RaebesiNews.com – Proyek pembangunan septic tank individu di Kabupaten Malaka yang tersebar di Desa Wederok dan Raimataus, kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Proyek yang semestinya membawa manfaat besar bagi kebersihan dan kesehatan warga justru menyisakan persoalan pelik: pekerjaan mangkrak, hasil tidak bisa dimanfaatkan, dan muncul dugaan kuat proyek tersebut merupakan “jatah mama” istilah yang di akar rumput merujuk pada istri salah satu pejabat penting di Malaka kala itu.
Meski sempat dilaksanakan, proyek tersebut tak pernah benar-benar rampung. Di banyak titik, septic tank dibangun setengah hati, bahkan tidak berfungsi sama sekali. Lubang-lubang septic tank yang sudah digali hanya dibiarkan terbuka, sementara material bangunan tak terpakai ditemukan menumpuk di luar wilayah pengerjaan, tepatnya di sebidang kebun milik pribadi di Weleun, Desa Bakiruk, Kecamatan Malaka Tengah.
“Itu proyek sudah mulai, tapi tidak selesai. Di rumah saya septic tank-nya ada, tapi tidak jalan. Air buangan langsung meluap keluar karena saluran tidak dipasang. Akhirnya kami gali ulang sendiri,” ujar seorang warga Wederok yang rumahnya menjadi penerima proyek, namun kecewa berat dengan hasilnya.
Material Proyek Berserakan di Kebun “Mama”
Yang paling mencengangkan, sebagian besar material proyek seperti cincin beton, tutup septic tank, pipa, dan batu-batu penyangga ditemukan berserakan dan terbengkalai di kebun milik mama pejabat tersebut di Weleun. Warga sekitar mengakui, kebun itu sudah lama dikenal sebagai milik keluarga pejabat, dan sejak awal pengerjaan proyek, material proyek justru “diparkir” di situ alih-alih langsung dikirim ke titik sasaran di desa-desa.
“Material ditumpuk di kebun mama sejak awal proyek. Tapi setelah itu tidak dibawa ke rumah-rumah warga. Banyak yang rusak karena hujan dan panas. Kami tidak tahu kenapa di situ ditaruhnya,” kata seorang warga Desa Bakiruk yang enggan disebutkan namanya.
Warga meyakini, penempatan material di tanah pribadi itu bukan tanpa alasan. Mereka menduga kuat proyek tersebut dikuasai oleh orang dekat mama pejabat, bahkan kemungkinan besar rekanan pelaksana adalah titipan dari keluarga pejabat bersangkutan.
Jejak Proyek Siluman: Jatah Keluarga, Rakyat Tertinggal
Tokoh pemuda dari Malaka Tengah, Adrianus Teti, menilai kasus ini sebagai potret rusaknya manajemen proyek berbasis rakyat akibat campur tangan politik keluarga.
“Kalau ini benar jatah mama, maka ini bukan hanya pelanggaran administrasi, tapi pengkhianatan terhadap rakyat kecil. Kita bicara sanitasi, hak dasar manusia. Tapi karena proyek dipakai untuk bagi-bagi jatah keluarga, yang dikorbankan ya rakyat,” ujarnya tegas.
Menurut Adrianus, banyak proyek serupa yang gagal karena diserahkan ke pihak yang tidak profesional, hanya karena kedekatan kekuasaan. Ia menuntut agar Inspektorat Daerah, Kejaksaan Negeri Belu, atau bahkan Kejati NTT turun tangan untuk membongkar seluruh mata rantai proyek septic tank ini, mulai dari perencanaan, penunjukan pelaksana, hingga realisasi di lapangan.
“Ini bukan cuma proyek gagal. Ini indikasi sistem bobrok yang sudah berlangsung lama. Kalau tidak dibongkar sekarang, maka akan terus terjadi,” tambahnya.
Warga Menanggung Beban
Tak hanya proyek yang gagal, warga kini menanggung beban ganda. Di Wederok dan Raimataus, banyak penerima manfaat yang septic tank-nya tidak bisa digunakan. Mereka tetap buang limbah secara tradisional atau terpaksa membangun ulang secara swadaya.
“Bukannya terbantu, malah tambah repot. Proyek datang, harapan besar. Tapi sekarang septic tank cuma jadi lubang tak terpakai. Mau komplain ke siapa?” ujar seorang ibu rumah tangga di Raimataus.
Di beberapa titik, lubang galian bahkan menjadi sarang nyamuk dan sumber penyakit baru. Padahal proyek ini seharusnya mendukung program kesehatan lingkungan pemerintah.
Kesunyian Pemerintah, Kegelisahan Warga
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pemerintah desa, dinas teknis, maupun dari pejabat yang namanya dikaitkan secara tidak langsung dalam kasus ini. Ketika tim RAEBESINEWS mencoba meminta klarifikasi ke beberapa pihak, mereka memilih bungkam.
“Tidak enak bicara soal proyek itu. Kita tahu semua, tapi siapa yang berani angkat suara?” kata seorang sumber dari kalangan aparatur desa.
Warga berharap agar keberanian aparat penegak hukum tidak hanya berhenti di ruang dengar, tetapi hadir nyata di lapangan. Kasus ini, menurut banyak pihak, bisa menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan rente proyek yang selama ini tersembunyi di balik nama keluarga pejabat.
Proyek septic tank di Wederok dan Raimataus yang gagal dimanfaatkan, materialnya berserakan di kebun milik mama pejabat di Weleun, menjadi simbol kegagalan tata kelola anggaran berbasis rakyat. Masyarakat menanti langkah berani penegak hukum untuk menegakkan keadilan dan membersihkan Malaka dari proyek-proyek titipan yang hanya menguntungkan segelintir orang.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
