RAEBESINEWS.COM – sebuah punggung bukit yang tak pernah letih menantang langit Sasitamean, berdirilah As Manulea—kampung tua yang dijaga batu dan dikelilingi angin yang berbisik dengan bahasa para leluhur.
Bagi orang luar, As Manulea mungkin hanya tampak seperti gundukan tanah tinggi berhias rumah-rumah adat. Namun bagi anak-anak Malaka, kampung ini adalah jantung tua yang tak pernah berhenti berdetak, meski zaman terus berjalan meninggalkannya.
Baca Juga: Revitalisasi Jalan dan Drainase Tubaki: Sinergi Infrastruktur dan Perlindungan Sumber Air di Malaka
Kampung ini tidak dibangun, ia dihadirkan. Di puncak Fatuk Liurai—bukit suci yang konon dahulu dipilih oleh roh-roh penjaga tanah Timor—berkumpullah empat sonaf: Banhae, Umutnana, Abanit, dan Umrisu. Di balik setiap dinding sonaf, tersembunyi mantra-mantra kuno dan cerita-cerita agung tentang raja, ratu, dan roh penjaga yang setia hingga akhir zaman.
Dalam malam sunyi, kadang terdengar suara seperti ranting patah atau tawa halus di antara bebatuan, bukan karena angin, melainkan karena nenek moyang sedang berbincang.
Baca Juga: Hati-Hati! Aturan Baru Larang Hal-Hal Ini Dalam Pengelolaan Dana BOS, Sanksinya Berat
Batu-batu yang Berjalan
Konon, batu-batu besar di kampung ini bukan sekadar benda mati. Mereka punya nama, sejarah, dan tugas suci. Orang tua-tua bilang, batu-batu dari Kaputu dibawa ke sini bukan oleh manusia, melainkan oleh kekuatan liurai alekot, energi gaib yang hanya dikenali oleh para penjaga adat.
Mereka bilang, batu-batu itu berjalan sendiri dalam iringan nyanyian beti-meti, lagu yang hanya bisa dinyanyikan oleh keturunan raja saat malam mencapai puncaknya.
Salah satu batu paling suci terletak di tengah kampung. Orang menyebutnya Batu Ina Lulik, batu ibu yang dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah ratu agung: Luru Mutin Kwaik. Siapa pun yang mendekat tanpa izin adat akan merasa dadanya berat, seolah ada tangan tak terlihat yang menahannya pulang.
Baca Juga: Kemendikdasmen Tentukan 300 Ribu Guru Honorer Terima Bantuan, Anda Termasuk?
Suku yang Menyatu dengan Waktu
Suku Naisau, yang menempati Sonaf Banhae, bukan sekadar penghuni. Mereka adalah penjaga garis waktu. Dalam kepercayaan mereka, hidup tidak berjalan lurus, tetapi berputar.
Mereka tak percaya pada masa lalu dan masa depan, semuanya adalah “sekarang”. Maka itulah sebabnya anak-anak kecil masih dipanggil untuk menumbuk padi bersama leluhur di rumah batu, dan suara genderang perang kadang terdengar di malam bulan gelap, padahal sudah tak ada perang.
Di rumah-rumah beratap ijuk yang miring anggun ke langit, arwah leluhur masih tinggal bersama mereka. Makanan disisihkan untuk roh. Api dinyalakan bukan untuk mengusir dingin, tetapi sebagai penerang jalan bagi para nitu yang sesekali turun menengok keturunannya.
Ritual Halon: Menyusuri Dunia yang Tak Terlihat
Setiap pengunjung yang hendak masuk As Manulea harus melalui ritual halon. Ia bukan sekadar penyambutan, tetapi penyesuaian dimensi. Tamu-tamu disambut oleh tarian Likurai yang menggetarkan bumi dan membuat udara sejenak berhenti. Tubuh penari perempuan berayun seirama dengan tamtam tua, seolah mereka menari bersama arwah yang ikut turun dari langit.
Empat sonaf dikunjungi, makam dua ratu diziarahi. Di sanalah, waktu seolah kehilangan arah. Orang-orang yang masuk tanpa membawa hormat sering kali kehilangan arah pulang, bukan karena tersesat, melainkan karena semesta As Manulea belum mengizinkannya kembali.
Baca Juga: Infrastruktur Digenjot: Jalan, Jembatan, dan Tanggul Mulai Ditangani Pemkab Malaka
Kisah yang Hidup Lebih Lama dari Manusia
Orang bijak di As Manulea bilang, “Kami tidak bercerita agar didengar, kami bercerita agar yang mati tetap hidup.” Maka setiap batu, rumah, pohon, bahkan angin yang melintasi kampung ini menyimpan serpih cerita. Ada tentang liurai yang bersumpah menjaga tanah ini walau tubuhnya telah jadi debu. Ada tentang ibu-ibu yang melahirkan anak di atas batu dan menjadikan mereka bagian dari bumi.
Di musim-musim tertentu, ketika kabut menggantung seperti kelambu gaib, orang percaya para leluhur turun membawa pesan. Biasanya, anak kecil yang mendengar lebih dulu. Mereka akan bicara sendiri di bawah pohon, atau tertawa kepada angin. Orang dewasa tahu, itu saatnya menyiapkan sirih pinang dan menyalakan api adat.
Baca Juga: Penjabat Kades Umakatahan Pimpin Kerja Bakti Bersihkan Bahu Jalan di Pusat Kota Betun
Warisan yang Tak Bisa Dijual
As Manulea bukan kampung wisata. Ia tak dibangun untuk difoto dan dipuji. Ia adalah kitab hidup yang hanya bisa dibaca dengan hati. Yang datang dengan mata, hanya akan melihat rumah beratap jerami dan jalanan batu. Tapi yang datang dengan jiwa, akan melihat kerajaan tua yang masih hidup diam-diam di balik tirai waktu.
Di ujung barat Timor, kampung ini berdiri seperti mantra. Tak peduli dunia melaju dengan cahaya dan kabel optik, As Manulea tetap setia dengan angin, batu, dan cerita. Sebab di sinilah, dunia yang kasat dan tak kasat bersatu dalam pelukan tanah yang suci.
Dan mungkin, saat malam tiba dan angin mulai menyanyi, kau pun akan tahu: di As Manulea, dongeng bukan untuk anak-anak. Ia adalah cara hidup.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
