RAEBESINEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Malaka melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menunjukkan respons cepat terhadap kerusakan infrastruktur jalan akibat longsor di ruas jalan KM 10 Kecamatan Rinhat.
Titik ini merupakan salah satu segmen vital yang menghubungkan wilayah Rinhat ke ibu kota Kabupaten Malaka, Betun.
Dari pantauan lapangan, badan jalan mengalami longsoran parah yang menyebabkan separuh badan jalan amblas. Kondisi ini sangat mengancam kelangsungan arus transportasi barang dan penumpang.
Baca Juga: Janji-janji yang Tumbuh Lalu Layu: Jejak Gagal Branding Pangan Lokal Era Simon Nahak di Malaka
Penanganan darurat telah dilakukan dengan mengerahkan alat berat berupa ekskavator serta penguatan tebing jalan menggunakan guard rail baja bergelombang sebagai upaya awal mitigasi.
Pemkab Malaka melalui Plh. Kepala Dinas PUPR, Lorens Haba, tindakan darurat ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menjamin konektivitas dan keamanan pengguna jalan.
“Kami terus berupaya membenahi infrastruktur yang rusak di Malaka. Pada intinya, masyarakat dan aktivitas ekonominya jangan sampai terlambat karena jalan rusak,” tegas Lorens.
Pekerjaan darurat meliputi:
Pembersihan material longsoran dan pemadatan badan jalan sementara.
Penguatan lereng dengan pemasangan guard rail (pengaman jalan) untuk mencegah longsor susulan.
Rencana lanjutan dengan perkuatan struktur jalan dan drainase sisi luar untuk menstabilkan lereng.
Jalur ini menjadi satu-satunya akses utama keluar-masuk 20 desa di Kecamatan Rinhat. Jika tidak segera ditangani, potensi terisolasinya ribuan warga menjadi kenyataan.
Wajar jika para sopir kendaraan angkutan barang, khususnya pick-up yang menjadi tulang punggung logistik desa, memberikan apresiasi atas kerja cepat Pemerintah Daerah.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Bupati dr. Stefanus Bria Seran dan Pak Henri Simu karena respon cepat perbaikan jalan ini sangat membantu aktivitas kami,” ungkap Petrus Mau, sopir pick-up asal Lotas.
“Kalau jalan ini sampai putus total, kami bisa terisolasi. Untung cepat ditangani. Kami sangat apresiasi perhatian pemerintah,” kata Yohana Seran, ibu rumah tangga dari Desa Webetun.
“Setiap hari kami melewati jalan ini untuk ke pasar. Kalau tidak diperbaiki, ekonomi bisa lumpuh. Terima kasih untuk gerak cepat ini,” ujar Anton Seran pedagang asal Desa Naet.
REKOMENDASI TEKNIS LANJUTAN: Ahli teknik sipil menyarankan agar titik rawan longsor ini segera dilakukan:
1. Studi Geoteknik: Untuk menilai kestabilan lereng dan karakteristik tanah setempat.
2. Retaining Wall Permanen: Mengganti guard rail sementara dengan dinding penahan tanah bertipe gravity wall atau reinforced soil wall.
3. Perbaikan Drainase: Menambah saluran drainase transversal untuk mempercepat aliran air hujan.
4. Pelapisan Aspal Ulang: Setelah stabilisasi, dilakukan overlay aspal guna mengembalikan struktur jalan.
Dengan pendekatan teknik sipil yang tepat dan dukungan kebijakan yang responsif, titik kritis di KM 10 ini tidak hanya dapat diselamatkan, tetapi juga menjadi contoh mitigasi bencana infrastruktur yang efektif di daerah rawan longsor seperti Malaka.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











