Jelang Musim Pesta, Bupati SBS Ingatkan Makna Sakral Kue Pengantin

Screenshot 20250714 063027 Facebook 4139683026

RaebesiNews.com – Saat angin Juli mulai berembus dari pesisir Selatan, membawa bau tanah basah dan bisik-bisik rencana pesta nikah di kampung-kampung, satu pesan penting datang dari pucuk kepemimpinan Malaka.

Bupati dr. Stefanus Bria Seran, yang akrab disapa SBS, kembali membuka lembar falsafah, menyentuh adat yang sering terlupa dalam hiruk pikuk musik dan sorak sorai pernikahan.

“Musiknya jangan terlalu keras,” ujar SBS dalam nada tenang namun tegas. “Pesta itu sukacita, bukan ajang untuk melawan Tuhan dengan dentuman suara.”

Namun bukan hanya soal volume musik. Ada pesan lebih dalam yang ia titipkan, tentang kue pengantin, sebuah benda manis yang kerap dianggap remeh, padahal memuat simbol agung tentang penyatuan dua insan.

“Kue itu bukan sekadar kudapan,” kata SBS, sambil mengangkat alis dan menghela napas seperti seorang guru tua yang bersiap memberi pelajaran hidup. “Kue itu simbol perempuan. Dan pisau yang digunakan untuk memotongnya adalah simbol laki-laki.”

Filosofi ini, menurutnya, kerap dilupakan. Di banyak pesta di Malaka, sang MC seringkali menggiring kedua mempelai untuk memegang pisau bersama-sama, seolah ritual pemotongan kue adalah simbol kerja sama. Tapi menurut SBS, itu adalah bentuk penyimpangan dari makna aslinya.

“Cukup laki-laki yang memegang pisau dan membelah kue. Perempuan hanya menyaksikan. Di saat itu, secara simbolis, dia telah sah menjadi istri. Dan laki-laki telah resmi menjadi suami,” tutur SBS lirih, seakan membisikkan kearifan nenek moyang yang terbenam dalam gulungan waktu.

Ia menambahkan, bahwa kue itu tidak boleh dibagikan kepada siapapun. Tidak ke tamu, tidak ke kerabat. Hanya pengantin berdua yang boleh menyantapnya.

“Sekali lagi, kue itu simbol perempuan. Tidak boleh dibagi sembarangan. Itu sakral. Hanya untuk suami dan istri,” tegasnya.

Bagi SBS, pesan ini bukan sekadar soal protokol pesta, tetapi ajakan untuk kembali kepada akar budaya. Kepada tafsir lama yang menjadikan setiap elemen dalam pesta pernikahan sebagai lambang, sebagai bahasa diam dari leluhur yang mengajarkan kesetiaan dan kehormatan.

Pesan ini ia tujukan secara khusus kepada para master of ceremony, para MC yang menjadi pemandu, jalannya pesta. Ia berharap, MC tidak lagi asal bicara, tidak hanya melucu dan mencairkan suasana, tetapi mampu memahami nilai dan makna dari setiap simbol adat yang mereka pandu.

Di Malaka, musim pesta adalah musim harum bunga plastik, suara organ tunggal, dan denting gelas di antara lilin-lilin elektrik. Tapi di tengah semua itu, SBS mengajak warganya untuk tidak melupakan esensi: bahwa pernikahan bukan sekadar acara, tetapi peristiwa suci yang ditulis di langit dan dibisikkan bumi.

Dan di atas meja, kue pengantin berdiri sebagai lambang diam: lembut, manis, namun sarat makna. Pisau yang membelahnya bukan sembarang alat, ia adalah tanda bahwa dua jiwa telah dipersatukan dalam cinta yang tidak dibagi-bagi.

Musim pesta boleh ramai, tapi maknanya tetap harus sakral. Begitu kira-kira pesan SBS, yang tak hanya menjadi bupati, tetapi juga penjaga sunyi dari nilai-nilai yang nyaris terlupakan.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version