Daerah  

Beras Rakyat Malaka Berlimpah, Redupkan Kenangan Pahit Beras Nona Malaka

Screenshot 2025 09 26 07 39 45 31 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12 1641323559

RaebesiNews.com – Kabupaten Malaka kembali menunjukkan taringnya sebagai lumbung pangan di perbatasan. Plh. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Laurens Bere, menegaskan bahwa hampir seluruh lahan basah yang dikelola petani tahun ini berhasil ditanami dan menghasilkan panen yang memuaskan.

“Untuk musim tanam kedua rata-rata semua berhasil tanam, tidak ada yang gagal panen. Sekarang masyarakat sudah masuk musim tanam ketiga,” ujar Laurens saat ditemui awak media, Kamis (25/9/2025).

4.000 Hektare Lahan Basah Produktif

Menurut Laurens, saat ini luas lahan basah yang dikelola petani di Malaka mencapai sekitar 4.000 hektare. Selain itu, ada potensi tambahan 1.000 hektare lahan kering, yang biasanya ditanami jagung, untuk diubah menjadi sawah produktif.

Produktivitas rata-rata lahan basah Malaka kini stabil di kisaran tiga hingga empat ton per hektare setiap musim tanam.

“Kalau kita hitung rata-rata, dari 4.000 hektare dikali tiga ton sekali panen, hasilnya mencapai 12 ribu ton lebih. Kalau dua kali panen, bisa mencapai 24 ribu ton lebih. Jika dikonversi ke beras sekitar 60 persen saja, berarti kita sudah hasilkan belasan ribu ton beras,” jelas Laurens.

Bukti Nyata Produktivitas Petani

Hasil pertanian ini menjadi bukti nyata kerja keras petani Malaka dengan dukungan penuh pemerintah daerah. Panen berlimpah ini sekaligus menunjukkan arah baru pembangunan sektor pangan di Malaka.

Redaksi mencatat, capaian produksi beras yang kini dinikmati masyarakat jauh berbeda dengan proyek “Beras Nona Malaka” yang pernah digagas pada masa pemerintahan sebelumnya, namun gagal berkembang.

Kini, beras Malaka tidak lagi berbicara soal brand, melainkan tentang ketahanan pangan yang benar-benar dirasakan rakyat.

Menuju Ketahanan Pangan Sejati

Capaian ini sekaligus menegaskan posisi Malaka sebagai salah satu daerah dengan produktivitas pertanian terbaik di Nusa Tenggara Timur.

Dengan program pacul tanah gratis yang digalakkan Bupati dr. Stefanus Bria Seran dan Wakil Bupati Henri Melki Simu, petani semakin bersemangat mengolah lahan.

Kini, bukan hanya swasembada beras yang dikejar, tetapi juga cita-cita menjadikan Malaka sebagai daerah penyangga pangan untuk wilayah perbatasan RI–Timor Leste.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *