Opini  

Kepada Para Aktivis Dadakan Jelmaan JAS, Rakyat Malaka Sudah Tahu Siapa Kalian

Screenshot 20250531 110947 WhatsApp 3284034722

RAEBESIBEWS.COM – Di sudut-sudut Malaka yang dahulu sunyi dan tenang, kini mulai terdengar riuh suara toa, spanduk warna-warni, dan barisan demonstran yang mengatasnamakan “rakyat kecil”.

Mereka menyebut diri “aktivis” datang seperti pahlawan kesiangan, menuding penguasa hari ini seolah semua keburukan berakar dari mereka.

Namun, siapa pun yang masih menyimpan ingatan jernih tentang Pilkada Malaka 2024 tahu: mereka bukan muncul dari rahim perjuangan, melainkan dari panggung politik.

Mereka adalah anak kandung kekalahan. Barisan yang dibentuk bukan di jalan perjuangan rakyat, tetapi di lorong-lorong strategi kekuasaan yang gagal total.

Baca Juga: Program Olahraga Berprestasi SBS-HMS Tembus Jakarta, Askab Malaka Resmi Gandeng Persija

Mereka adalah JAS (Jaringan Aktivis) sebuah jaringan yang sejatinya adalah sayap politik dari pasangan Simon Nahak dan Felix Bere Nahak. Dibentuk bukan untuk membela rakyat, melainkan untuk membela pasangan calon. Mereka bukan aktivis, mereka adalah operator politik yang berdandan dengan kostum gerakan moral.

Saat Diam Jadi Kompromi

Lucunya, ketika kekuasaan berada di tangan yang mereka bela, suara mereka nyaris tak terdengar. Tak ada teriakan saat proyek septic tank mangkrak dan menyisakan bau busuk di desa-desa.

Tak ada orasi ketika rumah bantuan Seroja hanya sampai pada batu pondasi dan puing-puing janji. Bahkan, RS Pratama Wewiku yang diresmikan tanpa fungsi tidak pernah mereka soal. Mereka diam. Bungkam. Hilang.

Baca Juga: Wakil Bupati Malaka Hadiri Forum Kesehatan Kemenkes di Kupang, Ini yang Dibahas

Mengapa? Karena saat itu mereka berada di dalam lingkaran. Ada yang menikmati proyek, ada yang jadi tenaga kontrak, ada yang berdiri di balik media binaan, menulis berita pesanan, dan mengatur narasi.

Mereka tidak kehilangan suara, mereka sengaja menyimpannya untuk dibarter dengan keuntungan pribadi.

Ketika Kekuasaan Berganti

Namun kini, setelah rakyat Malaka dengan sadar dan jernih memilih jalan perubahan lewat kepemimpinan dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Henri Melki Simu (HMS), barisan ini tiba-tiba bangkit.

Mereka turun ke jalan, ke media sosial, ke portal-portal berita. Mereka mulai berteriak kembali, kali ini bukan demi rakyat, tapi demi kekuasaan yang telah pergi meninggalkan mereka.

Baca Juga: Ayah, Pemimpin, Sahabat: Pagi Itu Bersama SBS di Tanah Abang

Seperti anak ayam kehilangan induk, mereka tersesat dalam bayang-bayang kekalahan. Mereka menolak move on. Mereka menolak kenyataan. Maka jalan yang mereka tempuh adalah menyulut kembali api lama, menyulut amarah palsu yang dibungkus narasi rakyat tertindas.

Padahal rakyat tahu siapa yang tertindas dan siapa yang selama ini menindas dalam diam.

Kritik yang Tak Tulus

Kini mereka berdiri sebagai kritikus dadakan. Membawa isu-isu lama, mengangkat narasi-narasi kering, dan menyampaikan keluhan-keluhan yang hanya muncul setelah kehilangan posisi. Mereka menyusun demo, menciptakan kegaduhan, dan menebar curiga di tengah masyarakat yang sedang menata diri.

Tapi rakyat juga sedang membuka mata. Mereka tahu, ini bukan suara hati. Ini suara hati yang sakit. Bukan suara keadilan, tapi suara yang tak puas karena tak lagi punya tempat.

Jika dulu mereka adalah wartawan pesanan, tenaga kontrak siluman, dan penikmat proyek, kini mereka menuding orang lain sebagai tirani. Bukankah itu ironi?

Baca Juga: Koalisi Pembangunan: Malaka dan Pemprov NTT Satukan Langkah untuk Rakyat

Malaka Butuh Ketulusan, Bukan Aktor Politik

Hari ini, Malaka sedang membangun. Jalan-jalan dibuka. Irigasi Benenai terus mengairi sawah-sawah rakyat. Pelayanan kesehatan cukup dengan e-KTP tanpa biaya. Anak sekolah tidak lagi menempuh jalan berlumpur. Program prioritas mulai dirasakan manfaatnya.

Namun semua capaian ini sedang diganggu oleh kelompok yang enggan menerima kekalahan. Mereka menolak jadi rakyat biasa, karena dulu terlalu lama berada di kursi kehormatan.

JAS kini bukan lagi Jaringan Aktivis. Ia telah menjelma menjadi Jaringan Ambisi Sakit hati. Mereka bukan pejuang keadilan, tapi penagih kekuasaan. Mereka tidak sedang memperjuangkan rakyat, mereka sedang memperjuangkan diri mereka sendiri.

Mereka menyembunyikan politik di balik spanduk. Menyembunyikan dendam di balik teriakan. Dan menyembunyikan rasa malu di balik megafon.

Baca Juga: 17,3 Juta Pekerja Bergaji Rendah Akan Terima BSU Rp600 Ribu dari Pemerintahan Prabowo

Rakyat Tidak Bodoh

Rakyat Malaka tidak bodoh. Mereka tahu mana suara murni, dan mana suara yang direkayasa. Mereka tahu siapa yang bekerja, siapa yang mencaci. Mereka tahu siapa yang hadir dalam duka rakyat, dan siapa yang hanya datang saat kuasa pergi.

Maka kepada para “aktivis” yang bersuara hari ini, izinkan kami berkata dengan tenang:
Berhentilah menyamar.
Rakyat sudah tahu siapa kalian.
Bukan penjaga demokrasi, tapi pengganggu harmoni.
Bukan pejuang rakyat, tapi bayang-bayang kekuasaan yang belum selesai.

Dan kepada generasi muda Malaka:
Belajarlah dari kesalahan mereka.
Jangan biarkan aktivisme menjadi topeng bagi ambisi.
Bersuara karena cinta pada tanah ini, bukan karena dendam pada kursi yang telah hilang.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version