RAEBESINEWS.COM – Simon Nahak pernah tampil penuh semangat, dengan suara lantang dan janji-janji megah yang memantik harapan rakyat Malaka.
Namun, setelah masa jabatannya berakhir, banyak yang hanya bisa mengingatnya sebagai pemimpin yang kuat dalam ucapan, tapi lemah dalam pelaksanaan.
Di setiap sudut Betun hingga pelosok Rinhat, warga masih membicarakan warisan janji yang tak ditepati. Sebuah daftar panjang impian yang tak pernah benar-benar menyentuh tanah.
Baca Juga: Janji Simon Nahak yang Tak Tumbuh: Lapangan Betun Dikepung Lapak, Bukan Taman Kota
1. Jembatan Benenai II: Masih di Atas Kertas
Dijanjikan sebagai penghubung vital antara Aintasi dan wilayah Malaka Barat, Jembatan Benenai II digadang-gadang akan mempercepat akses dan roda ekonomi. Namun hingga hari ini, jangankan tiang pancang, bayangannya pun tak terlihat.
2. Taman Kota Betun: Taman Tak Nampak, Pujasera Berterpal
Alih-alih taman kota yang asri, yang muncul justru deretan lapak dengan terpal lusuh di jantung kota Betun. Bukannya ruang hijau, masyarakat mendapat pujasera darurat—simbol kegagalan penataan ruang publik yang semestinya membanggakan.
Baca Juga: Janji-janji yang Tumbuh Lalu Layu: Jejak Gagal Branding Pangan Lokal Era Simon Nahak di Malaka
3. Rinhat Tak Juga Mekar
Dalam kampanye, Rinhat dijanjikan naik kelas menjadi dua kecamatan demi pemerataan pembangunan. Tapi setelah satu periode berlalu, Rinhat tetap Rinhat, memikul janji yang tak pernah tiba.
4. Desa Weoe Translok Uluklubuk (Desa Pancasila): Rencana yang Tak Menyala
Desa baru yang seharusnya menjadi simbol keberagaman dan percontohan nasional Desa Pancasila hanya menjadi jargon tanpa arah. Warga masih menunggu legalitas dan fasilitas, sementara pemerintah terkesan lupa pernah berjanji.
Baca Juga: Moment Ulang Tahun Simon Nahak Saat Peresmian RS Pratama Wewiku, Kini Jadi Gedung Kosong
5. Jembatan Numponi: Mimpi yang Terputus
Sejak diterjang badai Seroja, Jembatan Numponi menjadi luka terbuka di hati warga. Simon Nahak pernah berjanji membangunnya kembali. Tapi hingga masa jabatan habis, jembatan itu tak kunjung berdiri. Warga masih menyeberangi sungai dengan risiko, menggantungkan nasib pada rakit darurat.
Masyarakat Malaka tak menuntut muluk-muluk. Mereka hanya ingin pemimpin yang setia pada kata-katanya. Dalam konteks ini, Simon Nahak telah mencatatkan namanya dalam daftar pemimpin yang gagal mengubah janji menjadi bukti.
Baca Juga: Skandal Septic Tank Jadi Cerminan Buruk Tata Kelola Era Mantan Bupati Simon Nahak
Kini, Malaka melangkah bersama pemimpin baru. Tapi suara rakyat tak lupa. Mereka telah belajar: pidato yang berapi-api tak selalu berarti tindakan nyata.
“Janji itu utang,” kata seorang warga di pasar Betun. “Dan utang itu masih belum dibayar.”***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
