Daerah  

Pemimpin di Tikar Rakyat: Ketulusan HMS dari Uluklubuk

Screenshot 20250525 203347 WhatsApp 3142994213

RAEBESINEWS.COM – Pagi itu, di translok Uluklubuk yang jauh dari riuh kota, bumi masih menyimpan embun di sela rerumputan. Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu, menanggalkan protokoler dan duduk bersila di tikar rotan bersama petani. Rumah yang setengah seng setengah batu itu jadi ruang diskusi, ruang makan, sekaligus ruang harapan.

Baca Juga: HMS ke Wewiku: Bangun Pertanian, Bentuk Kelompok Tani dan Gotong Royong

Di atas tikar, tersaji apa yang ditanam sendiri dan dipanen dari tanah Uluklubuk: singkong rebus, daun pepaya rebus, sambal tomat, terung muda, dan akar bilan, olahan sagu lokal yang jadi kebanggaan Malaka. Tak mewah, tapi penuh makna.

Henri tidak datang hanya untuk mencicipi. Ia datang untuk mendengar.

“Pertanian kita butuh dorongan, bukan sekadar pupuk,” katanya sambil mengaduk kuah sagu hangat dalam mangkuk kaca. Suaranya tenang, tapi mengandung nyala. Di hadapannya, para petani mengangguk pelan. Mereka tahu, tanah di sini subur, tapi sering kali kalah oleh kebijakan yang kering.

Baca Juga: Mendagri Wajibkan SPM, SBS HMS Sudah Jalankan di Malaka

Diskusi mengalir seperti air irigasi yang dinanti: tentang pupuk yang sulit dijangkau, harga hasil kebun yang sering ditentukan orang luar, dan soal irigasi yang belum menjangkau semua lahan di translok. Henri mencatat dalam hati. Ia tak datang membawa janji, tapi membawa niat untuk menyambung harapan.

“Kalau pemerintah turun dengar sendiri, kami semangat kerja. Kami tidak butuh dikasihani. Cukup dibantu, jangan diabaikan,” ujar seorang petani tua dengan tangan kasar karena cangkul.

Baca Juga: Henri Melki Simu: Wakil Bupati Malaka yang Tetap Pelayan di Rumah Tuhan

Henri tersenyum. Ia mengerti bahasa ladang, bahasa yang tidak selalu tertulis di dokumen dinas. Baginya, bicara pertanian bukan urusan kantor semata, tapi urusan perut, harga diri, dan masa depan desa.

Di akhir kunjungan, tak ada pengumuman bombastis. Hanya secangkir air kelapa, salam hormat dari rakyat, dan sepiring singkong yang tak habis dimakan.

Baca Juga: Ronaldo Asury Suarakan Aspirasi, Pemkab Malaka Tanggap Perbaiki Jalan Rusak Welaus

Namun bagi Uluklubuk, hari itu terasa istimewa. Karena seorang pemimpin datang, bukan untuk meresmikan proyek, tapi untuk memahami isi kebun dan suara hati petani.

Dan di tikar sederhana itu, kebijakan mulai ditanam. Bukan dari meja rapat, tapi dari tikungan jalan kampung yang berdebu, dari obrolan di antara rebusan singkong dan semilir angin ladang.***

 

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version