RAEBESINEWS.COM – Di tengah konflik yang terus berkecamuk di Gaza, prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyatakan kesiapan mereka untuk bergabung dalam misi perdamaian di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Mereka menegaskan, kehadiran Indonesia bukan untuk berperang, melainkan membawa misi kemanusiaan dan perdamaian.
Salah satu prajurit yang siap ditugaskan adalah Letda Laut Kesehatan Lia Aliyah, perwira wanita berusia 25 tahun.
Baca Juga: Prabowo Anugerahkan Pangkat Istimewa, Siapa Saja 11 Purnawirawan TNI yang Terpilih?
Ia mengaku merasa terhormat jika mendapat kesempatan menjadi bagian dari pasukan perdamaian Indonesia.
“Saya akan merasa sangat bangga dan menganggap ini sebagai kehormatan besar. Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini,” ujar Lia saat ditemui di kawasan Monas, Jakarta, dalam peringatan HUT ke-80 TNI, Minggu (5/10).
Lia menyebut penugasan ke Gaza bukan sekadar misi luar negeri, melainkan amanah besar yang menuntut kesiapan fisik dan mental.
Baca Juga: Prabowo Subianto Tegaskan Loyalitas Prajurit Saat Inspeksi Armada TNI AL di HUT TNI ke-80
“Kami datang bukan untuk berperang, tetapi untuk melindungi masyarakat sipil, menjaga keamanan, dan membantu menciptakan perdamaian,” katanya.
Menurut Lia, tantangan utama pasukan perdamaian Indonesia di Gaza adalah membangun kepercayaan masyarakat lokal.
“Tanpa kepercayaan itu, misi perdamaian tidak akan berjalan efektif,” ujarnya.
Baca Juga: Armada Laut Meriahkan HUT ke-80 TNI, Prabowo Pimpin Parade Kapal Perang di Teluk Jakarta
Senada dengan Lia, Sertu Kowad Cut Fadila Arsya yang bertugas di Bagian Operasi Perencana Satgas menegaskan bahwa motivasi utama para prajurit bukan semata tugas militer, melainkan panggilan kemanusiaan dan profesionalisme.
“Prajurit bukan hanya mengabdi pada negara, tetapi juga kepada manusia. Negara-negara yang berkonflik seperti Gaza membutuhkan keamanan dan kepedulian,” ucapnya.
Sementara itu, Kopral Dua Hari Puro (36) menegaskan bahwa misi ke Gaza bersifat nonmiliter dan berorientasi pada perlindungan warga sipil.
Baca Juga: Momen Langka: Prabowo Nyanyi Bareng Tim Paduan Suara di Lubang Buaya
“Kami menanamkan sejak dini bahwa tugas ini bukan operasi militer, melainkan tugas kemanusiaan,” katanya.
“Prioritas kami bukan mengalahkan musuh, tetapi melindungi warga sipil. Tugas seperti ini menuntut kesabaran dan pengendalian diri,” tambahnya.
Sebelumnya, dalam Sidang Umum PBB, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia mengirim lebih banyak pasukan perdamaian jika diminta oleh Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB.
Baca Juga: Prabowo Bertemu Juara Dunia MotoGP, Ungkap Rencana Besar untuk Pebalap Indonesia
“Kami percaya pada PBB dan akan terus mengabdi di mana pun perdamaian membutuhkan penjaga, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehadiran pasukan di lapangan,” ujar Prabowo.
Prabowo juga menegaskan Indonesia siap mengerahkan hingga 20.000 personel atau lebih untuk menjaga perdamaian di wilayah konflik, termasuk di Gaza.
“Ketika Dewan Keamanan dan Majelis Umum memutuskan, Indonesia siap mengirim putra-putri terbaik untuk menjaga perdamaian di Gaza, Ukraina, Sudan, Libya, atau di mana pun perdamaian perlu ditegakkan,” tegasnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
