RAEBESINEWS.COM – Di sebuah pagi yang masih segar di Desa Meotroy, Nurobo, Kecamatan Laenmanen, sinar mentari menembus sela-sela dedaunan gamal dan lamtoro. Langit tampak bersih, nyaris tanpa awan.
Di bawah langit itu, terbentang sebuah lahan luas dengan barisan tanaman kol yang hijau dan segar. Di tengah-tengahnya, berdiri seorang lelaki bertopi koboi merah, mengenakan jaket biru dan celana pendek. Ia tersenyum, bukan karena sedang berpose untuk kamera, tetapi karena sedang berdiri di atas keberhasilannya sendiri.
Lelaki itu adalah Ronaldo Asury, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malaka. Tapi hari itu, ia bukan politisi di ruang sidang, bukan pula juru bicara anggaran atau pembangunan. Ia adalah petani. Seorang penanam kubis. Seorang penyemai harapan.
Baca Juga: Masyarakat Umakatahan Antusias Sambut Pembentukan Koperasi Merah Putih
Dari Mimbar Dewan ke Gumpalan Tanah
Ronaldo Asury bukan politisi biasa. Ia tidak memilih jalur aman yang hanya mengandalkan panggung parlemen. Ia memilih jalan ganda, satu kaki di ruang dewan, satu kaki di ladang terbuka. Saat kebanyakan politisi sibuk mengejar jabatan, Ronaldo sibuk membalik tanah, menanam lombok, tomat, dan kol.
“Ini menjadi motivasi untuk rakyat Malaka bahwa bertani itu bisa menghasilkan dan sukses,” ujarnya dengan nada datar tapi dalam. Kata-katanya sederhana, tapi menyimpan pesan kuat tentang kemandirian dan kerja keras.
Ia bertani secara serius, bukan ala kadarnya. Lahan untuk lombok ia siapkan seluas dua hektare, tomat satu hektare, dan kol 80 are. Di atas tanah itu, ia tidak hanya menyemai benih hortikultura, tapi juga menanam nilai-nilai: bahwa pekerjaan petani bukan simbol kemiskinan, melainkan profesi yang bisa dijalani dengan bangga.
Baca Juga: Ronaldo Asury Perjuangkan Pembangunan Kembali Jembatan Numponi, Urat Nadi Dapil III Malaka
Kubis, Angka, dan Harapan
Kebun kol milik Ronaldo tidak seperti ladang biasa. Ia menata tanaman dengan teknik pertanian modern, menggunakan mulsa plastik untuk menjaga kelembaban tanah dan menghambat gulma. Ini bukan hanya bukti pengetahuan, tapi juga dedikasi. Sebelumnya, ia mulai dengan 3 ribu pohon kubis. Kini, ia sedang menyiapkan tanam kedua: delapan ribu pohon.
Hitung-hitungan kasarnya mudah. Jika satu pohon kol bisa dijual antara Rp15.000 hingga Rp20.000, maka ladang itu bisa menghasilkan ratusan juta rupiah sekali panen. Tapi angka itu hanya permukaan. Di baliknya ada jam-jam panjang bekerja di bawah matahari, ada peluh, ada keteguhan hati.
“Bertani itu seperti menjadi guru alam. Kita belajar dari siklus. Kalau hujan datang terlalu awal atau terlalu lambat, kita belajar mengatur ulang jadwal. Kalau hama datang, kita belajar melawan. Tak ada yang sia-sia dari kerja keras di tanah,” kata Ronaldo.
Politik yang Membumi
Tak banyak pejabat publik yang bersedia menunjukkan sisi manusianya seperti ini. Di saat citra dan pencitraan menjadi santapan sehari-hari, Ronaldo memilih menampilkan dirinya apa adanya. Ia memperjuangkan infrastruktur jalan dan irigasi untuk daerah pemilihannya di Dapil III, tetapi ia juga menunjukkan bahwa jalan dan irigasi itu bisa digunakan secara nyata oleh petani—termasuk dirinya sendiri.
Kehadirannya di tengah ladang adalah simbol. Bahwa seorang wakil rakyat tidak harus berdiri di menara gading. Bahwa pemimpin yang sejati tidak hanya bicara tentang rakyat, tetapi hidup bersama rakyat.
Nurobo: Sebuah Nama, Sebuah Napas
Desa Meotroy, Nurobo, tempat kebun itu berada, kini bukan sekadar titik di peta Kecamatan Laenmanen. Ia menjadi saksi bisu dari sebuah gerakan sunyi: gerakan kembali ke tanah. Di atas tanah yang mungkin dulu dianggap kering dan tak bernilai, Ronaldo menumbuhkan lebih dari sekadar tanaman. Ia menumbuhkan harapan.
“Kalau kita serius, Malaka ini bisa jadi lumbung hortikultura. Anak muda jangan malu bertani. Sekarang yang penting kerja nyata,” katanya.
Ia ingin anak-anak muda Malaka tak hanya menggantung harapan pada menjadi PNS atau merantau ke kota. Ia ingin mereka melihat bahwa di atas tanah sendiri pun, masa depan bisa ditanam dan dipanen.
Baca Juga: Jaga Wajah Kota Kabupaten, Kades Wehali Pimpin Langsung Aksi Bersih Jalan Setiap Jumat
Sosok yang Tak Segan Berpeluh
Foto dirinya di tengah ladang kol itu kini banyak dibagikan di media sosial. Ada yang menyebutnya “anggota dewan rasa petani.” Tapi bagi Ronaldo, semua itu tak penting. Yang terpenting adalah hasil yang bisa dinikmati, bukan hanya oleh dirinya, tapi juga oleh masyarakat yang ia wakili.
Ia tidak malu tangan kotor oleh tanah. Ia tidak canggung berpeluh saat mencabuti rumput liar. “Kalau kita tidak turun langsung, kita tidak tahu susahnya petani. Dan kalau kita tidak tahu susahnya, bagaimana kita mau memperjuangkan mereka dengan tulus?” tanyanya retoris.
Baca Juga: Kades Fahiluka Pimpin Aksi Bersih Jalan: Wujud Nyata Komitmen untuk Desa Wisata
Menanam Teladan, Menuai Keyakinan
Dalam dunia yang makin bising oleh janji dan sorak sorai politisi, kehadiran Ronaldo Asury di tengah ladang kolnya adalah hening yang menyejukkan. Ia menanam bukan hanya bibit sayur, tapi juga teladan. Ia menunjukkan bahwa pemimpin bisa tetap sederhana, membumi, dan bekerja nyata. Bahwa suara rakyat tidak harus hanya dibela di ruang sidang, tetapi juga bisa diwakili dari sepetak ladang kol yang rapi dan hijau.
Dari Nurobo, ia menanam masa depan. Bukan dengan retorika, tetapi dengan cangkul dan tangan yang percaya pada tanah.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









