RaebesiNews.com – Di pekan-pekan terakhir bulan April, dunia seakan disuguhkan sebuah panggung besar yang mempertontonkan pertarungan dua visi yang saling bertolak belakang: suara damai dari Vatikan dan gema kekuatan militer dari Washington. Dua kutub ini tidak sekadar berbeda pandangan, tetapi bergerak dalam arah yang nyaris bertolak belakang, sebuah contradictio in terminis dalam wajah kepemimpinan global hari ini.
Ketika Paus Leo XIV tampil pertama kali di balkon Basilika Santo Petrus di Vatikan, dunia mendengar kembali gema abadi dari ajaran Yesus Kristus: “Damai bagimu semua” La pace sia con tutti voi. Kalimat itu bukan sekadar sapaan liturgis, melainkan deklarasi moral yang melampaui batas negara, ideologi, dan kepentingan geopolitik.
Namun, di belahan dunia lain, Donald Trump mengartikulasikan pendekatan berbeda: kekuatan sebagai instrumen utama dalam menyelesaikan konflik. Ketegangan dengan Iran, yang juga mendapat dukungan dari Benjamin Netanyahu di Israel, memperlihatkan bagaimana opsi militer, use of force, masih menjadi pilihan strategis dalam politik global.
Di sinilah dunia menyaksikan dua wajah kekuasaan: satu berbicara tentang martabat manusia, yang lain menimbang stabilitas melalui dominasi.
Paus Leo XIV dengan tegas mengingatkan bahwa kehidupan manusia adalah suci dan tidak boleh direduksi menjadi angka statistik dalam laporan perang. Dalam perspektif hukum internasional, perlindungan terhadap warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan, merupakan prinsip fundamental. Lebih jauh lagi, dalam kerangka moral dan spiritual, kehidupan bukanlah domain kekuasaan manusia, melainkan milik Tuhan sepenuhnya.
Sebaliknya, pendekatan militeristik sering kali menempatkan kepentingan strategis di atas nilai kemanusiaan. Serangan, blokade, dan intimidasi menjadi bahasa yang dipakai untuk memaksa kepatuhan. Namun sejarah telah berkali-kali menunjukkan: kekuatan senjata mungkin memenangkan pertempuran, tetapi tidak pernah benar-benar memenangkan hati manusia.
Seruan Paus Leo XIV bukan sekadar idealisme utopis. Ia adalah panggilan untuk kembali pada hakikat kekuasaan itu sendiri: bahwa otoritas diberikan bukan untuk menaklukkan, tetapi untuk melindungi dan menghadirkan rasa aman. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, diplomasi dan dialog bukanlah kelemahan, melainkan keberanian tingkat tinggi.
Menariknya, respons global tampak lebih condong pada pesan damai. Di berbagai belahan dunia, gelombang demonstrasi muncul, menyuarakan penolakan terhadap eskalasi konflik bersenjata. Publik internasional, dalam banyak kasus, menunjukkan kejenuhan terhadap perang yang tak berkesudahan dan korban yang terus berjatuhan tanpa solusi nyata.
Fenomena ini menegaskan satu hal penting: kesadaran kolektif umat manusia sedang bergerak. Dunia mulai mempertanyakan legitimasi kekuasaan yang bertumpu pada kekerasan.
Pada akhirnya, sejarah akan menjadi hakim yang tak memihak. Kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan dan kehancuran cepat atau lambat akan runtuh oleh waktunya sendiri. Sebaliknya, nilai-nilai yang berakar pada kemanusiaan dan perdamaian memiliki daya tahan yang jauh lebih panjang, bahkan melampaui generasi.
Seruan Paus Leo XIV adalah pengingat bahwa di tengah riuhnya politik global, masih ada suara yang mengajak manusia untuk kembali menjadi manusia. Dan mungkin, justru di situlah letak harapan terbesar umat manusia hari ini.***
Confidimus Paus Leo XIV.
La pace sia con tutti voi.
Oleh: Yohanes Bernando Seran
(Mantan Seminaris SMA Seminari Lalian, Angkatan 1981–1985)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
