Daerah  

Di Bawah Langit Biru: Tradisi Pelantikan Unik Bupati Malaka di Alam Terbuka

Screenshot 20250506 192216 Gallery 1880787134 1

RaebesiNews.com – Di tepi samudra yang menggulung liar dan dalam, di mana deburan ombak Laut Selatan menyapa daratan tanpa henti, sebuah tradisi unik terus hidup di Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Kabupaten yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia yang menghadap Australia ini, menyimpan cerita yang tak biasa dalam lembaran pemerintahannya.

Bupati Stefanus Bria Seran yang akrab disapa SBS, tak pernah lelah mengukir jejak berbeda sejak dipercaya menjadi bupati pertama Malaka pada 2015.

Baca Juga: Wakil Presiden Gibran Kunjungi Kabupaten Sikka, NTT: Dialog Santai Bersama Petani dan Pemda di Bukit Kloangpopot

Satu hal yang nyaris tak berubah dari masa kepemimpinannya yakni pelantikan para pejabat dilakukan bukan di ruang formal nan mewah, melainkan di alam terbuka—di bawah langit biru, di antara desir pasir putih, dan diiringi nyanyian ombak Laut Selatan.

Kini, di periode keduanya (2025–2030), bersama Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS), SBS tetap melanjutkan tradisi itu.

Baru-baru ini, mereka melantik sebelas penjabat kepala desa dan satu kepala desa definitif di Pantai Motadikin, Malaka Tengah.

Tak lama berselang, usai libur Paskah 2025, SBS dan HMS kembali memimpin pelantikan dua penjabat desa dan dua puluh kepala puskesmas di Pantai Cemara Abudenok, Malaka Barat.

Baca Juga: Jangan Main-main dengan Kesehatan! Ini Peringatan Keras Bupati SBS untuk Dokter dan Kepala Puskesmas

“Pelantikan tidak harus di gedung mewah,” tutur SBS dengan tenang namun tegas.

“Masyarakat kita masih banyak yang susah. Tidak etis kita pamer kemewahan saat rakyat masih berjuang dari hari ke hari.”

Bagi SBS, tempat bukanlah penentu sahnya sumpah. Pelantikan bisa dilakukan di mana saja asal niatnya tulus dan tujuannya jelas.

Di tengah lanskap terbuka, pelantikan terasa lebih membumi. Angin, laut, dan langit menjadi saksi alami dari janji pengabdian.

Namun, tradisi ini bukan sekadar perkara selera pribadi. SBS punya pandangan strategis.

“Saya ingin sekaligus mempromosikan potensi wisata kita. Biar orang tahu, Malaka itu indah. Dan indahnya itu harus kita bawa ke tengah-tengah perhatian publik,” ungkapnya.

Baca Juga: Bupati SBS Soroti Ketidakpatuhan Bayar Pajak ASN Malaka: 424 Kendaraan Dinas Hilang dari Apel

Dengan menjadikan destinasi wisata sebagai lokasi pelantikan, SBS berharap ada efek domino, media meliput, masyarakat berdatangan, dan potensi ekonomi lokal ikut terangkat. Pelantikan pun menjadi cara halus memperkenalkan keindahan Malaka ke dunia luar.

Tentu saja, ada pula sisi personal dari seorang SBS. Ia seorang anak kampung yang tak pernah benar-benar meninggalkan alam mencintai udara yang segar, kebebasan langit terbuka, dan kejujuran angin pantai.

Alam baginya bukan sekadar latar, tapi juga ruang batin yang selalu menyapa dan menyembuhkan.

Pelantikan di pantai bukan hanya seremoni. Ia menjadi simbol bahwa kekuasaan tidak harus ditampilkan dengan kemewahan.

Baca Juga: Dalam Pelukan Waktu dan Kasih Ibu: Kisah Henri Melki Simu yang Bertumbuh dari Rumah Tua di Betun

Bahwa jabatan adalah amanah rakyat yang lahir dari tanah, air, dan udara yang sama yang membesarkan kita semua. Di Malaka, pelantikan bukan hanya soal siapa yang dilantik, tetapi bagaimana dan di mana sumpah itu ditegaskan.

Selama SBS masih memimpin, langit, laut, dan pasir akan terus menjadi panggung tempat harapan-harapan baru dilahirkan. Dan di antara debur ombak Laut Selatan, tradisi ini akan terus hidup menyatu dengan alam, menyatu dengan rakyat.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version