar dengan biaya ratusan juta rupiah, lalu lenyap ditelan birokrasi.

Pemerintah daerah berdalih, “rantai distribusi belum siap.” Namun bagi warga, ini hanyalah karung kosong berisi janji hampa.

Baca Juga: SBS dan KDM Sepakat: Kantor Mewah Tak Penting, Rakyat Butuh Rumah, Jalan dan Layanan Kesehatan Gratis

Fore Lakateu: Kacang Hijau, Janji Pahit

Fore Lakateu, dalam bahasa Tetun berarti kacang hijau. Nama ini dipilih untuk membalut program andalan Pemkab Malaka yang bertujuan memberdayakan petani lokal melalui skema tanam dan beli.

Petani diberi benih dan dijanjikan pembelian hasil panen dengan harga premium. Tetapi begitu musim panen tiba, yang datang bukan truk pembeli, melainkan rombongan pejabat berswafoto di ladang.

“Setelah mereka pulang, kami menunggu. Hari berganti minggu. Tak ada kabar. Akhirnya kami jual ke tengkulak dengan harga murah,” keluh Agus, petani dari Alas Selatan.

Data Dinas Pertanian menyebutkan ratusan hektare lahan sempat ditanami kacang hijau dalam program ini. Tapi tidak ditemukan dokumen pembelian kembali hasil panen. Para petani merasa ditinggalkan, hasil kerja keras mereka dikhianati.

Baca Juga: Potensi Laut Malaka Sangat Besar, SBS: Belajar dari Ambon, Jangan Malu

Jagung Manek Malaka: Manis di Mulut, Gagal di Ladang

Jagung adalah sumber pangan dan pakan yang vital. Dalam kampanye, Simon Nahak menjanjikan program “Jagung Manek Malaka” sebagai lompatan produksi. Namun setelah menjabat, jagung justru tak pernah tumbuh di ladang.

Saat harga jagung melonjak tahun 2022, Malaka justru mencatat defisit produksi. Petani tak memiliki akses benih unggul atau alat pertanian. Sementara itu, dana miliaran untuk pengembangan jagung sempat dianggarkan, tapi tidak jelas digunakan untuk apa.

Baca Juga: Warga Apresiasi Pemkab Malaka: Jalan Diperbaiki, Mata Air Ikut Dilestarikan

Madu Nona Malaka: Ide Mendadak, Hilang Tanpa Jejak

Tidak ada yang menyebut madu dalam kampanye. Namun setelah menjabat, pemerintah tiba-tiba menggaungkan potensi lebah hutan dan meluncurkan label “Madu Nona Malaka.”

Sayangnya, seperti program lainnya, ini hanya berhenti pada label. Peternak lebah lokal tidak dilibatkan. Tidak ada pelatihan, tidak ada pengolahan, tidak ada pembeli.

“Tak pernah ada pertemuan atau pelatihan. Kami juga bingung, itu madunya dari mana?” kata Yohanes Benu dari Rinhat.

Baca Juga: Revitalisasi Jalan dan Drainase Tubaki: Sinergi Infrastruktur dan Perlindungan Sumber Air di Malaka

Seruan Audit dan Harapan Baru

Kini, masyarakat Malaka menggantungkan harapan pada Bupati Stefanus Bria Seran dan Wakil Bupati Henri Melki Simu. Mereka menuntut audit investigasi menyeluruh terhadap dua program besar: Beras Nona Malaka dan Fore Lakateu.

“Kami minta Inspektorat turun tangan. Jangan biarkan uang rakyat menguap tanpa pertanggungjawaban,” tegas Alfred Nahak, aktivis muda dari Malaka Tengah.

Lumbung yang Ditinggalkan Mimpi

Program pangan seharusnya menumbuhkan kedaulatan, bukan sekadar propaganda. Petani bukan latar belakang foto kampanye. Jika branding lokal hanya sebatas slogan tanpa sistem produksi dan distribusi yang kuat, maka ia hanyalah janji yang tumbuh lalu layu.

Kini masyarakat menanti: apakah era baru ini akan menumbuhkan kembali kepercayaan—dengan bukti, bukan basa-basi?***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *