Daerah  

Ketika Bupati Malaka SBS Menjemput Harapan Petani di Hadapan Menteri Pertanian

IMG 20260119 191831 1200 x 600 piksel 2114549557

 

RaebesiNews.com – Di sebuah ballroom Hotel Aston, Batam, riuh Rakernas XVII APKASI Tahun 2026 mengalir seperti arus besar gagasan dan kepentingan daerah. Para bupati dari seluruh Indonesia duduk sejajar, menyimak satu pesan yang berulang kali ditegaskan: jangan malu meminta demi rakyat.

Pesan itu datang langsung dari Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, yang tampil sebagai narasumber utama, Senin (19/01/2026).

Dengan nada lugas, ia mempersilakan para kepala daerah untuk aktif “menjemput bola”.

“Rajin-rajinlah ke Kementerian Pertanian. Kalau mau bantuan, datang, sampaikan. Bahkan hari ini, tulis saja di kertas dan serahkan langsung,” ujar Menteri Pertanian, disambut anggukan dan senyum para kepala daerah.

Di antara kerumunan itu, Bupati Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dr. Stefanus Bria Seran (SBS), tak memilih jalan menunggu. Ia berdiri, melangkah, dan menerobos batas protokoler yang biasanya kaku.

Di tangannya, selembar kertas kecil, namun sarat harapan ribuan petani Malaka. Di atas kertas itu tertulis jelas: permohonan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Rinciannya bukan angka main-main: 50 unit traktor roda empat dan 250 unit traktor tangan (hand tractor).

Kertas itu sampai langsung ke tangan Menteri Pertanian.

“Pertanian apa di sana (Malaka)?” tanya Andi Amran Sulaiman, menatap SBS dengan penuh perhatian.

“Lahan pertanian sawah dan ladang kering, bapak Menteri. Padi dan jagung,” jawab SBS singkat, padat, tanpa retorika berlebihan.
Sebuah dialog singkat, tapi menentukan.

“Baik. Nanti usulan resminya harus masuk ke kementerian,” ujar Menteri Pertanian, seraya menerima kertas tersebut.

Tak berhenti di situ. Menteri Pertanian lalu menyerahkan secarik kertas itu kepada ajudannya, sembari melontarkan kalimat yang membuat banyak kepala daerah menoleh.

“Ini harga diri saya. Jangan sampai lewat.”

Kalimat itu melayang di udara Rakernas, menjadi penegasan bahwa permintaan itu bukan sekadar catatan, melainkan janji moral seorang menteri kepada daerah.

Bagi SBS, pertemuan singkat itu bukan soal formalitas Rakernas. Ia adalah representasi petani Malaka, mereka yang setiap musim tanam bertarung dengan keterbatasan alat, mengolah sawah dan ladang kering dengan tenaga seadanya.

Alsintan bukan sekadar mesin, tetapi jembatan menuju produktivitas, efisiensi, dan kemandirian pangan.

Langkah SBS hari itu menunjukkan satu hal penting: keberanian seorang kepala daerah bukan hanya di podium pidato, tetapi saat ia rela menerobos sekat demi memperjuangkan nasib petani.

Di Batam, jauh dari sawah dan ladang Malaka, secarik kertas kecil menjadi simbol besar. Simbol bahwa harapan petani tak selalu lahir dari proposal tebal, tetapi dari keberanian menjemput kesempatan, langsung di hadapan pengambil kebijakan.
Dan bagi Malaka, harapan itu kini telah dititipkan.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version