Daerah  

Antara Kuning dan Merah, Ada Cinta yang Sama untuk Malaka: Kisah Adrianus Bria Seran dan Ronaldo Asury

Screenshot 20250710 122331 WhatsApp 1745818528

RaebesiNews.com – Langit Betun siang itu menggantung cerah. Awan-awan putih terburai seperti lukisan dalam kanvas Tuhan, menari di atas Alun-Alun yang megah. Di tengahnya, kompas raksasa berwarna biru dan putih terbentang, seolah menjadi penanda arah bagi siapa saja yang berdiri di atasnya. Dan di titik pusatnya, dua sosok berdiri berdampingan: Adrianus Bria Seran dan Ronaldo Asury.

Adrianus mengenakan kemeja tenun kuning keemasan yang menyatu dengan alam, sementara Ronaldo tampil berani dengan sweater merah menyala berlambang banteng. Mereka bukan hanya dua pria yang sedang berpose untuk sebuah foto. Mereka adalah dua tokoh sentral dalam denyut demokrasi Kabupaten Malaka. Dua pemimpin rakyat yang telah mengabdi selama belasan tahun di lembaga legislatif, Adrianus sudah lima periode, Ronaldo tiga.

Pose mereka tegas: tangan kanan terkepal, diangkat sejajar dada. Sebuah gesture sederhana, tapi penuh makna. Hormat Gerak, begitu tulisan yang menyertai gambar tersebut. Sebuah simbol bahwa pengabdian mereka bukan basa-basi, bukan pencitraan sesaat, tapi sikap hidup yang telah mereka pertahankan di medan pengabdian yang keras dan sering kali melelahkan.

Dua Warna, Satu Kompas Pengabdian

Adrianus Bria Seran bukan nama baru dalam kancah politik Malaka. Ia adalah wajah pengalaman, raut ketekunan, dan napas panjang dalam kerja-kerja parlemen daerah. Selama lima periode, ia memimpin dan menyaksikan jatuh bangunnya Malaka. Ia adalah jenis pemimpin yang tidak mudah tergoda janji sesaat, tapi membangun segala hal dengan fondasi kuat: konsistensi dan kepercayaan rakyat.

Ia dikenal santun namun tegas. Tidak banyak bicara di ruang publik, tapi suaranya menggema dalam ruang sidang. Ketika rakyat mengeluh soal jalan rusak, air bersih, dan pelayanan dasar yang buruk, Adrianus tak tinggal diam. Ia mengubah keluhan menjadi pokok pikiran, dan mengawalnya hingga menjadi program.

Di sisi lain, Ronaldo Asury membawa warna berbeda. Ia adalah representasi generasi muda di parlemen, tapi bukan pendatang baru. Tiga periode duduk sebagai Wakil Ketua DPRD membuktikan bahwa ia bukan sekadar pengisi kursi. Ronaldo dikenal lugas, berani, dan komunikatif. Ia hadir dalam forum-forum rakyat, menyambangi desa-desa terjauh, dan berdialog langsung dengan masyarakat.

Ia percaya, kekuasaan bukan untuk ditakuti, tapi untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi pelayanan publik. Dalam sidang-sidang krusial, Ronaldo adalah orator. Namun di luar gedung DPRD, ia adalah pendengar yang sabar. Ia mencatat, mencermati, dan kembali ke meja kebijakan dengan data yang ia gali sendiri dari rakyat.

Dinamika Kekuasaan dan Tanggung Jawab Moral

Politik lokal tak ubahnya seperti air sungai: kadang tenang, kadang keruh, kadang banjir tanpa arah. Di tengah pusaran itu, Adrianus dan Ronaldo tetap menjaga haluan. Sebagai Ketua dan Wakil Ketua DPRD, mereka bukan hanya pemegang palu sidang, tapi juga pengawal suara rakyat.

Ketika ada kebijakan eksekutif yang dirasa melenceng dari kepentingan umum, keduanya tak segan menyuarakan penolakan. Ketika APBD didiskusikan, mereka mengutamakan pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan kesejahteraan petani.

“Kalau kita tidak berpihak kepada rakyat kecil, lalu kepada siapa lagi?” begitu kata Adrianus dalam sebuah wawancara beberapa waktu lalu.

Ronaldo pun pernah menyentil tajam dalam sidang, “Jangan jadikan jabatan sebagai perisai untuk berlindung dari kritik. Kita ini pelayan, bukan penguasa.”

Mereka tak selalu disukai. Mereka dikritik, difitnah, bahkan diadu domba. Tapi bukankah itu harga dari keberanian? Sebab politik bukan jalan sunyi yang lapang, melainkan ladang penuh onak yang harus dilalui dengan keyakinan dan keberanian moral.

Mereka Tetap Berdiri

Kini, di tengah alun-alun kota Batam, depan Masjid Agung yang menjulang anggun, Adrianus dan Ronaldo berdiri di atas simbol arah mata angin. Sebuah pertanda bahwa perjalanan mereka belum selesai. Bahwa kompas pengabdian itu masih menunjuk ke satu arah: rakyat.

Foto itu lebih dari sekadar dokumentasi. Ia adalah narasi visual tentang keteguhan. Tentang dua laki-laki yang telah menghabiskan separuh hidupnya untuk mendengar, mencatat, dan memperjuangkan suara-suara yang nyaris tak terdengar.

Mereka adalah dua warna yang berbeda, tapi saling melengkapi. Kuning dan merah, pengalaman dan energi, kearifan dan keberanian. Di DPRD, mereka membentuk harmoni. Di masyarakat, mereka menjadi jangkar yang menjaga Malaka dari kemunduran.

Seiring waktu terus berjalan, dan nama-nama lain muncul dalam gelanggang politik, satu hal tetap abadi: ingatan rakyat. Dan dalam ingatan itu, nama Adrianus Bria Seran dan Ronaldo Asury akan tetap dikenang, bukan karena mereka duduk di kursi empuk parlemen, tetapi karena mereka memilih berdiri ketika yang lain diam.

Dan hari itu, ketika kamera menangkap tubuh mereka yang tegap di bawah langit biru, kita tahu: hormat itu bukan sekadar gerak tubuh. Ia adalah komitmen yang lahir dari cinta. Cinta kepada tanah Malaka. Cinta kepada rakyat.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version