RaebesiNews.com – Di tengah tantangan kelangkaan pupuk berlabel yang kerap dikeluhkan petani, secercah harapan tumbuh dari Desa Naimana. Kelompok Tani Busa Kukun menunjukkan bahwa kemandirian bukan sekadar wacana, tetapi bisa diwujudkan melalui inovasi sederhana berbasis potensi lokal: pembuatan pupuk kompos alami untuk hortikultura.
Berbekal bahan-bahan yang mudah dijumpai di sekitar lingkungan, seperti kotoran sapi, sekam padi, dan larutan gula, para petani meramu pupuk organik berkualitas tinggi. Sekam padi terlebih dahulu dibakar hingga menjadi arang hitam, lalu dicampur dengan kotoran sapi. Campuran ini kemudian disiram larutan gula dan aktivator mikroorganisme (MP4) untuk mempercepat proses fermentasi.
Proses fermentasi berlangsung selama dua minggu atau lebih, hingga bahan-bahan tersebut terurai sempurna dan berubah menjadi kompos yang kaya unsur hara. Pupuk ini diyakini mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah-buahan.
Inisiatif ini tidak lahir begitu saja. Kelompok Tani Busa Kukun mendapat pendampingan langsung dari seorang pegiat pertanian asal Timor Tengah Selatan (TTS), Jack, pensiunan anggota kepolisian bergelar Sarjana Hukum. Dengan pendekatan praktis dan bahasa sederhana, ia membagikan pengetahuan tentang teknik pembuatan kompos yang efektif dan ramah lingkungan.
Kegiatan pelatihan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), Kepala Desa Naimana, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta anggota kelompok tani. Kehadiran pemerintah daerah menjadi sinyal kuat bahwa inovasi berbasis masyarakat mendapat perhatian serius.
Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Malaka menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan pupuk kompos sebagai alternatif di tengah keterbatasan pupuk kimia bersubsidi.
“Saya sangat mengapresiasi inisiatif Kelompok Tani Busa Kukun di Desa Naimana ini. Pupuk kompos seperti ini adalah solusi nyata bagi petani kita, apalagi di saat pupuk berlabel sering langka. Kita tidak boleh terus bergantung, tetapi harus mulai mandiri dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kita,” ujar Henri Melki Simu, Senin (20/04/2026).
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah akan terus mendorong kegiatan serupa agar bisa diterapkan di desa-desa lain di Kabupaten Malaka.
“Bahan-bahannya mudah didapat, cara membuatnya juga sederhana. Kalau ini dikembangkan secara luas, saya yakin pertanian kita akan lebih kuat, biaya produksi bisa ditekan, dan hasilnya juga lebih sehat. Pemerintah tentu mendukung penuh gerakan seperti ini,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa penggunaan pupuk organik tidak hanya mengatasi persoalan ketersediaan, tetapi juga berdampak positif terhadap kesehatan tanah dalam jangka panjang. Tanah yang rutin diberi kompos akan lebih gembur, kaya mikroorganisme, dan mampu menyimpan air lebih baik.
Sementara itu, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Busa Kukun mengaku antusias dengan metode ini. Selain menghemat biaya produksi, mereka juga merasakan manfaat langsung terhadap pertumbuhan tanaman yang lebih sehat.
Langkah kecil dari Desa Naimana ini menjadi contoh bahwa transformasi pertanian tidak selalu membutuhkan teknologi mahal. Dengan pengetahuan, kemauan, dan dukungan bersama, petani mampu menciptakan solusi mandiri yang berkelanjutan.
Di tanah yang sederhana, semangat kemandirian itu kini mulai bertunas, menjanjikan masa depan pertanian Malaka yang lebih tangguh dan berdaulat.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
