Daerah  

Bukan Sekadar SK: SBS Tempa CPNS di Tengah Genangan dan Terik

Screenshot 20250616 184056 Chrome 2707330625

RaebesiNews.com – Hari itu langit muram sejak pagi. Awan menggantung rendah, laut bersuara lirih tapi bergelora, seolah tahu bahwa hari ini bukan hari biasa di Pantai Abudenok. 

Di pasir yang masih basah oleh hujan malam sebelumnya, ratusan calon abdi negara berdiri berjajar, menunggu giliran dipanggil, dipanggil bukan sekadar untuk menerima SK, tetapi untuk dilahirkan kembali sebagai pelayan rakyat.

Tak ada aula. Tak ada tenda mewah. Hanya alam terbuka, pasir, langit, ombak, dan genangan air setinggi lutut dari tempat parkir hingga ke panggung acara. 

Baca Juga: Jelang Peluncuran MBG di Malaka HMS Tinjau Dapur Sehat di Belu

Semua wajib melintasi itu, tak peduli siapa. Sepatu dilepas, kaki basah, rok dan celana digulung, dan berkas digenggam tinggi-tinggi. Beberapa mengeluh, sebagian diam. Tapi tak ada yang mundur.

SBS tahu benar, ini bukan sekadar acara. Ini pelatihan jiwa.

“Saya sengaja tidak memindahkan tempat. Karena hari ini bukan hanya soal SK. Hari ini kalian saya uji, tentang kesabaran, tentang ketaatan, tentang ketangguhan kalian sebagai calon ASN,” tegas dr. Stefanus Bria Seran dari atas podium sederhana, suaranya menembus deru angin laut.

Baca Juga: Respons Cepat SBS-HMS Atasi Genangan Air di Malaka Komisi V DPRD NTT Beri Apresiasi

Sebanyak 477 CPNS menerima SK 80% mereka di pantai ini. Tapi tak ada satu pun yang benar-benar hanya menerima kertas. Mereka menerima pelajaran. Mereka menerima pukulan pertama dari dunia pengabdian yang keras, tak manja, dan tak mengenal cuaca.

Acara berlangsung selama dua jam. Matahari akhirnya menang dari awan, menyinari punggung-punggung yang sudah letih berdiri. Peluh menetes. Mata-mata memicing. Panas menyengat. 

Tapi SBS tetap berdiri tegak, satu per satu memanggil nama, satu per satu menyerahkan SK. Tanpa payung, tanpa pelindung. Seolah ingin berkata: “Beginilah kami bekerja untuk rakyat: langsung, terbuka, dan tidak manja.”

Tak sedikit yang bertanya dalam diam: Mengapa pantai? Mengapa genangan? Mengapa harus selelah ini?

Jawabannya pelan, tapi nyata: Karena di sinilah watak diuji.

Baca Juga: Simon Nahak dan Hobi Bagi Sembako Saat Banjir: Beda dengan SBS-HMS yang Bangun Tanggul

“Kalau baru panas dan air kalian sudah mengeluh, bagaimana saat kalian harus turun ke desa terpencil, melayani warga yang tak punya sinyal dan jalan rusak?” ucap SBS, matanya menyapu barisan anak muda yang akan jadi tulang punggung birokrasi Malaka ke depan.

Hari itu, di bawah deru ombak dan cahaya mentari yang menggila, sebuah sekolah tanpa dinding lahir.

Namanya: Sekolah Kehidupan Pantai Abudenok.

Muridnya: ratusan CPNS.

Gurunya: cuaca, alam, dan seorang bupati yang lebih memilih kerasnya pembelajaran di lapangan daripada kenyamanan ruang ber-AC.

Baca Juga: Verifikasi Berkas PPPK, Ini Kata SBS: SK Bisa Dimanipulasi, Tapi Selaris Gaji Tidak Bisa

Ketika acara usai, tak ada tepuk tangan meriah. Hanya langkah-langkah kaki yang kembali menyeberangi genangan. Tapi dalam hati mereka, ada yang berubah. Mereka tak lagi sama seperti saat datang pagi tadi. 

Mereka pulang membawa lebih dari SK. Mereka membawa semacam tekad baru, yang dibasuh ombak dan ditempa matahari: tekad untuk melayani dengan tulus, meski harus basah dan lelah.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version