RaebesiNews.com – Di sebuah sudut kota Betun yang tenang, berdiri sebuah rumah tembok tua yang anggun dalam kesederhanaannya.
Catnya telah mengelupas, gentengnya menua bersama musim yang berlalu, namun rumah itu tetap teguh—bukan karena beton dan semen, melainkan karena doa-doa yang tak putus dan kasih yang tak lekang oleh waktu.
Di sanalah Henri Melki Simu dilahirkan. Di sanalah ia dibesarkan. Dan hingga hari ini, di balik tembok-tembok yang diam, ia tetap memilih tinggal bersama ibunya, satu-satunya wanita yang menanamkan nilai-nilai luhur dalam jiwanya sejak kecil.
Baca Juga: Prabowo Siap Hapus Utang Petani dan Nelayan: Akhiri Jerat Rentenir dan Pinjol
Kasih Ibu yang Tak Pernah Letih
Henri lahir pada 2 Mei 1974 dari keluarga petani yang bersahaja, yang hidupnya digerakkan oleh iman Kristen Protestan dan kerja keras.
Ibunya, sosok perempuan tabah yang mengasuh dengan kelembutan dan mendidik dengan teladan, tak pernah lelah menjaga nyala harapan dalam dada putranya.
Setiap pagi, Henri kecil terbangun oleh aroma bubur jagung dan suara lirih doa ibunya. Malam hari, mereka duduk di ruang tamu yang remang, membaca Alkitab berdua membicarakan kasih, keadilan, dan pengharapan.
Dari perempuan itu, Henri belajar bukan hanya arti hidup, tapi juga bagaimana mencintai kehidupan dengan cara yang paling jujur.
Baca Juga: Wakil Bupati Malaka Hadiri Perayaan Bulan Budaya Jemaat GMIT Ebenhaezer Betun
Politik, Doa, dan Hati yang Tak Berubah
Jalan politik Henri bermula bukan dari ambisi, melainkan dari kepedulian. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Belu sebelum Malaka berdiri sendiri sebagai kabupaten. Lalu, dua periode ia jalani sebagai anggota DPRD Malaka dari Partai Golkar—selalu berpihak pada suara-suara kecil yang sering tak terdengar.
Ia bukan politisi dengan bahasa rumit dan janji panjang. Ia bicara dengan hati, dan bertindak dengan keyakinan. Pada Pilkada 2024, berpasangan dengan dr. Stefanus Bria Seran, Henri dipercaya rakyat. Kemenangan itu adalah kisah tentang doa yang dijawab, tentang kesetiaan yang diberi balas.
Air Mata Bahagia di Istana Negara
Saat ia dilantik sebagai Wakil Bupati Malaka pada 20 Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, Henri membawa serta ibunya ke Jakarta.
Dalam kebaya sederhana, perempuan yang telah menua itu duduk di antara tamu kehormatan, menatap putranya dengan mata yang penuh air bening dan doa yang bergema.
Ketika nama Henri dipanggil, ia berdiri, menoleh ke arah ibunya, dan mengangguk—itu bukan hanya isyarat hormat, tapi ucapan terima kasih dari seorang anak yang tahu siapa yang membentuk dirinya. Usai pelantikan, pelukan ibu menjadi tempat kembali, menjadi sujud syukur di altar kehidupan.
Baca Juga: Komitmen SBS HMS dalam Bidang Kesehatan: Prioritaskan Pelayanan Gratis untuk Rakyat Malaka
Gaji Pertama, untuk Gereja yang Terkelupas
Gaji pertamanya sebagai Wakil Bupati tak singgah di rekening pribadinya. Ia arahkan seluruhnya untuk membantu renovasi sebuah gereja kecil di pelosok Malaka. Gereja itu berdinding papan, beratap seng, namun menyimpan iman yang tak rapuh. Henri tahu, di sanalah doa rakyat naik, dan di sanalah ia ingin menyentuh hati Tuhan dengan amal kecilnya.
Pemimpin yang Tak Berpijak di Singgasana
Henri bukan tipe pemimpin yang menjauh dari rakyat. Ia berjalan ke sawah, mampir ke pasar, duduk di tikar rumah warga mendengarkan keluhan. Ia tahu bahwa memimpin bukan soal berdiri di atas, tapi menyertai dari samping seperti ibunya yang dulu selalu menggandeng tangannya, bukan menuntun dari belakang.
Rumah Tua, Rumah Cinta
Yang paling menyentuh dari semuanya adalah bahwa hingga hari ini, Henri masih tinggal di rumah tua itu—bersama ibunya. Ia bisa saja pindah ke rumah dinas megah, tapi ia memilih dinding yang mengenal tangis pertamanya, memilih atap yang menampung semua malam harapannya.
Rumah itu tidak hanya tempat tinggal. Itu adalah altar. Sebuah perhentian jiwa. Di situlah ia menyeduh kopi hitam bersama ibunya setiap pagi, merenungi kebijakan setiap malam, dan kembali menjadi anak kecil dalam dekapan cinta.
Baca Juga: Gaji Pertama Wakil Bupati Malaka Disumbangkan Untuk Gereja Kecil Jemaat Petra Makembala
Dari Ibu, Untuk Malaka
Henri Melki Simu adalah lelaki yang dibentuk oleh perempuan yang tak dikenal banyak orang, seorang ibu rumah tangga sederhana dari Betun.
Tapi dari pelukannya, lahirlah pemimpin yang tidak sekadar cerdas, tapi juga penuh welas asih. Ia tidak lupa dari mana ia berasal, dan karena itu, ia tahu ke mana ia harus melangkah.
Rumah tua itu mungkin akan lapuk. Waktu mungkin akan terus menggerus cat dindingnya.
Tapi kisah tentang anak yang tinggal bersama ibunya, membangun daerahnya, dan menyebarkan kasih, akan tetap hidup dalam hati rakyat Malaka, dalam catatan sejarah yang jujur, dan dalam doa-doa yang tak pernah lelah.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
