RAEBESINEWS.COM – Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS), kembali menegaskan filosofi kepemimpinannya yang menekankan pentingnya kecerdasan dalam membagi anggaran serta ketegasan dalam menentukan skala prioritas pembangunan.
Dalam sebuah pertemuan terbatas di Kantor Bupati Malaka beberapa waktu lalu, SBS mengibaratkan pembangunan daerah seperti membagi potongan kue kepada banyak orang.
“Misalnya ada 10 potong kue dibagikan untuk 10 orang, dapat berapa? Masing-masing 1 potong. Tapi kalau 10 potong itu dibagi untuk 20 orang, maka masing-masing hanya dapat setengah. Kalau dibagi untuk 40 orang, ya dapatnya 1/4 saja,” ungkap SBS dengan nada tenang namun tegas.
Menurutnya, dalam realitas pemerintahan, kue itu melambangkan sumber daya atau anggaran yang terbatas. Namun sebagai pemimpin, tidak boleh menyerah pada keterbatasan. Justru di situlah letak seni memimpin, pintar membagi secara adil dan tepat sasaran.
“Kalau kuenya ada 10 dan orangnya ada 40, tetap harus dibagikan. Tidak boleh menunggu atau meminta lagi tambahan kue. Maka, seorang pemimpin harus pintar dan wajib menerapkan skala prioritas,” ujar SBS yang dikenal dengan gaya kepemimpinan tegas namun merakyat.
SBS kemudian mencontohkan penerapan skala prioritas dalam pembangunan infrastruktur di Malaka, salah satunya terkait proyek tanggul di beberapa wilayah yang rawan bencana.
“Ada tiga lokasi: Oekmurak, Malaka Barat, dan Aintasi. Yang menjadi prioritas adalah Oekmurak karena kampungnya terancam hilang. Kalau Malaka Barat dan Aintasi, airnya memang ke sana, tapi kampungnya tidak hilang. Maka Oekmurak harus dikerjakan dan itu wajib,” tegas SBS.
Pernyataan SBS ini mencerminkan pendekatan kepemimpinan berbasis kebutuhan mendesak rakyat dan pertimbangan rasional yang berpihak pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Filosofi sederhana yang ia paparkan, tentang kue dan pembagian, menjadi cerminan dari prinsip dasar pemerintahan yang efisien, adil, dan berpihak pada yang paling membutuhkan.
Di tengah dinamika politik lokal yang semakin kompleks, suara SBS menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak bisa dijalankan dengan pendekatan seragam atau hanya untuk menyenangkan semua pihak sekaligus.
“Pemimpin itu harus pintar,” ulangnya, seolah ingin menegaskan kembali bahwa kecerdasan, keberanian mengambil keputusan, dan kepekaan terhadap kebutuhan rakyat adalah fondasi utama dalam mengelola sebuah daerah.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
