Kupang –
Keberhasilan PS Malaka U13 dan U15 menembus babak semifinal Piala Soeratin 2026 Zona NTT bukan sekadar pencapaian dalam sebuah turnamen.
Lebih dari itu, hasil tersebut menjadi sinyal bahwa pembinaan sepak bola usia dini di Kabupaten Malaka mulai menunjukkan arah yang benar.
Di tengah euforia masyarakat yang berharap lahirnya gelar juara, Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai Golkar, Agus Nahak, mengajak masyarakat melihat sepak bola dengan perspektif yang lebih luas. Menurutnya, pembinaan sepak bola tidak bisa diukur hanya dari trofi yang diraih dalam satu turnamen.
“Sepak bola Malaka itu bukan mi instan. Tidak bisa langsung jadi begitu saja. Semua membutuhkan proses panjang. Anak-anak harus dibina, dilatih, dibentuk karakter dan mentalnya sebelum menjadi pemain yang matang,” kata Agus Nahak di Kupang, Jumat (10/7/2026).
Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT sekaligus Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Belu itu menilai langkah yang ditempuh Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran (SBS), bersama Wakil Bupati Henri Melki Simu (HMS) dalam membangun pembinaan sepak bola melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan olahraga di Malaka.
Menurutnya, SSB bukan sekadar tempat anak-anak belajar menendang bola. Di sana mereka dibentuk menjadi pemain yang memiliki teknik, disiplin, kerja sama, sportivitas, dan karakter yang kuat.
“Kalau fondasinya dibangun sejak usia dini, maka ketika mereka masuk level senior, mereka sudah memahami filosofi permainan sepak bola modern. Dari situlah akan lahir pemain-pemain yang mampu memperkuat klub profesional, tim Provinsi NTT, bahkan berpeluang tampil di kompetisi nasional,” ujarnya.
Agus menjelaskan bahwa turnamen kelompok umur, seperti Piala Soeratin, bukanlah tujuan akhir pembinaan.
Kompetisi tersebut merupakan ruang belajar bagi pemain muda untuk menguji hasil latihan, menambah pengalaman bertanding, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pelatih dalam mengukur perkembangan setiap pemain.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan gelar juara sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pembinaan.
“Bila masyarakat hanya menargetkan juara di setiap turnamen usia dini, itu cara pandang yang keliru. Sepak bola usia dini adalah proses pendidikan. Hasil memang penting, tetapi bukan tujuan utama. Kalau maunya langsung berhasil, itu seperti mi instan—beli, masak, lalu langsung dimakan. Dalam sepak bola, tidak ada prestasi besar yang lahir tanpa proses,” tegasnya.
Menurut Agus, pembinaan usia dini justru memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan.
Anak-anak belajar membangun mental juara, disiplin, tanggung jawab, kerja sama tim, kemampuan mengambil keputusan, hingga sikap menghargai lawan dan menerima kekalahan.
Nilai-nilai itulah yang nantinya menjadi bekal ketika mereka naik ke level yang lebih tinggi.
Agus juga memberikan apresiasi atas pencapaian PS Malaka U13 dan U15 yang berhasil melaju ke semifinal Piala Soeratin 2026.
Baginya, keberhasilan tersebut merupakan indikator bahwa program pembinaan yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Malaka bersama para pelatih dan pengurus sepak bola mulai membuahkan hasil.
“Masuk semifinal saja sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Ini menunjukkan anak-anak Malaka mampu bersaing dengan daerah lain di NTT. Yang paling penting sekarang adalah menjaga kesinambungan pembinaan agar setiap tahun lahir pemain-pemain baru yang berkualitas,” katanya.
Ia berharap masyarakat terus memberikan dukungan kepada para pemain muda tanpa membebani mereka dengan tuntutan yang berlebihan.
Dukungan moral, kesabaran, dan kepercayaan terhadap proses pembinaan, menurutnya, akan menjadi modal penting bagi lahirnya generasi emas sepak bola Malaka.
Sebab pada akhirnya, prestasi besar tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari latihan yang konsisten, pembinaan yang berkelanjutan, serta komitmen semua pihak untuk menjadikan sepak bola sebagai investasi masa depan daerah.
Semifinal Piala Soeratin 2026 menjadi bukti bahwa benih-benih itu telah mulai tumbuh di Kabupaten Malaka. Kini, tugas seluruh elemen masyarakat adalah menjaga agar proses tersebut terus berlanjut hingga melahirkan pemain-pemain yang mampu mengharumkan nama Malaka, Nusa Tenggara Timur, bahkan Indonesia.
Editor : Boni Atolan
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RaebesiNews.Com
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
