Daerah  

Mereka Baru Lahir 20 Februari 2025: Sindiran Bupati Malaka Dijawab Pedas Warga

Screenshot 20250506 150123 Gallery 2581476216

RaebesiNews.com – Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS), melontarkan pernyataan tajam menanggapi maraknya aksi unjuk rasa mahasiswa yang terjadi sejak dirinya bersama Henri Melki Simu resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Malaka pada 20 Februari 2025.

Dalam satu kesempatan usai rapat koordinasi pemerintahan, SBS mengungkapkan keheranannya atas gelombang demonstrasi yang datang bertubi-tubi dalam beberapa bulan terakhir.

“Selama 4 tahun ini mereka di mana? Tidur dan baru bangkit, atau baru lahir?” sindir SBS dengan nada menyentil.

Baca Juga: Tak Pilih SBS HMS di Pilkada, Warga Naet Minta Maaf Saat Dikunjungi Wakil Bupati Malaka, Begini Respon HMS

Sindiran tersebut segera memantik respons dari masyarakat. Salah satu komentar tajam datang dari warga yang menjawab melalui media sosial.

“Mereka memang baru lahir. Tanggal lahirnya 20 Februari 2025, bersamaan dengan pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Malaka.”

Komentar ini menjadi viral di media sosial, dianggap sebagai sindiran balik yang menyentil kesadaran sipil yang mungkin selama ini tertidur. Namun di balik narasi ini, terbentang kenyataan yang lebih kompleks: tahun-tahun sebelumnya justru menyimpan sejumlah masalah krusial yang justru luput dari sorotan mahasiswa.

Ketimpangan yang Terlewat: Diamnya Mahasiswa 2021–2024

Selama periode 2021 hingga 2024, tercatat sejumlah proyek besar yang bermasalah namun tidak diiringi dengan gerakan atau gelombang kritik dari kalangan mahasiswa.

Baca Juga: Bupati SBS Serukan Perjuangan Tulus di Tengah Aksi Mahasiswa: Jangan Mau Diadu Domba oleh Warisan Penjajah

1. Mangkraknya Proyek Rumah Bantuan Seroja

Pascabencana Siklon Tropis Seroja tahun 2021, pemerintah pusat menggelontorkan dana puluhan miliar rupiah untuk membangun rumah bantuan bagi korban terdampak. Namun hingga akhir 2024, puluhan unit rumah di beberapa kecamatan di Malaka masih terbengkalai. Sebagian bahkan hanya berupa pondasi tanpa atap.

2. Proyek Septic Tank Komunal Terbengkalai

Program sanitasi berbasis masyarakat yang dimaksudkan untuk meningkatkan kebersihan lingkungan, nyaris tak berjalan. Banyak proyek septic tank komunal yang dibangun pada 2022 dan 2023 kini dalam kondisi rusak atau bahkan tidak digunakan sama sekali.

3. Rumah Sakit Pratama: Gedung Tanpa Tuan

Diresmikan setahun sebelum pilkada, Rumah Sakit Pratama di kawasan perbatasan Malaka—yang dibangun dengan semangat layanan kesehatan untuk masyarakat pelosok—hingga kini belum berfungsi. Gedung megah itu kini lebih sering dikunjungi oleh debu dan rumput liar ketimbang pasien. Fasilitas belum lengkap, tenaga medis belum ditempatkan, dan tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab mengaktifkannya.

Baca Juga: SBS HMS Siap Tempuh Jalur Hukum Jika Demo Berbau Fitnah: Jangan Warisi Sifat Penjajah

Ironisnya, sederet masalah ini nyaris tidak menimbulkan reaksi dari kelompok mahasiswa. Tidak ada aksi demonstrasi besar, bahkan tidak ada pernyataan terbuka yang menyentil ketimpangan itu.

“Ini yang perlu dipertanyakan. Mengapa mereka tidak turun ke jalan saat rumah bantuan mangkrak, saat proyek kesehatan terbengkalai? Mengapa justru saat pemerintahan baru mulai bekerja, suara mereka tiba-tiba lantang?” ujar seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

SBS: Boleh Kritik, Tapi Berimbang

Menanggapi dinamika ini, SBS tetap menegaskan bahwa dirinya terbuka terhadap kritik. Namun ia mengingatkan bahwa kritik sebaiknya dilakukan secara objektif dan tidak tendensius.

Baca Juga: Bupati Malaka SBS dan Wakilnya HMS Fokus Kerja Untuk Rakyat, Tak Mau Layani Drama Politik

“Kita tidak anti-demo. Tapi mari beri ruang juga bagi kami untuk bekerja. Jangan seolah-olah kami musuh rakyat. Kami juga butuh waktu menyelesaikan warisan masalah yang ada,” ungkap SBS.

Lahirnya Kesadaran atau Lahirnya Kepentingan?

Tanggal 20 Februari 2025 bukan hanya menandai dimulainya pemerintahan SBS-Henri, tetapi juga “kelahiran” baru dalam dinamika suara publik. Namun publik kini mulai bertanya: apakah ini kelahiran kesadaran yang jujur, atau kelahiran kepentingan yang dibungkus aspirasi?

Yang jelas, demokrasi yang sehat menuntut keberanian untuk bersuara—sepanjang masa, bukan hanya saat momentum tertentu terasa menguntungkan.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *