RaebesiNews.com – Pelantikan Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran sebagai Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia periode 2025–2030 bukan sekadar seremoni. Momentum ini membuka pintu besar bagi Kabupaten Malaka untuk melangkah lebih jauh dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan, sektor yang selama ini diam-diam menyimpan potensi besar di wilayah selatan Nusa Tenggara Timur.
Pelantikan yang berlangsung di Hotel Borobudur Jakarta itu menandai satu babak baru: Malaka tak lagi sekadar daerah perbatasan darat, tetapi mulai menatap laut sebagai masa depan.
Laut Selatan Malaka: Potensi yang Lama Terabaikan
Kabupaten Malaka memang lebih dikenal sebagai lumbung pangan berbasis pertanian. Namun, di balik hamparan sawah yang dialiri Bendung Benenai, tersimpan garis pantai yang menghadap langsung ke Laut Timor, wilayah yang kaya ikan pelagis, rumput laut, hingga potensi budidaya perikanan.
Sayangnya, potensi ini belum tergarap maksimal. Infrastruktur pelabuhan perikanan masih terbatas, teknologi tangkap masih sederhana, dan akses pasar bagi nelayan belum sepenuhnya terbuka. Banyak nelayan masih bergantung pada cara-cara tradisional, dengan hasil yang belum mampu meningkatkan kesejahteraan secara signifikan.
Aspeksindo: Panggung Strategis Daerah Pesisir
Masuknya SBS sebagai Wakil Bendahara Umum di Aspeksindo menjadi langkah strategis. Organisasi ini menjadi ruang konsolidasi bagi daerah-daerah kepulauan dan pesisir untuk memperjuangkan kepentingan bersama di tingkat nasional.
Dalam konteks ini, kehadiran Wahyu Sakti Trenggono yang melantik langsung pengurus memberi sinyal kuat bahwa pemerintah pusat membuka ruang kolaborasi lebih luas bagi daerah.
Artinya, Malaka kini punya akses lebih dekat pada kebijakan, program, hingga anggaran yang berkaitan dengan pengelolaan laut dan perikanan.
Arah Baru: Dari Darat ke Laut
Selama ini, kepemimpinan SBS-HMS dikenal fokus pada kebutuhan dasar rakyat: irigasi, kesehatan gratis, dan infrastruktur desa. Namun dengan masuknya SBS dalam struktur Aspeksindo, arah pembangunan Malaka berpotensi mengalami perluasan—dari darat menuju laut.
Ada beberapa peluang konkret yang bisa didorong:
1. Pengembangan Sentra Perikanan Tangkap
Wilayah pesisir seperti Wewiku dan sekitarnya bisa dikembangkan sebagai basis nelayan modern, dengan dukungan alat tangkap, cold storage, dan pelabuhan kecil.
2. Budidaya Rumput Laut dan Perikanan Tambak
Perairan Malaka cocok untuk pengembangan rumput laut, komoditas ekspor yang bernilai tinggi. Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
3. Hilirisasi Produk Perikanan
Selama ini ikan dijual mentah. Ke depan, Malaka bisa mendorong industri kecil seperti pengolahan ikan asap, abon ikan, hingga produk beku yang punya nilai tambah.
4. Akses Pasar dan Kemitraan Nasional
Lewat Aspeksindo, Malaka bisa membuka jaringan distribusi hingga ke luar daerah, bahkan ekspor, melalui kerja sama antar daerah pesisir.
Laut sebagai Masa Depan Rakyat
Apa yang terjadi di Jakarta bukan sekadar pelantikan. Itu adalah titik awal. Ketika seorang kepala daerah dari wilayah perbatasan duduk dalam struktur nasional yang membidangi kelautan, maka yang dipertaruhkan bukan jabatan, melainkan masa depan rakyatnya.
SBS kini berada di posisi strategis untuk memastikan bahwa laut Malaka tidak lagi sunyi, tetapi menjadi ruang hidup yang produktif.
Di tengah ombak Laut Timor, harapan itu perlahan tumbuh: bahwa suatu hari nanti, nelayan Malaka tidak lagi sekadar bertahan hidup, tetapi berdiri sebagai pelaku utama ekonomi maritim.
Dan mungkin, dari pesisir yang selama ini dipandang pinggiran, Malaka justru akan menemukan pusat kemajuannya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
