Tiup Lilin dan Gunting Pita Simon Nahak di RS Pratama Wewiku Membawa Petaka

Screenshot 20250624 142120 WhatsApp 1170453435

RaebesiNews.com – Perayaan meriah yang digelar di halaman Rumah Sakit Pratama Wewiku pada 13 Juni 2024 lalu, kini berubah menjadi simbol ironi. Di hari itu, Bupati Malaka kala itu, Simon Nahak, meniup lilin ulang tahunnya yang ke-62 dan sekaligus menggunting pita sebagai tanda peresmian RS Pratama Wewiku, sebuah momen yang kala itu disambut dengan tepuk tangan dan harapan besar.

Namun, setahun berselang, rumah sakit tersebut justru menyeret nama-nama penting dalam pusaran penyidikan hukum. Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (Kejati NTT) kini resmi menyelidiki proyek pembangunan RS Pratama Wewiku yang ditengarai sarat penyimpangan, mulai dari dugaan markup harga, pengadaan alat, hingga proses pelaksanaan yang tidak melalui tender terbuka.

Baca Juga: 5 Desa di Rinhat Tanpa PAUD Jadi Sorotan dalam Sosialisasi Pokja Bunda PAUD Malaka

PPK dan Mantan Kadis Jadi Target Awal

Menurut sumber internal penegak hukum, penyidik akan lebih dahulu memanggil Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malaka saat proyek tersebut dikerjakan.

“Tidak mungkin dana sebesar itu dikucurkan tanpa koordinasi langsung dengan PPK dan Kadis Kesehatan. Mereka pasti tahu alurnya,” ujar seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Proyek RS Pratama Wewiku memang tidak melalui proses tender terbuka, melainkan menggunakan skema e-katalog yang mempersempit kompetisi dan membuka celah untuk kongkalikong dengan kontraktor tertentu. Sinyal dugaan konspirasi pun menguat ketika Kejati NTT menemukan kejanggalan dalam nilai kontrak yang dianggap “sangat tidak wajar dan di luar nalar”.

Baca Juga: Proyek RS Pratama Wewiku Gunakan E-Katalog, Kejati NTT Duga Ada Konspirasi

Nilai Proyek Fantastis, Harga Tak Masuk Akal

Dari informasi yang dihimpun, nilai proyek pembangunan dan pengadaan fasilitas RS Pratama Wewiku menembus angka puluhan miliar rupiah. Namun, hasil audit sementara menunjukkan indikasi kuat adanya markup harga dalam pengadaan barang dan jasa.

“Kalau ditender terbuka, pasti banyak kontraktor yang berani menawarkan harga kompetitif. Tapi ini pakai sistem e-katalog, dan harga-harganya seperti sudah disetel,” ungkap salah satu penyidik yang terlibat dalam pengusutan kasus ini.

Sumber yang sama juga menyebut bahwa penyidik kini telah mengantongi dokumen penting, termasuk spesifikasi alat medis dan bangunan yang jauh dari standar harga pasar.

Baca Juga: Sosialisasi Wajib Belajar Pra SD Digelar di Weliman, Bunda PAUD Jadi Motor Penggerak

Simon Nahak Bisa Diperiksa?

Meski nama Simon Nahak belum disebut secara resmi oleh Kejati, tekanan publik mulai mengarah ke sana. Sebab, selain menjabat sebagai Bupati kala proyek itu berlangsung, Simon juga tampil dalam seremoni peresmian dengan penuh euforia. lengkap dengan tiup lilin dan potong kue ulang tahun.

Momen itu kini dipandang sebagian kalangan sebagai selebrasi yang pahit.

“Simbol tiup lilin dan gunting pita itu kini berubah menjadi simbol kelam dari proyek yang menyisakan banyak pertanyaan. RS-nya belum optimal, tapi uangnya sudah habis,” ujar seorang aktivis muda dari Kecamatan Wewiku.

Baca Juga: Polemik RS Pratama Wewiku: Simon Nahak Pernah Bilang, Ikan Itu Busuk dari Kepala

Belum Ada Layanan, Rakyat Jadi Korban

Hingga kini, layanan di RS Pratama Wewiku belum berjalan. Beberapa ruang pelayanan masih kosong, alat-alat medis belum seluruhnya berfungsi dan apalagi tenaga kesehatan.

Padahal, rumah sakit ini diharapkan menjadi solusi kesehatan masyarakat di kawasan barat Kabupaten Malaka, yang selama ini harus menempuh jarak jauh ke Betun atau ke Atambua untuk mendapatkan layanan medis layak.

“Yang jadi korban adalah rakyat. Uang rakyat yang digunakan, tapi fasilitasnya tidak sesuai,” tegas seorang tokoh masyarakat dari Desa Motaain.

Penyelidikan masih berjalan. Namun satu hal yang pasti: tiup lilin dan gunting pita yang dulu dirayakan penuh gegap gempita kini berubah menjadi tanda tanya besar. Akankah kasus ini membongkar borok pengelolaan proyek kesehatan di Malaka? Ataukah akan tenggelam seperti banyak kasus lainnya di negeri ini?

Yang jelas, publik menanti. Dan hukum harus berbicara.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version