RaebesiNews.com – Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), yang juga merupakan pasangan Bupati dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS), melakukan kunjungan kerja ke Desa Weoe, Dusun Weoe C, Kecamatan Wewiku, Senin (3/11/2025).
Dalam kunjungan tersebut, HMS menemui para petani yang lahannya sedang diolah menggunakan traktor milik Dinas Pertanian Kabupaten Malaka secara gratis.
Program “balik tanah” ini merupakan bagian dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Malaka dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian rakyat.
Para petani menyambut kunjungan HMS dengan antusias dan penuh sukacita. Dalam kesempatan itu, HMS didampingi oleh Kepala Desa Weoe dan Koordinator PPL Kecamatan Wewiku, serta berdialog langsung dengan warga penerima manfaat.
Salah satu petani, Wilibrodus Seran, menyampaikan rasa syukurnya atas kebijakan tersebut.
“Kami sangat terbantu dengan program balik tanah gratis ini. Lahan saya cukup luas dan kalau diolah sendiri biayanya besar. Sekarang, berkat bantuan dari Pemda Malaka, semua bisa dikerjakan tanpa biaya,” ungkap Wilibrodus dengan wajah gembira.
Langkah Nyata Menuju Ketahanan Pangan Keluarga
Program balik tanah gratis merupakan bentuk nyata dari strategi Pemerintah Kabupaten Malaka dalam mendorong ketahanan pangan keluarga.
Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk mengoptimalkan potensi tanah rakyat yang subur, tetapi selama ini belum tergarap secara maksimal karena keterbatasan alat dan tenaga.
“Rakyat Malaka punya tanah yang subur, tetapi sering kali kekurangan daya untuk mengolahnya. Maka Pemda Malaka membuat kebijakan membantu rakyat dengan mengolah kebun mereka secara gratis. Setelah diolah, tanah itu harus segera ditanami tanaman pangan seperti jagung, ubi, pisang, dan sayuran,” jelas SBS.
Menurut SBS, konsep ini bukan sekadar kegiatan pertanian, tetapi merupakan strategi berkelanjutan yang menggabungkan aspek produktivitas, kemandirian pangan, dan peningkatan kesejahteraan keluarga.
Pendekatan Ilmiah dalam Program Balik Tanah
Secara teknis, proses pembalikan tanah (land tillage) berfungsi memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aerasi, memperluas zona perakaran, serta membantu proses dekomposisi bahan organik. Dengan pengolahan tanah menggunakan traktor, lahan petani menjadi lebih gembur dan mudah menyerap air, sehingga efisiensi penggunaan pupuk dan air meningkat.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Malaka Lorens Bere, menjelaskan bahwa tanah yang telah dibalik akan diberi rekomendasi tanam sesuai zona agroekologi masing-masing desa.
Di Kecamatan Wewiku misalnya, lahan cocok ditanami jagung hibrida, ubi kayu varietas unggul, dan sayuran daun yang bernilai ekonomi tinggi.
Selain itu, tenaga penyuluh pertanian lapangan (PPL) akan mendampingi petani dalam setiap tahapan, mulai dari persiapan lahan, pemilihan benih, pemupukan berimbang, hingga panen. Pendekatan ini menempatkan petani sebagai subjek utama pembangunan pertanian, bukan sekadar penerima bantuan.
HMS: “Jangan Berhenti di Bajak Tanah”
Dalam pesannya kepada para petani, HMS menekankan pentingnya tindak lanjut pasca pengolahan tanah.
“Setelah tanah dibalik, jangan berhenti di situ. Harus segera ditanami. Kita ingin melihat lahan-lahan rakyat yang hijau dengan jagung, umbi-umbian, dan sayuran. Itu tanda bahwa program ini berhasil,” tegas HMS.
Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah tidak hanya menyediakan alat dan tenaga, tetapi juga akan terus melakukan pendampingan teknis agar hasil pertanian rakyat semakin meningkat.
Dari Weoe untuk Malaka yang Maju dan Mandiri
Program balik tanah gratis ini menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah dan rakyat dalam menggerakkan sektor pertanian Malaka. Di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga pangan, kebijakan ini menjadi bentuk nyata komitmen SBS–HMS untuk menjaga ketahanan pangan dari akar rumput, mulai dari kebun rakyat di desa-desa.
Bupati SBS menutup dengan pesan penuh makna:
“Kita tidak bisa bicara ketahanan pangan kalau rakyat tidak menanam. Karena itu, tugas pemerintah adalah membuka jalan, memberi daya, dan memastikan tanah subur kita menghasilkan makanan bagi keluarga Malaka.”
Dengan semangat “Dari Tanah Subur untuk Perut Rakyat Malaka”, program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan petani yang berkelanjutan, sekaligus fondasi menuju Malaka yang maju, mandiri, dan sejahtera melalui pertanian.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
