RaebesiNews.com – Pagi-pagi sekali, ketika embun masih menggantung di dedaunan dan suara burung bersahutan dari lereng-lereng perbukitan, Jembatan Gantung Numbei berdiri tenang membelah bentangan sungai yang selama puluhan tahun menjadi batas antara harapan dan kenyataan.
Kabel-kabel baja yang membentang kokoh itu seolah menyimpan ribuan cerita. Cerita tentang anak-anak yang dulu harus menunggu air surut untuk pergi ke sekolah. Cerita tentang petani yang memikul hasil kebun sambil berjudi dengan derasnya arus sungai. Cerita tentang warga yang kerap terisolasi ketika musim hujan datang.
Kini, cerita itu perlahan berubah.
Yang tersisa bukan lagi kecemasan, melainkan penantian. Penantian akan kedatangan Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS), bersama Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS), untuk melaksanakan ritual halirin, sebuah tradisi adat Timor sebagai ungkapan syukur sekaligus doa agar jembatan yang telah selesai dibangun membawa keselamatan, kesejahteraan, dan berkat bagi seluruh masyarakat.
Di Kampung Numbei, kabar tentang rencana kedatangan kedua pemimpin itu telah menyebar dari rumah ke rumah. Warga tidak hanya menunggu. Mereka juga mempersiapkan penyambutan dengan sepenuh hati.
Seekor ayam merah telah disiapkan. Kain-kain adat telah dikeluarkan dari tempat penyimpanan. Bukan karena kemewahan yang ingin ditampilkan, melainkan karena begitulah cara masyarakat Timor menghormati tamu dan mengungkapkan rasa syukur.
Bagi warga Numbei, penyambutan itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah bahasa hati yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Tokoh masyarakat Numbei, Simon Seran, mengatakan antusiasme masyarakat semakin besar dari hari ke hari. Hampir setiap warga menanyakan kapan SBS dan HMS akan datang.
“Kami semua sudah sangat menunggu. Ayam merah sudah kami siapkan, kain adat juga sudah tersedia. Kami ingin menyambut Bapak SBS dan Bapak HMS dengan adat kami sendiri. Ini bentuk rasa syukur kami karena jembatan yang selama ini hanya menjadi impian akhirnya berdiri di kampung kami,” ujar Simon Seran.
Simon mengaku, selama bertahun-tahun masyarakat Numbei hidup berdampingan dengan sungai yang sewaktu-waktu berubah menjadi ancaman. Ketika hujan turun di hulu, aktivitas warga nyaris berhenti. Anak-anak terlambat ke sekolah, hasil panen sulit dibawa keluar, bahkan urusan kesehatan sering menjadi persoalan karena akses yang terbatas.
Kini, semua itu mulai berubah.
Jembatan gantung yang membentang megah telah membuka jalan baru bagi masyarakat. Jalan yang bukan hanya menghubungkan dua sisi sungai, tetapi juga menghubungkan masa lalu yang penuh keterbatasan dengan masa depan yang dipenuhi harapan.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat lainnya, Herman Bau. Baginya, pembangunan Jembatan Gantung Numbei adalah bukti bahwa harapan masyarakat kecil tetap didengar.
“Kami merasa sangat bersyukur. Dulu kami hanya bisa membayangkan punya jembatan seperti ini. Sekarang kami bisa melihatnya berdiri kokoh. Karena itu kami ingin menyambut Bapak SBS dan Bapak HMS dengan adat kami sebagai ungkapan terima kasih dari seluruh masyarakat Numbei,” katanya.
Herman mengatakan, ritual halirin memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Timor. Tradisi itu bukan sekadar adat turun-temurun, tetapi juga doa bersama agar setiap orang yang melintasi jembatan selalu diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala mara bahaya.
Di mata masyarakat Numbei, jembatan ini bukan hanya proyek pembangunan. Ia adalah simbol perubahan.
Anak-anak kini memiliki jalan yang lebih aman menuju sekolah. Para petani dapat mengangkut hasil kebun tanpa lagi dihantui derasnya arus sungai. Aktivitas ekonomi diharapkan tumbuh lebih cepat, sementara hubungan antardesa menjadi semakin mudah.
Karena itu, kedatangan SBS dan HMS untuk mengikuti prosesi halirin memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sebuah kunjungan kerja biasa. Kehadiran mereka menjadi penutup dari perjalanan panjang sebuah pembangunan sekaligus pembuka lembaran baru bagi masyarakat Numbei.
Ketika nanti ayam merah dipersembahkan, kain adat dikenakan, doa-doa dipanjatkan, dan langkah pertama kedua pemimpin itu menapaki jembatan dalam prosesi adat, sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan hanya berdirinya sebuah jembatan.
Yang sedang dirayakan adalah kemenangan harapan atas keterisolasian. Sebuah keyakinan bahwa pembangunan yang lahir dari kebutuhan rakyat akan selalu menemukan jalannya menuju hati masyarakat.
Dan di Kampung Numbei, penantian itu kini tinggal menghitung hari.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
