RAEBESINEWS.COM – Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), kembali menunjukkan sikap yang tak biasa dalam tradisi pembangunan daerah. Ia secara tegas menolak namanya dicantumkan dalam prasasti Jembatan Gantung Numbei yang tengah dibangun di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.
Penolakan itu disampaikan langsung saat dirinya meninjau progres pembangunan jembatan tersebut. Di hadapan sejumlah pejabat dan masyarakat, SBS menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan namanya diabadikan pada benda mati, termasuk prasasti yang lazim digunakan sebagai penanda proyek pemerintah.
“Nama saya tidak boleh ditulis di atas batu. Tidak perlu itu,” tegas SBS.
Bagi SBS, pengabdian seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa banyak namanya diukir di prasasti, melainkan seberapa dalam ia hidup dalam ingatan dan hati masyarakat yang dilayaninya. Ia bahkan menyampaikan kalimat yang cukup menyentuh, bahwa namanya sudah “terukir indah” di hati rakyat Malaka.
Pernyataan tersebut langsung mengundang perhatian publik, terutama karena berbeda dengan praktik umum yang selama ini berlaku di berbagai daerah. Biasanya, setiap proyek pembangunan yang selesai akan dilengkapi dengan prasasti yang memuat nama kepala daerah sebagai simbol peresmian.
Namun bagi SBS, hal itu bukanlah sesuatu yang penting. Ia justru menilai, tradisi peresmian proyek dengan seremoni formal berpotensi membuka ruang pemborosan anggaran, bahkan bisa mengarah pada praktik yang tidak sehat.
Dalam kesempatan yang sama, SBS juga secara tegas melarang digelarnya seremoni peresmian Jembatan Gantung Numbei. Ia menyebut kegiatan peresmian yang menggunakan anggaran tertentu sebagai bentuk yang tidak perlu, bahkan cenderung mengarah pada pemborosan.
“Peresmian itu ambil uang dari mana?” ujarnya dengan nada kritis.
Menurut SBS, anggaran daerah seharusnya difokuskan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kegiatan seremonial yang tidak berdampak langsung. Ia mengingatkan bahwa setiap rupiah uang negara harus dipertanggungjawabkan dengan baik.
Sebagai alternatif, SBS justru mengusulkan pendekatan yang lebih sederhana dan berakar pada budaya lokal. Ia menyebut cukup dilakukan “halirin”, sebuah tradisi syukuran sederhana yang dikenal masyarakat setempat.

“Cukup dengan satu ayam merah, kita halirin. Itu sudah cukup,” ungkapnya.
Tradisi halirin sendiri merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat Malaka yang dilakukan secara sederhana namun sarat makna. Biasanya, kegiatan ini melibatkan warga setempat dalam suasana kekeluargaan tanpa membutuhkan biaya besar.
Rencananya, halirin untuk Jembatan Gantung Numbei akan dilaksanakan pada bulan Mei 2026 di Kampung Numbei. Momentum tersebut diharapkan menjadi simbol kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam merayakan hasil pembangunan.
Sikap SBS ini dinilai mencerminkan gaya kepemimpinan yang sederhana dan berorientasi pada efisiensi anggaran. Ia tidak hanya menolak simbol-simbol formalitas, tetapi juga berusaha mengembalikan makna pembangunan kepada esensi utamanya, yakni kesejahteraan rakyat.
Sejumlah warga yang hadir saat peninjauan mengaku terkesan dengan keputusan tersebut. Mereka menilai SBS lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dibandingkan pencitraan pribadi.
“Yang penting jembatan ini bisa kami pakai, itu saja sudah cukup. Tidak perlu prasasti,” ujar salah seorang warga.

Jembatan Gantung Numbei sendiri menjadi salah satu infrastruktur penting yang diharapkan dapat memperlancar akses masyarakat, terutama dalam aktivitas ekonomi dan mobilitas sehari-hari. Kehadiran jembatan ini diyakini akan membuka keterisolasian wilayah serta mempercepat distribusi hasil pertanian.
Dengan menolak prasasti dan seremoni peresmian, SBS seolah ingin mengirim pesan kuat bahwa pembangunan bukan tentang nama besar seorang pemimpin, melainkan tentang manfaat nyata bagi rakyat.
Di tengah budaya birokrasi yang kerap lekat dengan formalitas dan simbolisme, langkah SBS menjadi pengingat bahwa kesederhanaan dan keberpihakan pada rakyat masih memiliki tempat dalam praktik pemerintahan.
Dan di Kampung Numbei nanti, tanpa panggung megah dan tanpa ukiran nama di batu, sebuah jembatan akan “diresmikan” dengan cara yang lebih membumi, melalui satu ayam merah, doa bersama, dan harapan yang mengalir di antara warga.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











