RaebesiNews.com – Tidak semua pembangunan dimulai dari rapat-rapat resmi di ruang kantor. Ada pembangunan yang lahir dari tangisan rakyat di tepi sungai.
Kampung Oekmurak di Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka, pernah menjadi tempat di mana ketakutan hidup bersama masyarakatnya. Kampung kecil yang berdiri di tepian Sungai Benenai itu selama bertahun-tahun berada dalam bayang-bayang ancaman yang sama: longsoran tebing yang perlahan-lahan menggerus tanah menuju rumah-rumah warga.
Bagi orang luar, Sungai Benenai mungkin hanya tampak sebagai aliran air yang besar dan tenang. Namun bagi masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai, Benenai adalah kekuatan alam yang tidak bisa diremehkan.
Sungai terbesar di Pulau Timor itu mengalir membawa air dari berbagai wilayah hulu seperti Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu hingga Malaka. Ketika hujan turun di daerah-daerah itu, arus Benenai berubah menjadi deras dan liar, menghantam tebing-tebing sungai dengan kekuatan yang terus mengikis tanah di sekitarnya.
Di Oekmurak, warga sudah terlalu lama hidup dengan kecemasan itu.
Setiap musim hujan datang, mereka hanya bisa menatap tebing sungai dengan perasaan waswas. Tanah di bawah rumah mereka perlahan runtuh. Jarak antara tebing dan rumah semakin hari semakin dekat.
Permintaan agar dibangun bronjong penguat tebing sebenarnya sudah lama disampaikan masyarakat. Mereka berharap ada perlindungan yang bisa menahan gerusan arus sungai. Namun harapan itu berjalan sangat lambat.
Oekmurak sempat merasa seperti kampung yang dilupakan.
Tahun Paling Menyakitkan
Tahun 2024 menjadi salah satu masa paling menyedihkan dalam sejarah kampung itu.
Beberapa rumah permanen yang dibangun warga dengan penuh perjuangan terpaksa dibongkar sendiri oleh pemiliknya. Bukan karena rumah itu rusak, melainkan karena jaraknya dengan tebing Sungai Benenai tinggal sekitar satu hingga dua meter saja.
Jika tidak dibongkar, rumah-rumah itu hampir pasti akan runtuh dan hanyut terbawa arus sungai.
Dengan hati berat, para pemilik rumah bersama anggota keluarga mereka mulai melepas seng, membongkar dinding, mencabut balok dan kayu. Mereka berusaha menyelamatkan bahan bangunan yang masih bisa digunakan agar tidak ikut hanyut.
Pemandangan itu sangat memilukan.
Rumah yang dibangun dengan tabungan bertahun-tahun harus dihancurkan oleh tangan pemiliknya sendiri.
Yang tersisa hanyalah pondasi rumah dan vonderen yang berdiri sunyi di tanah yang terus digerus air.
Janji di Tepi Sungai
Pada tahun yang sama, seorang tamu datang ke Desa Oekmurak. Ia adalah Stefanus Bria Seran, yang saat itu sedang maju sebagai calon Bupati Malaka.
Warga kemudian membawa dirinya ke tepi Sungai Benenai. Mereka menunjukkan bekas-bekas rumah yang sudah dibongkar. Deretan pondasi rumah itu menjadi saksi kesedihan masyarakat.
Tangisan pecah di tepi sungai.
“Bapak… ini rumah kami. Kami bangun dengan susah payah. Tapi kami harus bongkar sendiri supaya bahan-bahannya tidak hanyut,” kata seorang warga dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Suasana saat itu begitu hening dan mengharukan.
Di tempat itu, Stefanus Bria Seran menundukkan kepala. Ia berdoa di tepi Sungai Benenai, memohon kepada Tuhan dan para leluhur tanah Malaka.
Ia mengatakan, jika Tuhan memberkati, para leluhur merestui, dan rakyat Malaka memberikan kepercayaan kepada kepemimpinan SBS HMS, maka pembangunan bronjong penguat tebing di Oekmurak akan diprogramkan untuk menyelamatkan kampung tersebut dari ancaman sungai.
Bagi warga yang mendengarnya saat itu, kata-kata tersebut adalah harapan di tengah keputusasaan.
Janji yang Menjadi Nyata
Waktu kemudian berjalan.
Pada tahun 2025, rakyat Malaka memberikan mandat kepada pasangan Stefanus Bria Seran dan Henri Melki Simu untuk memimpin Kabupaten Malaka.
Janji di tepi Sungai Benenai itu tidak dilupakan.
Pemerintah Kabupaten Malaka di bawah kepemimpinan SBS HMS mulai membangun bronjong penguat tebing sepanjang sekitar 500 meter di bantaran Sungai Benenai yang melewati Desa Oekmurak.
Pekerjaan tersebut menjadi langkah awal untuk melindungi pemukiman warga dari ancaman longsor dan gerusan arus sungai.
Program itu kemudian dilanjutkan pada tahun 2026 dengan tambahan pembangunan sekitar 700 meter bronjong.
Jika seluruh pekerjaan tersebut rampung, maka perlindungan tebing sungai di kawasan Oekmurak akan mencapai sekitar 1,2 kilometer.
Benteng batu dan kawat itu kini berdiri kokoh menahan arus Sungai Benenai.
Lebih dari Sekadar Proyek
Bagi masyarakat Oekmurak, bronjong itu bukan sekadar proyek pembangunan.
Ia adalah simbol bahwa suara rakyat akhirnya didengar.
Hari ini, ketika warga berdiri di tepi sungai dan melihat bronjong yang membentang melindungi kampung mereka, yang mereka lihat bukan hanya susunan batu di dalam kawat baja.
Mereka melihat sesuatu yang lebih besar: perubahan.
Dari kampung yang dulu merasa diabaikan, menjadi kampung yang kini dilindungi.
Kilas balik Oekmurak menjadi cerita yang terus dikenang masyarakat. Sebuah kisah tentang bagaimana air mata rakyat di tepi sungai bisa berubah menjadi harapan ketika kepemimpinan hadir mendengar dan bertindak.
Di bantaran Sungai Benenai, kisah itu kini menjadi bagian dari perjalanan kepemimpinan SBS HMS di Kabupaten Malaka, sebuah cerita tentang janji yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan menjadi perlindungan nyata bagi rakyat.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
