RaebesiNews.com – Di sebuah sudut sunyi Kecamatan Rinhat, tepatnya di Desa Biudukfoho, Kabupaten Malaka, kebahagiaan itu akhirnya menemukan bentuknya yang paling sederhana: sebuah rumah.
Bukan istana, bukan pula bangunan megah. Namun bagi Mama Yosefina Abuk, rumah layak huni yang kini berdiri kokoh di hadapannya adalah jawaban atas penantian panjang yang penuh keterbatasan. Dindingnya mungkin biasa, atapnya mungkin sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih berharga, harapan dan martabat.
Rumah itu telah selesai dikerjakan. Sebuah ikhtiar kolektif yang lahir dari kepedulian dan kerja bersama.
Gagasan pembangunan rumah ini diprakarsai oleh Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu, yang akrab disapa HMS. Ide tersebut kemudian disambut dan diwujudkan secara gotong royong oleh para kepala desa se-Kecamatan Rinhat dan Camat Rinhat, menjelma menjadi aksi nyata yang menyentuh sisi kemanusiaan paling dalam.
Tidak ada seremoni besar, tidak ada gemerlap peresmian. Namun justru di situlah letak kekuatannya, kerja yang dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih, dan langsung menyentuh kebutuhan rakyat kecil.
“Ini bukan sekadar membangun rumah, tetapi membangun harapan dan martabat manusia,” ujar HMS saat dimintai tanggapan terkait rampungnya rumah tersebut.
Menurutnya, pemerintah harus hadir secara nyata di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi dari hal-hal sederhana yang berdampak langsung bagi kehidupan rakyat.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap warga, sekecil apa pun, merasakan kehadiran pemerintah. Rumah ini adalah simbol bahwa kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan sesama,” tambahnya.
Selama ini, Mama Yosefina Abuk hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Keterbatasan ekonomi membuatnya harus bertahan dalam situasi yang serba kekurangan. Namun kepedulian pemerintah daerah dan para pemimpin desa di Rinhat mengubah jalan hidupnya, setidaknya dari sisi paling mendasar: tempat tinggal yang manusiawi.
Langkah yang diambil HMS bersama para kepala desa ini menjadi potret kepemimpinan yang tidak hanya hadir dalam pidato, tetapi nyata dalam tindakan. Di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah, keberpihakan kepada masyarakat kecil tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Di Kabupaten Malaka, pembangunan tidak selalu diukur dari proyek besar atau angka-angka statistik. Kadang, ia justru terlihat jelas dalam hal-hal kecil yang berdampak langsung, seperti sebuah rumah untuk seorang mama yang selama ini luput dari perhatian.
Rumah Mama Yosefina Abuk kini berdiri sebagai simbol. Simbol bahwa negara tidak sepenuhnya jauh. Bahwa pemerintah masih bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana, namun paling dibutuhkan.
Lebih dari itu, rumah ini adalah pengingat bahwa gotong royong belum mati. Ia masih hidup, berdenyut di desa-desa, bergerak melalui tangan-tangan yang bekerja tanpa banyak bicara.
Dan di Desa Biudukfoho, Kecamatan Rinhat, hari itu, harapan benar-benar menemukan rumahnya.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
