RAEBESINEWS.COM— Di bawah langit malam yang bersih dan bintang-bintang yang bersinar malu-malu di atas teluk Likupang, para pemangku kepentingan dari berbagai pelosok nusantara berkumpul dalam Musyawarah Nasional (Munas) VI Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).
Ajang lima tahunan ini tak sekadar menjadi forum strategis, tapi juga pesta perayaan budaya, tempat di mana Indonesia tampil dalam ragam warna dan benang-benang warisan leluhur.
Baca Juga: Kemenkes Rekrut Tenaga Kesehatan Untuk Penugasan Khusus, Mungkin Anda Memenuhi Syarat?
Kabupaten Malaka, sebuah kabupaten muda dari Nusa Tenggara Timur yang berada di tapal batas, tak ketinggalan menorehkan jejaknya dalam acara yang juga menandai 25 tahun berdirinya Apkasi ini. Hadir langsung dalam perhelatan akbar tersebut, Bupati Malaka dr. Stefanus Bria Seran (SBS) dan Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS), didampingi jajaran Tim Penggerak PKK Kabupaten Malaka.
Namun, bukan hanya pidato dan diskusi yang mencuri perhatian malam itu. Di antara gemerlap lampu dan semilir angin tropis, dua perempuan dari Malaka, Tince Magdalena Rayon dan Apriana Ance Simu, tampil memukau dalam balutan gaun yang menjahitkan cerita dari benang tenun ikat khas Malaka. Mereka bukan hanya hadir sebagai pendamping pejabat daerah, tetapi sebagai duta budaya, membawa harum nama Malaka dengan elegansi yang anggun dan penuh makna.
Baca Juga: Perlindungan Guru dan Fasilitas Pendidikan: Langkah Strategis SBS-HMS di Malaka
Gaun yang dikenakan keduanya bukan sembarang pakaian. Ia adalah narasi tenang tentang tanah Timor, tentang perempuan-perempuan penenun di pinggir Kali Benenai, tentang tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Setiap motif adalah doa, dan setiap warna adalah cerminan kehidupan yang bersahaja namun bermartabat.
“Saya merasa bangga bisa mengenakan kain tenun ini di forum nasional. Ini bukan sekadar busana, tapi identitas kami sebagai orang Malaka,” ujar Apriana Ance Simu sambil tersenyum, usai diminta berfoto bersama oleh sejumlah peserta Munas.
Baca Juga: Jembatan-Jembatan yang Tak Pernah Ada: Jejak Janji Simon Nahak yang Kandas
Pesona kedua perempuan ini tidak hanya memikat kamera, tapi juga hati para peserta lain. Salah satu yang turut mengabadikan momen bersama mereka adalah Wakil Bupati Sumba Barat Daya, yang terkesima dengan kekayaan ragam tenun dari daratan Timor.
“Tenunnya luar biasa. Detailnya halus, dan desain gaunnya sangat elegan. Ini cara yang cerdas memperkenalkan budaya daerah,” ungkapnya sambil menyodorkan jempol dan senyum bangga.
Baca Juga: WOW! 94 Persen Desa Di TTU Sudah Bentuk Koperasi Desa Merah Putih
Bagi Kabupaten Malaka, partisipasi dalam Munas VI Apkasi ini bukan sekadar menunjukkan eksistensi di kancah nasional, melainkan juga sebuah pernyataan: bahwa dari sudut tenggara Indonesia, ada warisan budaya yang tak boleh dilupakan, dan ada perempuan-perempuan hebat yang terus menjaga dan mempromosikannya.
Dalam diamnya malam Minahasa, suara kain tenun Malaka menari bersama angin. Ia tidak bersuara, namun berbicara banyak—tentang cinta pada budaya, tentang bangga menjadi bagian dari Indonesia.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
