RaebesiNews.com – Aksi demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Revolusi Malaka di depan Kantor DPRD Kabupaten Malaka berujung menjadi bahan pembicaraan masyarakat.
Bukan karena jumlah massanya yang besar, melainkan justru karena realitas di lapangan jauh berbeda dengan yang tertulis dalam surat pemberitahuan aksi.
Dalam surat yang beredar luas sebelumnya, disebutkan massa aksi akan mencapai 1.000.000 orang. Angka fantastis ini sontak membuat masyarakat Betun resah.
Banyak warga mengaku khawatir dan waspada, terlebih setelah beberapa hari terakhir viral aksi demo anarkis di kota-kota besar Indonesia yang menelan korban jiwa serta merusak fasilitas umum.
Namun, ketika hari H tiba, kenyataan berkata lain. Pantauan media di lapangan menunjukkan jumlah massa yang hadir tidak lebih dari 30 orang. Bahkan, salah seorang warga menyindir bahwa baliho yang dibentangkan pendemo lebih panjang dibanding barisan massa.
“Asli sangat meresahkan dan ini pembohongan publik. Bikin orang panik dan takut sehingga tidak berani beraktivitas hari ini. Kita takut juga dengan surat pemberitahuan yang beredar bahwa akan ada demo dengan masa berjumlah 1.000.000 orang. Tapi fakta hari ini hanya belasan orang saja,” ungkap Yanto Seran, warga Desa Wehali.
Yanto menambahkan, dirinya menghargai semangat mahasiswa yang ingin menyuarakan aspirasi rakyat. Namun ia menilai, cara yang dilakukan kali ini justru kontraproduktif karena menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Kalau mau demo silakan, itu hak demokrasi. Tapi jangan sampai bikin panik orang banyak. Bayangkan, bunyi 1.000.000 orang, yang datang cuma belasan. Malah baliho lebih panjang daripada barisan,” tambahnya sambil tersenyum miris.
Meski jumlah massa minim, aparat kepolisian dari Polres Malaka tetap sigap mengawal jalannya aksi. Pendekatan humanis dilakukan agar situasi tetap kondusif. Alhasil, aksi berjalan aman tanpa insiden.
Setelah berorasi di depan gerbang, perwakilan demonstran akhirnya diizinkan masuk bertemu anggota DPRD dan pemerintah daerah untuk menyampaikan tuntutan mereka.
Fenomena “massa 1 juta” yang ternyata hanya segelintir orang ini kini ramai diperbincangkan. Sebagian masyarakat menilai hal tersebut sebagai “drama politik jalanan”, sementara yang lain menganggapnya sebagai bentuk ekspresi yang wajar, meski eksekusinya jauh dari ekspektasi.
Yang jelas, peristiwa ini memberi pelajaran bahwa setiap aksi sebaiknya dilandasi dengan tanggung jawab moral, agar tidak menimbulkan keresahan publik dengan klaim berlebihan.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









