Daerah  

Aktivis Karbitan di Malaka: Dulu Penikmat Kekuasaan, Kini Berteriak Paling Benar Setelah Kalah Pilkada

Screenshot 2025 09 06 08 37 06 39 99c04817c0de5652397fc8b56c3b3817 2147999886 1

RaebesiNews.com – Fenomena aktivis karbitan di Kabupaten Malaka memasuki fase paling memalukan. Mereka yang dulu hidup dalam kenyamanan kekuasaan dan sibuk menadah keuntungan, kini tiba-tiba tampil sebagai sosok paling kritis, paling vokal, dan paling idealis, setidaknya menurut versi mereka sendiri.

Padahal seluruh masyarakat Malaka sangat ingat bagaimana mereka dulu memilih diam ketika tiga kasus besar menghantam Malaka: RS Pratama Wewiku, Rumah Bantuan Seroja, dan proyek septic tank. Tiga proyek bernilai besar yang meninggalkan tanda tanya dan kekecewaan publik, namun mereka bungkam seribu bahasa. Tidak ada satu pun dari mereka yang waktu itu menyebut kesalahan, apalagi meminta pertanggungjawaban.

Mengapa mereka diam?
Jawabannya mudah: ketika itu mereka berada di lingkaran nyaman. Mereka adalah penikmat, bukan pengawas. Mereka merasakan keuntungan, kedekatan dengan kekuasaan, dan tentu saja pengaruh politik yang membuat mulut mereka terkunci rapat.

Dugaan kuat berkembang di masyarakat bahwa sebagian dari mereka terlibat, atau setidaknya bekerja di bawah orang-orang yang bermain dalam proyek-proyek bermasalah tersebut. Karena itu, menuntut keadilan pada masa itu sama saja dengan menampar wajah sendiri dan tentu saja, mereka tidak akan melakukan hal sepicik itu.

Namun segalanya berubah ketika Pilkada usai. Kekalahan politik tiba-tiba merampas kenyamanan mereka. Mereka kehilangan akses, kehilangan posisi, kehilangan privilese, dan lebih menyakitkan lagi kehilangan kendali. Dari sinilah muncul fenomena baru: aktivis karbitan. Aktivis dadakan. Aktivis instan. Mereka yang tiba-tiba “sadar” setelah kalah dan berusaha tampil seolah mereka adalah pembela kebenaran yang sesungguhnya.

Teriakan mereka kini diarahkan pada pemerintahan SBS-HMS, terutama terkait proyek pembangunan tanggul Oanmane di Malaka Barat dan Naimana–Motaain di Malaka Tengah. Padahal, faktanya proyek-proyek ini sangat penting bagi masyarakat, terutama dalam menghadirkan perlindungan terhadap pemukiman, lahan pertanian, dan akses masyarakat.

Tetapi bagi mereka, fakta bukanlah hal penting. Yang penting adalah berteriak, mengacaukan opini publik, dan membangun persepsi negatif.

Lucunya, mereka menyerang tanpa memahami dasar teknis apa pun.
Belum selesai masa pemeliharaan? Mereka langsung menuding proyek rusak.
Pekerjaan sesuai spesifikasi? Mereka mengatakan ada permainan.
Manfaat tanggul sudah dirasakan warga? Mereka pura-pura tidak melihat.

Seolah-olah bagi mereka tidak ada kebenaran kecuali apa yang memperkuat narasi kebencian terhadap pemerintahan baru. Mereka tidak pernah peduli pada fakta lapangan ataupun penjelasan resmi dari pihak teknis.

Yang mereka kejar hanya satu: memuaskan nafsu politik yang kalah, mencoba menggoyahkan pemerintahan, dan berharap kekacauan opini bisa menjadi modal untuk kembali menonjol di panggung publik.

Malaka ini kecil.
Terlalu kecil bahkan untuk menutupi motif-motif busuk dari para aktivis dadakan ini.
Masyarakat sudah sangat paham siapa mereka, dari mana mereka berasal, siapa bos mereka, dan apa kepentingan di balik jeritan yang mereka bungkus dengan bahasa “kepedulian publik”.

Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga membesar-besarkan kasus dugaan pemukulan oleh Ketua DPRD Malaka terhadap seorang warga. Tiba-tiba kasus ini digiring menjadi isu besar seolah seluruh masyarakat Malaka terancam karenanya. Padahal, publik tahu ini kasus personal, bukan korupsi, bukan kejahatan yang merugikan rakyat, dan bukan pula pelanggaran kebijakan publik.

Pihak Polres Malaka sudah menjelaskan secara rinci proses hukumnya, termasuk alasan mengapa penahanan tidak dilakukan. Tapi aktivis karbitan selalu punya kemampuan luar biasa: mereka pandai pura-pura tidak paham ketika penjelasan hukum tidak sesuai agenda politik mereka.

Mereka ingin Ketua DPRD ditahan bukan karena cinta pada keadilan, tetapi karena butuh isu besar untuk menyerang pemerintah. Mereka haus panggung. Mereka haus perhatian. Mereka ingin orang lupa bahwa dulu ketika ada dugaan korupsi yang menggerus anggaran miliaran rupiah, mereka justru diam seperti patung yang kehilangan suara.

Kini, setelah kehilangan segalanya, mereka berlari ke ruang publik membawa narasi tandingan. Mereka tak lagi punya kekuasaan, sehingga yang tersisa hanyalah suara yang sumbang, penuh kemarahan, dan miskin data. Mereka bukan pejuang rakyat mereka adalah bayang-bayang masa lalu yang tidak rela tersingkir.

Sementara itu, pemerintahan SBS–HMS terus bekerja. Bukan dengan berteriak, melainkan dengan tindakan nyata: membangun tanggul, menjaga pertanian dengan irigasi dari Kali Benenai, memberikan pelayanan kesehatan gratis dengan e-KTP, dan memastikan stabilitas pemerintahan berjalan.

Kerja nyata selalu lebih keras daripada suara kosong, dan inilah yang membuat para aktivis dadakan itu makin gelisah. Karena setiap keberhasilan pemerintahan baru adalah ancaman bagi mereka yang dulu hidup dari kelalaian pemerintah sebelumnya.

Dan akhirnya, publik Malaka kini melihat dengan jelas:
Siapa yang dulu diam saat rakyat dirugikan.
Siapa yang dulu hanya menikmati tanpa peduli.
Siapa yang kini berteriak setelah kehilangan sumber-sumber kenyamanan.

Untuk para aktivis karbitan yang hari ini sibuk membangun drama dan fitnah, ada satu pesan yang tidak perlu disampaikan dengan suara keras:

Malaka terlalu kecil untuk menyembunyikan kepalsuan.
Setiap langkah kalian terlihat.
Setiap suara kalian terbaca.
Dan setiap motif kalian sudah diketahui publik.

Boleh berteriak, boleh menggugat, boleh memainkan drama politik, tapi ingat: rakyat Malaka tidak mudah dibodohi dua kali.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *